Sunday, February 19, 2017

Coklat dan Ival Vs Pocong, Suster Ngesot, Kuntilanak dan Tuyul

Di cerita sebelumnya, Coklat dan Ival nginep di rumah Kak Okta. Lalu, ketika keduanya tidur. Coklat dan Ival dikejutkan dengan kedatangan seorang pocong. Lengkapnya di sini


Sang pocong kini berdiri di hadapan mereka berdua dengan tatapan seramnya, sementara Coklat dan Ival hanya cengo melihat sang pocong terus melihat mereka. Akhirnya mereka bertiga saling tatap-menatap, dan mereka pun jatuh cinta hidup bahagia selamanya. Lagian mereka itu aneh, bukannya takut terus lari eh malah saling tatap-menatap.
 “Kok kamu berdua engga takut apa sama aku? Kan aku pocong lho.”
“Oh jadi kita harus takut sama kamu gitu ceritanya?” tanya Coklat.
“Iya.” 
“Ya udah, kita takut nih. Aaaa … atuuut … atuuuut … celeeem … celeeem.”
 Mereka berdua pada masang wajah takut di hadapan sang pocong sambil ngegeterin tangannya. Sementara si pocong malah melongo melihat ekspresi mereka yang aneh.
“Udah, kita takut tadi, terus gimana lagi sekarang?” tanya Coklat.
“Kalian berdua kabur, lari kebirit-birit pas aku kejar.”
“Ah engga mau, cape aku kalo pake lari-larian segala, ya engga, Val?”
“Iya, bener banget, plis deh.”
“Aku mau kalian takut loh ngeliat aku.”
“Tadikan udah, gimana sih kamu?” ujar Coklat.

Si pocong mulai merasa kesal dengan tingkah laku orang aneh ini. Ting… ting… ting, si pocong akhirnya punya ide untuk membuat mereka takut. Dia membuat wajahnya seram di hadapan mereka berdua. Pocong itu membalikkan badannya, dan kemudian mengejutkan mereka berdua.
“Waaaaaa!” teriak pocong.
“Bahahahahahahaha wkwkwkwkwk hohohohoho!”
Coklat dan Ival malah ketawa ngakak di hadapan sang pocong. Mereka berdua memegangi perutnya masing-masing yang terkocok saking tak bisa menahan wajah seram sang pocong.
“Hahaha, muka kamu udah jelek, eh dibikin jelek lagi aja, wkwkwkwk.”
“Kocak nih, Val, wkwkwkw. Perut gue sampe mules-mules.”

Si pocong kini malah merasa usahanya itu sia-sia, dia memanyunkan wajahnya. Sementara dikarenakan mereka mulas menahan tawa, akhirnya keluarlah bau kentut yang tak diduga.
“Hmmm bau apa nih?” tanya si pocong.
Sorry-sorry, kita berdua barusan kentut abis engga nahan ngeliat muka kamu, hahaha,” kata Coklat.
“Anjiiirlah!”
Mencium bau kentut yang begitu hebatt baunya, si pocong pun muntah.
“Owwwweee!”
“Wah kamu masuk angin ya? Makanya jangan suka begadang tiap malam, itu engga baik loh buat kesehatan. Ingetkan kata bang haji,” kata Coklat.
“Haduh, gue engga masuk angin, gue cuma engga tahan aja nyium kentut lo itu.”
“Sabar ya,” ujar Ival mengelus-ngelus pundak si pocong.

Si pocong itu lalu duduk di atas kasur dengan wajah tertunduk lesu. Si pocong pun semakin stress dengan keadaan seperti ini. Dia memanyunkan wajahnya terlihat tampak sedih.
“Sabar ya, masih banyak kok yang lebih baik daripada dia,” ucap Coklat yang duduk di sampingnya.
“….” Si pocong hanya diam dengan wajah sedihnya.
“Betewe kamu kok bisa jadi pocong, gimana ceritanya? Terus kamu matinya gimana?”
“Aku mati tuh karena aku ketabrak di daerah sini.”
“Sakit engga pas ketabrak?”
“Ya sakitlah!”
“Ceritain dong kamu matinya gimana?”
“Ah males aku.”
“Yah, kamu mah tega. Kita kan berdua penasaran.”
“Iya deh.”

