Tuesday, January 17, 2017

Komikin Aja

Hallo selamat malam penduduk muka bumi yang masih idup? Gimana hari ini masih napas kan?
Malam ini, saya bingung loh kenapa tiang listrik kalo dipoto engga pernah senyum? Saya juga bingung kenapa bingung itu harus ada?

Saya pun terjebak dalam sebuah kebingungan, akhirnya saya iseng-iseng bukan akun fb sendiri, tiba-tiba saya dikejutkan oleh sebuah gambar buatan fans saya.
  

Nah gimana? Apakah kalian ada yang mau jual pulsanya sama saya?


Selang beberapa hari kemudian, saya dikejutkan lagi dengan gambar buatan fans saya

Nah gimana? Apa kalian mau bogem saya juga? Boleh atuh.

Karya di atas itu adalah buatan salah satu fans saya, dan dia adalah satu-satunya fans saya di dunia ini. Sebagai fans satu-satunya, tentunya dia sudah tau tentang saya. Mulai jam berapa saya bangun, menyiapkan saya kopi di pagi hari, menyiapkan sarapan untuk saya, kapan ada pertemuan dengan klien dsb.
  
Lalu siapakah fans saya itu?  Tenang saja fans saya itu bukan Rey atau pun Agia. Jadi kalian aman.
Perkenalkan namanya Rendy, ini foto dia saat masih belum terawat

Dia yang kanan
hmmm mengingatkan aku akan seseorang
seorang vokalis
Dan ini foto yang sekarang sudah terawat
kalo engga kuat
muntah aja engga apa-apa kok
Gimana tampangnya? Sama kan, ya cuma beda model rambut doang. Dia udah tobat engga mau pake model gaya rambut kayak dulu lagi, takut banyak orang yang mengira dia itu vokalis.

Dibalik tampangnya yang seperti itu, dia itu masih jomlo loh. Nah buat para cewek-cewek di luar (angkasa) sana yang mau sama dia, silahkan. Ya terserah kalian mau apain dia, mau nabok dia, nabrakin dia pake mobil, jorokin dia ke jurang, atau kasih dia racun, saya engga apa-apa kok. Dia mah pasrah aja orangnya.

Terimakasih Rendy, sebagai idolamu, saya merasa tersanjung. Saya nantikan karya-karya Anda berikutnya. Mmmmuuuaachhh



Thursday, January 5, 2017

Coklat : Sebuah Rumah Angker

Di cerita sebelumnya, ada bokapnya Coklat yang genit sama Bu Riny. Selebihnya disini
Lalu bagaimanakah keadaan Coklat dan Ival setelah ditinggal di kampus sama teman-temannya?
Biar engga penasaran, ini lanjutannya.

Dengan terpaksa dan tampang kusutnya, Okta mengajak dua anak itu ke rumahnnya. Malam pun tiba, mereka sudah sampai di depan pintu kediaman Okta. Di rumah yang sangat mewah alias tidak mepet sawah, kenapa tidak mepet sawah? Karena sawahnya sudah habis digusur dan dijadikan rumah mewah. Di sekeliling rumah Okta suasana terasa sepi dan menyeramkan, banyak sekali pohon-pohon besar di samping kiri dan kanannya. Rumah Okta yang dihuni oleh ayah dan ibunya Okta ini bisa dibilang angker. Setiap malam tiba pasti ada saja mahkluk halus seperti pocong, suster ngesot dan kuntilanak menampakkan diri. Bulu kuduk mereka bertiga tiba-tiba berdiri.
“Ihhh aku kok merinding, Kak?” tanya Coklat.
“Iya, aku juga sama.”
“Kalian harus waspada di rumah ini soalnya setiap malam suka ada penampakan tapi kalian sih yang mau nginep di rumah kakak, jadi jangan salahkan kakak ya.”
“Penampakan apa, Kak?” tanya Coklat.
“Penampakan hantuuu .…”

Wajah Coklat dan Ival langsung datar, mereka takut dengan keadaan yang Okta ceritakan barusan. Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah yang teramat besar bagi mereka. Bahkan dari kamar Okta menuju kamar mandinya itu ditempuh dengan menggunakan mobil, jauh banget kan. Saat mereka berjalan di dalam rumah terlihat ayah Okta sedang duduk-duduk membaca buku. Ayah Okta yang gemuk, berkumis dan berjenggot sudah itu botak pula.
“Okta, mereka siapa?”
“Oh itu jadi penampakannya! Sereeeem!” teriak Coklat sambil nunjuk ke arah ayah Okta.
“Bukan, dia itu ayah aku.”
“Oh, selamet deh,” kata Coklat sambil mengusap keningnya.
“Ini yah, ini anak SMA yang ke kampus aku tadi, terus mereka ketinggalan di kampus.”
“Oh, kenapa bisa ketinggalan?”
“Katanya sih mereka abis dari toilet, Yah.”
“Oh, kenapa dari toilet?’
“Mungkin abis buang air, Yah.”
“Oh, kenapa buang air?”
“Kebelet kali mereka,”  jawab kak Okta sambil manyunin mukanya.
“Oh, kenapa kebelet?”
Lama-kelamaan ditanya kenapa, muka Okta udah manyun aja di hadapan ayahnya. Hatinya kembali gedek sama orang-orang yang dia kenal.
“Au ah.”

