Monday, August 14, 2017

Cara Membuat Api Rebus dan Api Goreng, Dijamin Enak Banget

Holla semua, apa kabar nih? masih pada waras kan? yah kenapa mesti waras, harusnya jadi gila dong.
Ok tapi saya engga maksa kok.
Hmm, sebentar lagi 17 agustusan nih. Kalo boleh tau, di daerah kalian 17 Agustus jatuh pada tanggal berapa? Boleh tau engga?
Kalo di daerah saya sih 17 Agustus ya tepat pada tanggal 17 Agustus, lah udah tau 17 Agustus malah nanya tanggal, kan geblek yang nanya, hadeh-hadeh.

Ngomongin 17 agustusan, gimana kalo kita bahas kuliner. Jarang-jarang loh bahkan hampir engga pernah yang punya blog ini bahas soal makanan. Soal makanan, apa sih makanan kesukaan kalian? Kalo saya sih sukanya makan nasi, dari kecil sekitar umur 4-5 tahun sampe sekarang saya masih suka makan nasi, jadi nasi adalah makanan favorit saya. Walau nasinya itu rasanya seperti rasa nasi pada umumnya, saya tetep aja engga bosen makan makanan yang satu ini.

Nah, biasanya kan orang kalo makan nasi itu dicampur lauk-paku. Sekarang saya mau bahas soal makanan yang bisa kamu makan sebagai pengisi kekosongan perut selain nasi, dijamin dah kamu ketagihan setelah mencobanya.

Kamu tau jenis mie berdasarkan cara masaknya? Berdasarkan cara masaknya, mie dibedakan menjadi dua, yaitu mie rebus dan mie goreng, catet nih siapa tau pas ujian keluar.
Mie rebus adalah mie yang dibuat dengan cara direbus sementara mie goreng adalah mie yang dibuat dengan cara digoreng, tapi aneh loh kalo beli mie instan yang mie goreng, masa mienya direbus juga. Anehkan?


Saya tidak akan membahas tentang mie di sini. Baru-baru ini saya mendapat resep baru, yaitu api rebus dan api goreng. Kenapa saya namakan seperti itu, agar makanan ini dapat diterima di kalangan pecinta makanan seperti mie yang sudah menjadi makanan sejuta umat saat lauk paku mahal harganya.

Api Rebus
Cara membuat api rebus ini hampir sama seperti membuat mie rebus, hanya bahannya sajalah yang beda. Jika membuat mie rebus kalian membutuhkan bahan yang namanya mie sementara untuk membuat api rebus kalian perlu bahan yang namanya api.

Pertama, seperti biasanya kalian nyalakan kompornya menggunakan api, ingat jangan dibakar kompornya. Taruh panci di atas kompor yang sudah dinyalakan api, kemudian masukan air sekitar 500 ml, sebelum dimasukan air kalian ukur dulu banyaknya air, ingat harus 500 ml engga boleh lebih atau kurang.

Kedua, kemudian tunggu sampai airnya mendidih. Setelah kamu tau airnya mendidih, kamu masukan bahannya yaitu api ke dalam air, ya seperti memasukkan mie gitu lah.

Ketiga, tunggu sekitar 5 menit agar apinya matang. Setelah kamu menunggu, dan taraaaaa, kamu tuangkan api rebus tadi ke dalam mangkok.

Walau saya sudah mencobanya beberapa kali, anehnya setiap ingin memasukkan api rebusan tadi ke dalam mangkok, selalu saja apinya menghilang. Ini aneh sekali. Padahal cara merebusnya itu sama seperti merebus mie. Ada yang tau itu kenapa?

Api Goreng
Cara membuat api goreng ini sama seperti membuat mie goreng, jadi caranya itu sama seperti membuat api rebus di atas hanya saja apinya tidak pake kuah ketika dimasukkan ke dalam mangkok atau piring. Dan anehnya ketika saya membuat api goreng, lagi-lagi apinya menghilang setelah saya rebus.