Dengan terpaksa si pocong menceritakan kronoloagi kematiannya. Tatapan dan wajah Coklat dan Ival terlihat tegang bersiap-siap mendengar sebuah dongeng dari sang pocong. Si pocong dengan kata-katanya mulai bercerita.
“Ya udah aku ceritain nih. Aku itu namanya Dika, Aku itu cowo terpopuler di sekolah dan digemari banyak cewek-cewek, aku itu kurus kayak kalian tapi gantengan aku lah, baik hati dan juga humoris. Pas aku pulang sekolah, aku ditabrak mobil sampai kepala dan kaki aku misah.”
“Oh berarti pas kamu masih hidup kepala sama kaki kamu itu nyambung ya?” tanya Coklat.
“Gimana tuh kok kepala sama kaki kamu bisa nyambung pas masih hidup?” tanya Ival.
 “Huft, aku salah ucap lagi. Ya udah pertanyaan kalian itu engga penting, aku lanjutin lagi ceritanya ya. Nah lewat lagu kenangan yang judulnya semua tentang kita. Lagu itu dinyanyikan salah satu cewek cantik yang juga mahir main gitar sekaligus penggemar berat aku. Dia itu nyanyiin lagu itu sambil lihat video dan photo-photo kita semasa aku masih hidup, tuh sedihkan.”
“Uh ... uh … uh .…”
Coklat dan Ival pun mewek mengeluarkan airmatanya.
“Kamu sedihkan?”
“Bukan, kita berdua engga ngerti jalan ceritanya,” tandas Coklat.
Kasian si pocong, udah cape-cepa cerita sampai mulutnya berbusa. Itu cerita apa emang dia kena ayan ya? Si pocong cemberut aja, wajahnya terpaku melihat lantai berselimutkan rasa sedih. Baru kali ini si pocong penghuni rumah frustasi sama manusia, biasanya dia berhasil kalau urusan takut-menakuti.  

Ketika mereka berdua sedang asyik-asyiknya mengobrol dengan si pocong tiba-tiba lampu kamar ini mengedip-ngedip sendiri. Itu lampu pasti genit deh, engga boleh ngeliat orang cakep. Suasana seram kembali muncul, dari samping lemari yang tak jauh dari tempat mereka duduk terlihat sebuah asap mengepul. Terlihat dari arah itu, seorang wanita memakai baju putih-putih selayaknya seorang suster jalan mengesoti sebuah lantai kamar ini. Dengan tatapan seramnya, dia menatap Ival dan Coklat.
“Eh, Val, tolongin tuh dia engga bisa jalan,” ujar Coklat sambil nunjuk suster ngesot tersebut.
“Eh iya tuh, yuk kita tolongin.”
Mereka berdua bergegas dari kasur dan berjalan menuju suster ngeseot tersebut. Sampainya di samping suster ngesot itu, mereka lalu membangunkannya. Kedua tangan mereka saling memegangi pundak suster ngesot itu dan membawa berjalan ke kasur.
“Aduh … aduh … makanya kamu kalo engga bisa jalan ngomong minta tolong sama kita, pasti kita tolongin kok,” ujar Coklat sambil geleng-geleng kepala.
Pletak! Dengan entengnya Ival menjitak suster ngesot itu. Suster ngesot itu hanya diam habis dijitak sama Ival. Mukanya terlihat mewek sehabis dijitak barusan. Suster ngesot engga berani buat balas perbuatan Ival barusan, karena balas dendam itu engga baik. Mereka pun telah sampai di depan ranjang dan meletakkan suster ngesot itu duduk di atas kasur.
“Udah, kamu udah nyampe kok. Eh eh eh, kamu lupa ya? Kalo habis ditolong sama orang lain itu harus ngucapin apa? Hayo ngucapin apa?” kata Coklat.
“Terimakasih,” jawab si suster ngesot itu.
“Pinteeer.”
“Eh, kamu juga lupa ya kalo ucapin terimakasih itu harus senyum. Senyum dong, senyumnya yang manis yaaa,” ucap Ival menambahkan.
J
“Naaah, kan kalo begitu keliatan cantiknya.”
Weleh-weleh, baru kali ini ada orang yang ikhlas banget tolongin setan, ampun dah. Si suster ngesot itu lalu menoleh ke si pocong dan si pocong hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Merasa aneh dengan keadaan seperti ini, si pocong dan si suster ngesot saling tatap-menatap. Mereka berdua saling curhat tentang siapa kedua orang aneh yang ada di rumah ini.
“Kamu tau siapa mereka?” tanya suster ngesot.
“Aku engga tau, yang jelas sih mereka penghuni baru rumah ini.”
“Penghuni baru aja udah ngeselin, apa lagi kalo mereka lama-lama di sini.”
“Lama-lama di rumah ini? Engga deh, aku lebih baik kabur dari rumah ini.”
“Eh kalian berdua cocok deh kalo pacaran,” kata Coklat yang tiba-tiba ada di belakang mereka.
“Hah?” ucap si pocong dengan tampang melongo.
“Kalian itu serasi, lihat pakaian kalian berdua sama-sama kotor dan bau, terus muka kalian berdua juga engga cakep-cakep amat.”
Coklat-Coklat, orang mah kalau mau muji itu jangan menjatuhkan, eh ini mah malah menjatuhkan, kan kasian mereka.
“Iya, betul kata Coklat, daripada kalian jadi jomblo yang engga laku-laku mending kalian jadian aja deh,” tandas Ival.
“Iuuh sama dia, engga banget deh,” kata si suster ngesot.
“Ih lagian siapa juga yang mau sama kamu.”
“Tuhkan romantis banget deh kalian berdua,” kata Coklat.
Ini orang lagi ribut disangka romantis, aneh orang ini.

