Sunday, February 12, 2017

Tips Keluar Rumah Pas Hujan tapi Engga Punya Payung

Musim di Indonesia memasuki musim hujan terhitung ketika hujan turun dari awan mendung. Cuaca jadi seenak-enaknya gonta ganti, dari yang tadinya panas, beberapa waktu kemudian hujan turun. Mungkin teman-teman juga merasakan hal seperti itu, lagi enak-enaknya jalan kaki sama cewek dicuaca yang cerah eh terus hujan turun, dengan inisiatif ngelindungin cewek dari keujanan biar engga kedinginan, langsung deh main peluk aja. Menang banyak dah.
Musim hujan menyebabkan perkembangan tukang ojek payung online lebih cepat dari biasanya, dan ini dimanfaatkan para pebisnis membuka ojek payung on line. Sehingga mengharuskan kita yang engga punya payung beradaptasi dengan keadaan tersebut, baik dari segi keuangan dan suhu dompet yang kempas kempis. Jika tidak, maka kesehatan dompet dan tubuh kita terganggu dalam beberapa hari kemudian.
Lalu, bagaimana caranya agar kita keluar rumah ketika hujan terus engga punya payung dan engga mau mesen ojek payung on line? Tenang aja, saya akan beri solusinya. Berikut ini 3 tips keluar rumah saat hujan ketika engga punya payung maupun engga mau mesen ojek payung online.
1.      Pinjam Payung Milik Tetangga.
Jika kamu ingin keluar rumah saat hujan tiba, dan kamu engga punya payung, pinjamlah payung milik tetangga. Caranya gimana? Ketika kamu hendak keluar rumah, trus tiba-tiba hujan, maka kamu sempatkan berlari ke rumah tetangga sambil ujan-ujanan. Ketika sampai di rumah tetangga kamu, pinjamlah payungnya. Setelah kamu dapat payungnya, tunggu! Jangan pulang dulu, kamu yang sebagai tamu harusnya minta minum atau makanan dan tak hanya sekedar meminjam payung. Dengan cuaca yang dingin, mintalah dibuatkan teh hangat dan sedikit makanan untuk mengisi perut yang kosong sambil nunggu hujannya reda. Ya kali ada tamu engga disediain minuman sama makanan? Tetangga macam apa itu!
Jika kamu engga dikasih makanan sama minuman hangat, usir tetangganya. Bila perlu bawa pendukung kamu buat ngusir tetangga yang pelit itu. Bila kamu sering nonton sinetron yang isinya rebutan harta dan warisan, pasti kamu bisa. Saya yakin.

2.      Tiup Hujannya Sampai Berhenti
Pas kamu keluar rumah, eh tiba-tiba ujan turun terus kamu engga punya payung, jangan khawatir. Kamu bisa mengusir hujan dengan cara meniupnya. Cara ini ampuh, saya yakin hanya dengan waktu sekitar 15 sampai 60 menit hujannya akan reda.
Kamu hanya tinggal jongkok di teras rumah sambil meniup hujan yang turun pake bibir orang lain ya. Supaya apa? supaya bibir kita engga kebasahan kena air hujan. Caranya gampang, ketika hujan turun kamu berlari ke rumah tetangga kamu terus pinjam dah bibir tetangga kamu, ya kalo tetangga kamu engga mau ngasih bibirnya, suruh tukeran bibir aja sementara sebagai jaminannya.
Jika kamu sudah dapatkan bibir tetangga kamu, kamu tes dulu bibir tetangga kamu dengan menempelkan gelas panas, kalo bibirnya kepanasan berarti asli.
Setelah berhasil dapatkan bibir tetangga, kamu jangan pulang dulu tunggu sampai hujannya reda, supaya kamu engga keujanan untuk yang kedua kalinya.

3.      Tunggu Perintah dari Kerang Ajaib
Kamu suka nonton SpongBob? Sama dund. Dulu juga pas kartunnya masih tayang di tv saya juga sering nonton, tapi pas engga tayang lagi di tv saya jadi engga pernah nonton SpongBob di tv, aneh ya?
Tokoh favorit saya di SpongBob itu si Gerry, tau kan Gerry? Siput peliharaannya si SpongBob itu loh. Oh iya satu lagi, saya juga suka karakternya si Squidwerd, yang ituloh kepalanya botak, kalo pake baju engga pake celana. Tapi aneh ya, otongnya engga keliatan. Saya jadi bingung sama jenis kelaminnya. Ada si Patrick pake celana engga pake baju, tapi yang lebih parah mah si musuhnya tuan Krab tuh, aduh lupa lagi namanya. Oh iya, si Plankton. Dia parah tuh, masa telanjang gitu. Udah gitu cuek aja kemana-mana engga ada rasa malunya.
Temen-temen ada yang tau engga link kartun spongbob episode baru? Kalo ada komen ya, tapi jangan yang gede-gede ukurannya, yang sedeng aja ukurannya. Abis kalo ukurannya gede itu kadang engga muat.