Setelah masuk ke rumahnya, Okta mengajak mereka berdua ke dalam satu kamar. Ya kamar ini sudah lama tak dihuni oelh penghuni rumah. Kamarnya masih terlihat rapih dan bersih namun suasana mencekam begitu terasa di dalamnya.
“Ini kamar buat kalian berdua.”
“Jadi boleh dibawa pulang ya, Kak?” tanya Ival.
“Ini kamar, bukan barang yang bisa dibawa-bawa.”
“Pelit amat.”
“Bawa pulang kalau kamu bisa mah!”
“Kakak marah nih.”
“Ya udah, kakak mau tidur dulu, jangan ganggu kakak.”
“Kak, aku cuma mau ngingetin doang.”
“Apa?”
“Kalo tidur jangan lupa merem.”
“Iyaaaaaaaa!”

Seusai kak Okta meninggalkan mereka. Mereka berdua berlari dan melompat ke atas kasur yang sudah tersedia. Lagi-lagi mereka kayak anak kecil yang baru pertama kali melihat kasur, haduh. Mereka berdua duduk di atas kasur, wajah mereka sumringah dengan keadaan seperti ini. Lampu kamar ini mereka nyalakan terlebih dahulu dan ajaibnya ketika lampu kamar itu menyala suasana pun terlihat terang.
“Horeee teraaang,” serentak mereka berdua.
Setelah lampu itu menyala kemudian mereka mematikan lampu itu kembali. Et dah buat apa sih udah dinyalain terus dimatiin lagi, kurang kerjaan banget. Hawa kantuk mulai terasa menghinggapi mereka berdua.
“Hoooamm, ngantuk ya,” ucap Coklat.
“Hooooam, iya nih. Tidur yuk,” sahut Ival.
“Yuk.”

Dan mereka pun memejamkan mata, menikmati waktu istirahat malam ini. Tiba-tiba saja di pertengahan malam, Coklat terbangun. Sejenak dia terdiam melihat sosok putih di hadapannya. Pasti kurang eh karung? Ternyata bukan. Hmm pasti kertas? Bukan juga. Hmm pasti nyerah semua nih? ya betul. Sosok di hadapan Coklat itu adalah pocong.
“Aaa .…”
Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulut Coklat, pasti dia takut dengan apa yang dia lihat.
“Aaa … aaanu… gue lupa lagi nama setan yang ada di hadapan gue ini,” ucap Coklat sendirian.
Et dah sama jenis setan kayak gini aja dia lupa, kasian Coklat wawasannya tentang hantu masih kurang. Mendengar hal itu si pocong juga diam melongo.
“Sebentar ya tunggu, gue bangunin temen gue dulu buat nyari tau jenis setan apa yang ada di hadapan gua. Kalo soal teriak ketakutan dipending aja dulu ya.”
Entahlah, karena merasa dicuekin dan merasa tak takut dengan kehadirannya, si pocong pasang muka sedih di hadapan Coklat, tapi dicuekin gitu aja. Akhirnya si pocong rela menunggu Coklat membangunkan temannya itu.
“Val … bangun, Val .…”
Ival tetap tertidur pulas dan tak bangun.
“Val … wooy bangun kenapa!” teriak Coklat.
Berkali-kali Coklat mencoba membangunkan Ival dan berkali-kali juga usahanya gagal.
“Temen gue engga bangun, hmmm gimana kalo kamu yang bangunin dia. Nanti kan dia kejer tuh, teriak ketakutan, ya ya?” Coklat menaikkan alis matanya.
Akhirnya si pocong menganggukkan kepalanya dan dia bersedia membangunkan Ival.

Pocong itu pun menuruti apa kata Coklat. Dengan tampangnya yang seram, dia menghadapkan wajahnya tepat di depan wajah Ival. Sang pocong itu pun lalu meniup-niupkan bau mulutnya ke hidung Ival. Merasa ada bau yang aneh, Ival pun terbangun. Dia perlahan-lahan membuka matanya, dan sekejap saja Ival terdiam tanpa kata melihat sosok pocong di hadapannya.
“Hehehe.” senyum sang pocong.
Plak! Tanpa sengaja, Ival memukul wajah si pocong dengan tangannya.
“Aduw!”
“Ngapain lo ngagetin gue?! Untung gue engga jantungan! Coba kalo jantungan, lo mau tanggung jawaaab‼” teriak Ival.
Sang pocong pun hanya bisa memanyunkan wajahnya, menahan sakitnya tamparan yang diberikan Ival.

Lalu apakah si pocong akan menyerah dengan tingkah laku Coklat dan Ival? Apakah dia akan memanggil teman-teman seperjuangannya? Hmmm... tunggu aja deh