Disaat mereka berempat masih ngobrol-ngobrol yang engga jelas, tiba-tiba lampu dalam kamar ini berkedap-kedip kembali, suasana mencekam kembali terasa. Bulu-bulu kuduk mereka berdua berdiri, kali ini ah tapi buat mereka mau bulu kuduknya berdiri atau engga itu sama aja, engga bakal ngaruh.
“Tuh, Val, lampunya udah rusak dari tadi ngedip-ngedip mulu.”
“Iya, mungkin lampunya udah rusak dan mau diganti.”
“Hihihihihi.”
Terdengar suara perempuan tertawa seperti suara kuntilanak.
“Itu suara apa, Coklat?” tanya Ival.
“Itu pasti suara orang gila, udahlah biarin aja nanti juga kalo dia bosen dia bakal diem sendiri ini.”

Merasa dicuekin, kuntilanak itu memanggil mereka berdua. Suaranya terdengar dari belakang mereka.
“Heeey anak manusia.”
“Hey jugaaaa,” kompak Coklat dan Ival.
Saat mereka menoleh ke belakang, mereka seketika terdiam, terkejut melihat ada sosok perempuan berbaju putih dan berambut panjang acak-acakan.
“Hihihihihi.”
“Tuhkan, Val, gua bilang apa. Dia itu orang gila yang ketawa-ketawa sendiri, lihat aja tuh dandannya acak-acakan.”
“Iya, kasian ya dia cakep-cakep kok agak miring gitu.”
“Hah?” kuntilanak melongo.
Disaat si kunti masih melongo, Coklat dan Ival bergegas jalan mendekati si kunti. Tepat di hadapannya, mereka berdua berdiri sambil garuk-garukin kepalanya.
“Kasian ya,” ucap Coklat sambil geleng-geleng kepala.
“Iya, Coklat, lihat aja tuh baju yang dia pake, udah engga layak.”
“Hey kalian seharusnya takut, hihihi.”
“Tuh, Val, obatnya dia habis, buktinya engga ada yang ngelawak dia ketawa sendiri.”
“Iya, Coklat, kasian dia.”
“Hoh?” si kunti melongo.

Akhirnya Coklat dan Ival mengajak kuntilanak itu duduk bareng bersama si pocong dan si suster ngesot. Mereka bertiga hanya tertunduk saat diceramahi oleh Coklat dan Ival. Wajah mereka seakan bersalah dengan apa yang terjadi kali ini.
“Kalian ini mau jadi apa sih? Lihat tampilan kalian, semuanya pada engga rapih, engga meching sama gaya anak muda sekarang, tolonglah rapihkan dikit penampian kalian,” ujar Coklat sok bijak.
“Iyaaa,” jawab serentak ketiga hantu tersebut.
“Ivaaal! Tolong ambilkan gunting rambut di lemari sama bedaknya juga ya.”
“Ok!”
Wah mereka berdua pada mau ngapain persiapin gunting rambut sama bedak?  Bakal kacau nih suasana.