Demikianlah tips keluar dari rumah ketika hujan tapi engga punya payung dari saya, kalo ada yang mau nambahin, silahkan.

Thursday, February 2, 2017

Boy dan Neneng Nonton Bioskop

sekitar jam 4 sore Boy akhirnya bisa jalan bareng sama Neneng. Seperti tujuan Boy semula, dia mengajak Neneng nonton di bioskop @Alamsutera. Keduanya kini sudah sampai di depan pintu masuk gedung bioskop.
“Kamu duluan Neng yang masuk,” kata Boy tersenyum.
“Kamu aja duluan,” balas Neneng.
“Kan ladiesfirst.”
“Kan cowok itu imam.”
“Tapi aku ini Boy bukan Imam.”
“Kamu aja duluan, Boy, kamu kan yang ngajak.”
“Tapi sebelum aku, kamu ya.”
“Ah kamu mah, buat aku malu gini.” Neneng tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Dua puluh tiga tahun sebelas bulan tujuh belas hari kemudian.
“Ya udah deh, aku yang duluan,” kata Boy.
“Aku aja, dimana-mana ladiesfirst.”
“Cowok itu kan imam perempuan, jadi aku duluan.”
“Aku aja deh, Boy, kamu ngalah dong sama cewek.”
“Hmmm, aku aja ya. Kan aku yang ngajak.”
Gitu aja terus jangan masuk-masuk sampe bioskopnya tutup! Setelah melalui diskusi nan panjang, meminta pendapat para fans-fans mereka yang berada di seluruh dunia, serta meminta pendapat para ahli di bidangnya masing-masing. Boy dan Neneng memutuskan untuk masuk bersama-sama.

Permasalahan tak hanya di depan pintu masuk, bagi keduanya yang baru pertama kali nonton film di layar lebar membuat mereka bingung untuk menonton film apa.
“Kamu suka nonton film apa, Neng?”
“Aku suka film yang ada gambarnya, suaranya, tokohnya, alur ceritanya, pokoknya semua unsur-unsur yang ada di film deh.”
“Oh sama dong. Ya udah kita nonton film Niki Setiawan The Movie aja. Itu film keren tau.”
“Wah iya, aku juga suka sama filmnya. Apalagi sama tokoh utamanya, si Niki Setiawan itu. Udah ganteng, aktingnya keren, memukau deh. Kayaknya sih dia calon artis Hollywood.”
 “Aku setuju.”
Niki Setiawan The Movie merupakan film action pertama yang menceritakan tentang keberhasilan penjahat yang diperankan oleh Niki Setiawan menang melawan lima jagoan yang terdiri dari Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhiyan, Chelsea Islan dan Cecep Arif Rahman. Maaf ya om tante ini bukan beneran kok, maaf maaf, jangan gaplok saya jangaaaan! Nah kalo mau tau lebih lanjut jalan ceritanya seperti apa, jangan ditonton.

Akhirnya Boy sama si Neneng sudah masuk ke studio bioskop. Keduanya duduk berdampingan di kursi paling belakang, Neneng ada di sebelah kiri Boy, berarti Boy ada di depan Neneng. Inilah momen yang ditunggu-tunggu Boy, bisa nonton bareng Neneng. Film pun segera diputar, sesaat lampu seisi ruangan berubah jadi gelap.
“Arrgghhhhttt!” Neneng teriak kenceng banget pas lampunya dimatiin, pasti yang baca engga denger ya? Ya iyalah kan dibaca engga di denger.
“Kenapa, Neng?”  Boy menoleh ke si Neng.
“Mati lampu ya, Bang?”
“Wah iya, ah payah nih bioskopnya pasti belom bayar uang bulanan. Padahalkan kita udah bayar beli tiketnya ya, Neng, apa uangnya dikorupsiin? Ah entahlah.”
“Ini mah gimana mau nonton filmnya wong listriknya aja mati, benerkan, Bang?”
“Iya, Neng, bener banget.”
“Di rumah Neneng tuh kalo mati lampu pasti engga bisa nonton tv, Bang.”
“Berarti sama dong kayak di rumah abang, apa kita jodoh?”
“Ah bang Boy bisa aja.” Neneng tersipu malu.