Gunting rambut kini sudah ada di tangan Coklat dan sebuah bedak bungkus sudah ada di tangan Ival. Kira-kira mereka mau apa ya bawa gunting sama bedak segala? Melihat kedua orang aneh itu membawa gunting dan bedak membuat para ketiga hantu itu deg-degan, jantung mereka berdetak sekencang-kencang. Deg… deg… deg… deg…deg… tak… tak… tak… bught… bught… bught… itu suara jantung apa suara bedug masjid?
“Kalian semua sudah siapkan?” tanya Coklat.
“Emang kita-kita mau diapain?” tanya si pocong.
“Kita mau buat kalian-kalian semua menjadi kece … kecebong.”
Ketika Coklat dan Ival ingin mempermak penampilan para hantu itu, tiba-tiba terdengar suara gresek-gresek dari arah lemari kamar ini. Mendengar suara tersebut, Coklat dan Ival lalu menoleh ke arah lemari di belakangnya. Terlihat makhluk berubuh kecil dan imut, berkepala botak dan tidak ditumbuhi rambut, makhluk itu juga tidak memakai baju dan hanya memakai celana saja, makhluk itu adalah two you el. Tuyul itu sedang mencuri uang dari lemari itu. Coklat dan Ival lalu bergegas mendekati tuyul itu, tanpa ampun mereka berdua langsung saja menjewet telinganya.
“Adaw! Adaw! Ampuuun!”
“Nakal kamu ya, kecil-kecil udah jadi pencuri, mau jadi apa kamu besar nanti? Kan kasian orangtua kamu,” ujar Coklat.
“Gimana kalo kita bawa ke kantor polisi aja, Coklat?”
“Eh jangan, aku engga mau kalo tinggal dipenjara lagian juga kan aku nyurinya dikit kok, engga bermiliar-miliaran.”
“Tetap aja kamu itu pencuri,” ujar Coklat.
“Iya deh, aku tobat engga nyuri lagi.”
“Tuhkan, kamu ini masih kecil kok malam-malam engga pake baju, emang engga dingin apa?” tanya Coklat.
“Udah biasa, Om.”
“Om am om am, emang saya om kamu. Ya udah ikut saya, ya.”
Akhirnya si tuyul itu pun duduk bersama hantu-hantu yang sudah terjaring razia malam ini. Mereka berempat terlihat manyun dengan keadaan aneh yang seperti ini.

Kembali, mereka bersiap kembali melakukan niat mereka untuk mempermak para hantu ini agar menjadi lebih modis. Dimulai dari si pocong. Kini si pocong duduk di sebuah kursi yang menghadap ke cermin.
“Kamu udah siap, Cong?” tanya Coklat.
“Iya siap,” kata pocong pasrah.
Sreeeet… sreeeet… dengan tangan mereka yang sudah ahli dalam bidang salon-menyalon, mereka mengubah gaya tampilan si pocong lebih modis. Si pocong kini sudah memakai baju batik dan wajahnya terlihat tampan seperti Bred Pit.
“Nah gimana?” tanya Ival.
“Keren … thanks ya,” ucap si pocong sambil bercermin.
“Oke, sama-sama. Selanjutnya kamu,” ujar Coklat sambil menunjuk suster ngesot.
Sreeeet… sreeet… tangan mereka kini lebih cepat dari yang tadi. Ketika usai mempermak si suster, si suster tampil lebih ceria dan lebih imut dari yang tadi. Wajahnya mirip April Lepin.
“Wah, its ok. Aku cantik deh malam ini.”      
“Sama-sama. Selanjutnya, Kunti.”
Sreeet… sreeet… kali ini si kunti yang tampil cantik seusai dipermak oleh mereka. Wajahnya terlihat seperti Taylor Swip.
“Aku cantik ya mirip penyanyi.” Senyum si kunti.
“Sama-sama. Selanjutnya, Yul.”
Nah sekarang giliran si tuyul. Coklat yang memegangi gunting rambut hanya diam sambil melihat kepalanya si tuyul, dia menggaruk-garukkan kepalanya.
“Kamu mau digunting gaya apa?”
“Emo, Bang, bisakan?”
“Kan situ botak?”
“Oh iya, saya lupa, Bang.”
“Kepala kamu, aku amplas aja ya biar makin kinclong.”
“Eh busyet! Ya udah engga apa-apa.”
Haduh, itu orang main amplas aja, emang dia kira apaan? Ya udah deh engga apa-apa terserah mereka aja. Dan engga butuh waktu lama, akhirnya si tuyul sudah dipermak, lihat saja kepalanya masih tetap botak. Sesudah dipermak, para setan itu pun mengucapkan termakasih banyak kepada Coklat dan Ival karena telah berjasa dalam kehidupan mereka.
“Lain kali mampir lagi ya ke sini,” ucap Coklat.
“Ah engga ah, kalo masih ada kalian berdua,” jawab si pocong.
Mereka pun meninggalkan rumah ini, ya mereka tidak lagi mengganggu-ganggu si penghuni rumah malahan mereka lebih suka mejeng di taman atau di mall sambil cari gebetan baru. Setelah itu Coklat dan Ival kembali tidur dengan tenang dan nyenyak.

Sementara empat hantu itu kini duduk-duduk di taman sambil merenungi apa yang sudah terjadi malam itu. Dan ternyata keempat hantu itu adalah orang-orang suruhan dari orang yang mengaku sebagai cowoknya Bu Riny.
“Haduh, kapok gue dah,” ucap orang yang berperan sebagai pocong.
“Iya tuh orang rese banget, pantes aja si bos engga mau ngelakuin ini,” ucap orang yang berperan sebagai kuntilanak.
“Gue kalo disuruh kayak semalam engga bakal mau …,” kata orang yang jadi suster ngesot.
“Hah! Kalian hantu boongan?” tanya si tuyul.
“Iyalah!” serentak mereka bertiga.
“Hah oraaaaaaang!” Si tuyul pun kabur.

***
Lalu bagaimana mereka berempat bisa sampai di rumah Okta? Beginilah ceritanya. Ketika  mereka mendengar kabar bahwa Coklat dan Ival ketinggalan rombongan di kampus itu, seorang yang ngaku-ngkau cowoknya Bu Riny diam-diam mendekati Okta di kantin kampus.
Hy, cewek, apa kabar?”
“Mau apa lo? Gombalin gue, ya?”
“Bukan, di sini gue pengen ngajak kerja sama sama lo, dan tentunya lo bakal dapat duit.”
“Hah duit! Mana mana mana?”
Aduh matanya langsung ijo kalo denger duit. Si cowok yang ngaku-ngaku cowoknya Bu Rini lalu menceritakan tentang sebuah perangkap yang sudah dia rencanakan. Yang intinya itu menakut-nakuti Coklat dan Ival.
“Nah jadi temen gue tuh bertiga nyamar jadi setan buat nakut-nakutin si Coklat sama si Ival, tenang aja gue bayar kok, yang penting lo mau ngajak mereka nginep di rumah lo, gimana?”
“Tapi lo engga bakal ngapa-ngapain gue kan?”
“Ya enggaklah, mana mungkin gue tertarik sama lo.”
“Baguslah, gue juga engga tertarik sama lo. Oh iya, mana duitnya?”
“Tapi lo setujukan?”
“Setuju banget.”
Dan cowok yang ngaku sebagai pacarnya Bu Riny itu pun langsung mengeluarkan sebuah amplop yang berisi uang seratus juta dollar.
“Terus kalo mereka berdua kenapa-kenapa gimana?” tanya Okta yang rupanya juga khawatir.
“Tenang kalo itu gue yang nanggung.”
Oh ternyata begitu rupanya, pantes aja Kak Okta setuju kalo mereka berdua nginep di rumahnya. Jahat!