Boy dan Neneng yang kecewa lantaran suasana dalam gedung bioskop mati lampu, berniat untuk keluar. Mereka berdiri dari kursi masing-masing. Belum selangkah kaki mereka berjalan, tiba-tiba keduanya mendengar suara dari dalam gedung.
 “Itu suara apa, Neng?”
Neneng menoleh ke layar. Ia kaget melihat layarnya muncul gambar.
“Boy lihat! Layarnya bergambar!” seru Neneng.
“Wah iya, kalo gitu kita jangan pulang. Disini hebat ya, walau mati lampu tapi filmnya tetep ada.” Boy takjub.

Keduanya kembali duduk di kursi yang mereka tempati tadi. Neneng clingak-clinguk, dia merasa aneh melihat keadaan dalam gedung bisokop. Nonton di bioskop engga kayak nonton di tempat tinggalnya, biasanya banyak orang-orang ngumpul di depan layar, tapi kali ini engga ada seorang pun. Neneng berinisiatif buat ngajak Boy nonton di depan layar.
“Kita nonton di depan layar aja yuk,” ajak Neneng.
“Hmmm, emang dari sini kurang jelas ya, Neng?”
“Ih Neng kalau nonton di kampung kaya begitu, rame-rame di depan layar. Seru tau.”
“Hmmm ya udah deh.”

Rupanya ada seorang cowok yang duduk di sebelah Neneng tak sengaja mendengar pembicaraan tersebut. Sontak saja, hal yang engga biasa di denger dalam bioskop mengundang tawa bagi cowok itu.
“Hahaha hahaha hahaha hohoho huhuhu hahaha hihihi hehehe hahaha hohoho hihihi.”
“Heh, kenapa kamu kok ketawa? Obatnya abis ya?” tanya Boy menoleh ke cowok itu.
“Cewek lo norak ya? Masa nonton di depan layar kayak nonton layar tancep aja.”
“….” Boy cuma diem tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
“Say, aku nonton di depan aja ya, kaya di perumahan aku kalau nonton rame-rame di depan,” kata ceweknya si cowok barusan.
“Cewek kamu juga norak ya? Masa nonton di sini kayak nonton layar tancep aja.” Boy balik nyerang.
“….”

Jadi, Boy sama cowok tadi itu mau engga mau nonton di depan ngikutin ceweknya masing-masing. Duduk di depan layar berasa nonton layar tancep. Si cowok tadi sebut saja namanya Mr Z cuma bisa manyunin bibirnya sambil bilang, “Gini ya resikonya ngajak cewek tapi ketularan sama orang yang belum pernah nonton. Penyakit ini namanya.”
“Yank, pulang yuk,” ucap si Mr Z ngajakin pulang ceweknya.
“Ngapain pulang, Yank? Lagi seru nih filmnya.”
“Malu, Yank, masa nonton di depan layar kayak gini sih?”
“Yank, engga usah malu lagian banyak kok yang nonton di depan, kalau engga percaya lihat aja ke belakang.”
“Busyet dah!” Mr Z kaget pas tengok ke belakang udah banyak orang yang nonton di depan layar juga, bahkan ada yang bawa tikar sama rantang dari rumah.

Semenjak saat itu nonton di depan layar dalam gedung bioskop menjadi trend anak muda masa depan. Banyak gedung bioskop yang mendesign ulang tempat duduk yang bertingkat menjadi ala kadarnya saja dengan balutan hangat selembar tikar, dan agar terlihat natural tak jarang di dalam gedung bioskop ditanami pohon kelapa, beringin atau bunga sakura. Namun penanaman pohon kelapa di dalam gedung bioskop menjadi kontroversi. Hal ini diungkapkan oleh pengamat buah kelapa.
“Jadi menurut saya ya, buah kelapa yang masih muda itu lebih nikmat daripada yang sudah tua. Airnya masih segar, dan kelapanya masih empuk,” kata pengamat buah kelapa saat ditemui sedang makan apel.
Perkataan pengamat buah kelapa dinilai membohongi publik. Bagaimana mungkin seseorang yang katanya pengamat kelapa tapi kok makannya apel? Akhirnya setelah dilakukan penyelidikan, kasus pengamat buah kelapa makan buah apel, ditemukan fakta baru. Sebenarnya pengamat buah kelapa itu adalah gadungan, dia mengaku dirinya pengamat buah kelapa hanya untuk mengalihkan isu yang beredar di masyarakat luas.

Engga cuma itu, makanan yang identik dengan nonton, yaitu popcorn kini sudah tak berlaku. Para pebisnis bioskop menjadikan rantang menjadi ikonik baru dalam makanan yang wajib dibawa saat menonton. Maka engga heran, banyak para penonton di bioskop bibirnya jadi karatan gara-gara makan rantang.