Sunday, February 12, 2017

Tips Keluar Rumah Pas Hujan tapi Engga Punya Payung

Musim di Indonesia memasuki musim hujan terhitung ketika hujan turun dari awan mendung. Cuaca jadi seenak-enaknya gonta ganti, dari yang tadinya panas, beberapa waktu kemudian hujan turun. Mungkin teman-teman juga merasakan hal seperti itu, lagi enak-enaknya jalan kaki sama cewek dicuaca yang cerah eh terus hujan turun, dengan inisiatif ngelindungin cewek dari keujanan biar engga kedinginan, langsung deh main peluk aja. Menang banyak dah.
Musim hujan menyebabkan perkembangan tukang ojek payung online lebih cepat dari biasanya, dan ini dimanfaatkan para pebisnis membuka ojek payung on line. Sehingga mengharuskan kita yang engga punya payung beradaptasi dengan keadaan tersebut, baik dari segi keuangan dan suhu dompet yang kempas kempis. Jika tidak, maka kesehatan dompet dan tubuh kita terganggu dalam beberapa hari kemudian.
Lalu, bagaimana caranya agar kita keluar rumah ketika hujan terus engga punya payung dan engga mau mesen ojek payung on line? Tenang aja, saya akan beri solusinya. Berikut ini 3 tips keluar rumah saat hujan ketika engga punya payung maupun engga mau mesen ojek payung online.
1.      Pinjam Payung Milik Tetangga.
Jika kamu ingin keluar rumah saat hujan tiba, dan kamu engga punya payung, pinjamlah payung milik tetangga. Caranya gimana? Ketika kamu hendak keluar rumah, trus tiba-tiba hujan, maka kamu sempatkan berlari ke rumah tetangga sambil ujan-ujanan. Ketika sampai di rumah tetangga kamu, pinjamlah payungnya. Setelah kamu dapat payungnya, tunggu! Jangan pulang dulu, kamu yang sebagai tamu harusnya minta minum atau makanan dan tak hanya sekedar meminjam payung. Dengan cuaca yang dingin, mintalah dibuatkan teh hangat dan sedikit makanan untuk mengisi perut yang kosong sambil nunggu hujannya reda. Ya kali ada tamu engga disediain minuman sama makanan? Tetangga macam apa itu!
Jika kamu engga dikasih makanan sama minuman hangat, usir tetangganya. Bila perlu bawa pendukung kamu buat ngusir tetangga yang pelit itu. Bila kamu sering nonton sinetron yang isinya rebutan harta dan warisan, pasti kamu bisa. Saya yakin.

2.      Tiup Hujannya Sampai Berhenti
Pas kamu keluar rumah, eh tiba-tiba ujan turun terus kamu engga punya payung, jangan khawatir. Kamu bisa mengusir hujan dengan cara meniupnya. Cara ini ampuh, saya yakin hanya dengan waktu sekitar 15 sampai 60 menit hujannya akan reda.
Kamu hanya tinggal jongkok di teras rumah sambil meniup hujan yang turun pake bibir orang lain ya. Supaya apa? supaya bibir kita engga kebasahan kena air hujan. Caranya gampang, ketika hujan turun kamu berlari ke rumah tetangga kamu terus pinjam dah bibir tetangga kamu, ya kalo tetangga kamu engga mau ngasih bibirnya, suruh tukeran bibir aja sementara sebagai jaminannya.
Jika kamu sudah dapatkan bibir tetangga kamu, kamu tes dulu bibir tetangga kamu dengan menempelkan gelas panas, kalo bibirnya kepanasan berarti asli.
Setelah berhasil dapatkan bibir tetangga, kamu jangan pulang dulu tunggu sampai hujannya reda, supaya kamu engga keujanan untuk yang kedua kalinya.

3.      Tunggu Perintah dari Kerang Ajaib
Kamu suka nonton SpongBob? Sama dund. Dulu juga pas kartunnya masih tayang di tv saya juga sering nonton, tapi pas engga tayang lagi di tv saya jadi engga pernah nonton SpongBob di tv, aneh ya?
Tokoh favorit saya di SpongBob itu si Gerry, tau kan Gerry? Siput peliharaannya si SpongBob itu loh. Oh iya satu lagi, saya juga suka karakternya si Squidwerd, yang ituloh kepalanya botak, kalo pake baju engga pake celana. Tapi aneh ya, otongnya engga keliatan. Saya jadi bingung sama jenis kelaminnya. Ada si Patrick pake celana engga pake baju, tapi yang lebih parah mah si musuhnya tuan Krab tuh, aduh lupa lagi namanya. Oh iya, si Plankton. Dia parah tuh, masa telanjang gitu. Udah gitu cuek aja kemana-mana engga ada rasa malunya.
Temen-temen ada yang tau engga link kartun spongbob episode baru? Kalo ada komen ya, tapi jangan yang gede-gede ukurannya, yang sedeng aja ukurannya. Abis kalo ukurannya gede itu kadang engga muat.


Demikianlah tips keluar dari rumah ketika hujan tapi engga punya payung dari saya, kalo ada yang mau nambahin, silahkan.

Thursday, February 2, 2017

Boy dan Neneng Nonton Bioskop

sekitar jam 4 sore Boy akhirnya bisa jalan bareng sama Neneng. Seperti tujuan Boy semula, dia mengajak Neneng nonton di bioskop @Alamsutera. Keduanya kini sudah sampai di depan pintu masuk gedung bioskop.
“Kamu duluan Neng yang masuk,” kata Boy tersenyum.
“Kamu aja duluan,” balas Neneng.
“Kan ladiesfirst.”
“Kan cowok itu imam.”
“Tapi aku ini Boy bukan Imam.”
“Kamu aja duluan, Boy, kamu kan yang ngajak.”
“Tapi sebelum aku, kamu ya.”
“Ah kamu mah, buat aku malu gini.” Neneng tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Dua puluh tiga tahun sebelas bulan tujuh belas hari kemudian.
“Ya udah deh, aku yang duluan,” kata Boy.
“Aku aja, dimana-mana ladiesfirst.”
“Cowok itu kan imam perempuan, jadi aku duluan.”
“Aku aja deh, Boy, kamu ngalah dong sama cewek.”
“Hmmm, aku aja ya. Kan aku yang ngajak.”
Gitu aja terus jangan masuk-masuk sampe bioskopnya tutup! Setelah melalui diskusi nan panjang, meminta pendapat para fans-fans mereka yang berada di seluruh dunia, serta meminta pendapat para ahli di bidangnya masing-masing. Boy dan Neneng memutuskan untuk masuk bersama-sama.

Permasalahan tak hanya di depan pintu masuk, bagi keduanya yang baru pertama kali nonton film di layar lebar membuat mereka bingung untuk menonton film apa.
“Kamu suka nonton film apa, Neng?”
“Aku suka film yang ada gambarnya, suaranya, tokohnya, alur ceritanya, pokoknya semua unsur-unsur yang ada di film deh.”
“Oh sama dong. Ya udah kita nonton film Niki Setiawan The Movie aja. Itu film keren tau.”
“Wah iya, aku juga suka sama filmnya. Apalagi sama tokoh utamanya, si Niki Setiawan itu. Udah ganteng, aktingnya keren, memukau deh. Kayaknya sih dia calon artis Hollywood.”
 “Aku setuju.”
Niki Setiawan The Movie merupakan film action pertama yang menceritakan tentang keberhasilan penjahat yang diperankan oleh Niki Setiawan menang melawan lima jagoan yang terdiri dari Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhiyan, Chelsea Islan dan Cecep Arif Rahman. Maaf ya om tante ini bukan beneran kok, maaf maaf, jangan gaplok saya jangaaaan! Nah kalo mau tau lebih lanjut jalan ceritanya seperti apa, jangan ditonton.

Akhirnya Boy sama si Neneng sudah masuk ke studio bioskop. Keduanya duduk berdampingan di kursi paling belakang, Neneng ada di sebelah kiri Boy, berarti Boy ada di depan Neneng. Inilah momen yang ditunggu-tunggu Boy, bisa nonton bareng Neneng. Film pun segera diputar, sesaat lampu seisi ruangan berubah jadi gelap.
“Arrgghhhhttt!” Neneng teriak kenceng banget pas lampunya dimatiin, pasti yang baca engga denger ya? Ya iyalah kan dibaca engga di denger.
“Kenapa, Neng?”  Boy menoleh ke si Neng.
“Mati lampu ya, Bang?”
“Wah iya, ah payah nih bioskopnya pasti belom bayar uang bulanan. Padahalkan kita udah bayar beli tiketnya ya, Neng, apa uangnya dikorupsiin? Ah entahlah.”
“Ini mah gimana mau nonton filmnya wong listriknya aja mati, benerkan, Bang?”
“Iya, Neng, bener banget.”
“Di rumah Neneng tuh kalo mati lampu pasti engga bisa nonton tv, Bang.”
“Berarti sama dong kayak di rumah abang, apa kita jodoh?”
“Ah bang Boy bisa aja.” Neneng tersipu malu.

Boy dan Neneng yang kecewa lantaran suasana dalam gedung bioskop mati lampu, berniat untuk keluar. Mereka berdiri dari kursi masing-masing. Belum selangkah kaki mereka berjalan, tiba-tiba keduanya mendengar suara dari dalam gedung.
 “Itu suara apa, Neng?”
Neneng menoleh ke layar. Ia kaget melihat layarnya muncul gambar.
“Boy lihat! Layarnya bergambar!” seru Neneng.
“Wah iya, kalo gitu kita jangan pulang. Disini hebat ya, walau mati lampu tapi filmnya tetep ada.” Boy takjub.

Keduanya kembali duduk di kursi yang mereka tempati tadi. Neneng clingak-clinguk, dia merasa aneh melihat keadaan dalam gedung bisokop. Nonton di bioskop engga kayak nonton di tempat tinggalnya, biasanya banyak orang-orang ngumpul di depan layar, tapi kali ini engga ada seorang pun. Neneng berinisiatif buat ngajak Boy nonton di depan layar.
“Kita nonton di depan layar aja yuk,” ajak Neneng.
“Hmmm, emang dari sini kurang jelas ya, Neng?”
“Ih Neng kalau nonton di kampung kaya begitu, rame-rame di depan layar. Seru tau.”
“Hmmm ya udah deh.”

Rupanya ada seorang cowok yang duduk di sebelah Neneng tak sengaja mendengar pembicaraan tersebut. Sontak saja, hal yang engga biasa di denger dalam bioskop mengundang tawa bagi cowok itu.
“Hahaha hahaha hahaha hohoho huhuhu hahaha hihihi hehehe hahaha hohoho hihihi.”
“Heh, kenapa kamu kok ketawa? Obatnya abis ya?” tanya Boy menoleh ke cowok itu.
“Cewek lo norak ya? Masa nonton di depan layar kayak nonton layar tancep aja.”
“….” Boy cuma diem tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
“Say, aku nonton di depan aja ya, kaya di perumahan aku kalau nonton rame-rame di depan,” kata ceweknya si cowok barusan.
“Cewek kamu juga norak ya? Masa nonton di sini kayak nonton layar tancep aja.” Boy balik nyerang.
“….”

Jadi, Boy sama cowok tadi itu mau engga mau nonton di depan ngikutin ceweknya masing-masing. Duduk di depan layar berasa nonton layar tancep. Si cowok tadi sebut saja namanya Mr Z cuma bisa manyunin bibirnya sambil bilang, “Gini ya resikonya ngajak cewek tapi ketularan sama orang yang belum pernah nonton. Penyakit ini namanya.”
“Yank, pulang yuk,” ucap si Mr Z ngajakin pulang ceweknya.
“Ngapain pulang, Yank? Lagi seru nih filmnya.”
“Malu, Yank, masa nonton di depan layar kayak gini sih?”
“Yank, engga usah malu lagian banyak kok yang nonton di depan, kalau engga percaya lihat aja ke belakang.”
“Busyet dah!” Mr Z kaget pas tengok ke belakang udah banyak orang yang nonton di depan layar juga, bahkan ada yang bawa tikar sama rantang dari rumah.

Semenjak saat itu nonton di depan layar dalam gedung bioskop menjadi trend anak muda masa depan. Banyak gedung bioskop yang mendesign ulang tempat duduk yang bertingkat menjadi ala kadarnya saja dengan balutan hangat selembar tikar, dan agar terlihat natural tak jarang di dalam gedung bioskop ditanami pohon kelapa, beringin atau bunga sakura. Namun penanaman pohon kelapa di dalam gedung bioskop menjadi kontroversi. Hal ini diungkapkan oleh pengamat buah kelapa.
“Jadi menurut saya ya, buah kelapa yang masih muda itu lebih nikmat daripada yang sudah tua. Airnya masih segar, dan kelapanya masih empuk,” kata pengamat buah kelapa saat ditemui sedang makan apel.
Perkataan pengamat buah kelapa dinilai membohongi publik. Bagaimana mungkin seseorang yang katanya pengamat kelapa tapi kok makannya apel? Akhirnya setelah dilakukan penyelidikan, kasus pengamat buah kelapa makan buah apel, ditemukan fakta baru. Sebenarnya pengamat buah kelapa itu adalah gadungan, dia mengaku dirinya pengamat buah kelapa hanya untuk mengalihkan isu yang beredar di masyarakat luas.

Engga cuma itu, makanan yang identik dengan nonton, yaitu popcorn kini sudah tak berlaku. Para pebisnis bioskop menjadikan rantang menjadi ikonik baru dalam makanan yang wajib dibawa saat menonton. Maka engga heran, banyak para penonton di bioskop bibirnya jadi karatan gara-gara makan rantang.