Yang Pernah Makan Api
Apa kalian percaya bahwa ada yang pernah makan api di dunia ini? pasti engga percaya ya. Padahal ada loh yang pernah makan api. Api kok dimakan? Kayak engga ada makanan lain aja.

Nih dia yang pernah makan api.
Namanya Shon Agia Oguri, yang pernah jadi Takiya Genji. Di film ini dia lagi nyereput api. Tuh kan masih ada teks subtitelnya yang bilang dia seneng banget api.


Manfaat Makan Api
Seperti makanan pada umumnya, setiap makanan pasti punya manfaat masing-masing seperti makan nasi manfaatnya membuat perut kenyang, makan tempe manfaatnya membuat perut kenyang atau makan mie rebus manfaatnya membuat perut kenyang juga. Sama seperti makan api, ini ada manfaatnya, sttt jangan salah, gini-gini juga saya belum pernah makan api, ya karena saya belum pernah makan api dan bahkan engga mau makan api karena takut kebakar mulut saya jadi maaf saya engga tau manfaat makan api. Kalo kalian mau coba  makan api ya silahkan saja.

Tuesday, August 1, 2017

FanFiction Naruto & Gintama : Jiwa yang Tertukar Merepotkanmu!

Jiraiya
Sore hari di Desa Konoha, Jiraiya berjalan kaki baru saja pulang dari aktivitas mengintipnya di kolam pemandian air panas. Dia kecewa lantaran tidak ada satu pun gadis cantik yang mandi disitu. Wajahnya terlihat sangat bĂȘte, tak ada keceriaan yang melekat di bibir manisnya.
“Sungguh sial sekali hari ini, kenapa tidak ada gadis yang mandi? Kalau terus begini, Novel Ikeh-Ikeh Paradise bisa terhambat karena aku tidak mendapatkan inspirasi, huh,” keluhnya.

Di sisi lain, tepat di depan Jiraiya berjalan terlihat sosok Tsunade yang dikejar-kejar oleh wakil komandan Shinsengumi, sebut saja namanya Hijikata.
Tsunade

“Kalah judi lo langsung kabur aja DASAR NENEK SIALAAAN! GUE TEBAS BATANG OPPAI* LOOOOOOO! (Sengaja dikasih tanda bintang supaya engga kebaca jelas)” teriak Hijikata sambil menebas apa saja yang dia lewatinya dengan pedang miliknya sendiri. Ukuran pedang Hijikata cukup panjang, dan depannya juga tajam. Cocok buat nusuk apa pun hingga berlubang.
Cih, si iblis berponi huruf v ini terus ngejar-ngejar gue, ucap Tsunade sambil berlari menyelamatkan diri.

Hijikata

Tanpa melihat Jiraiya yang berjalan lemas di depannya, Tsunade akhirnya tak sengaja menabrak Jiraiya. Hingga keduanya pingsan.
Si iblis wakil komandan Shinsengumi yang melihat buronannya pingsan ingin sekali menebas batang oppai*nya, namun sebagai wakil komandan harga dirinya akan jatuh bila menebas orang yang sedang pingsan.
“Sial, orangnya pingsan,” ucap Hijikata sambil menyalakan sebatang rokok, “lain kali kalo ketemu, gue babat lo, Tsunade.” Hijikata pun langsung berjalan meninggalkan nenek muda itu.


Tiga puluh menit kemudian, Tsunade dan Jiraiya pun terbangun dari pingsannya.
“Hoooaaam, dasar wakil komandan bodoh, untung saja dia sudah tidak ada disini. Payah sekali dia tidak membunuhku selagi pingsan,” ucap Tsunade dengan suaranya yang berubah, namun dia tidak menyadarinya.
“Huh, sial sekali hari ini. Sudah tidak ada gadis muda yang mandi, aku justru malah ditabrak oleh…” Sejenak Jiraiya menoleh ke arah orang yang menabraknya, “kau?” Jiraiya terkejut melihat dirinya sendiri, sementara Tsunade pun tak kalah terkejut melihat dirinya sendiri tepat di depannya.
“TIDAAAAAAK!” teriak Tsunade.

Sadar akan jiwanya tertukar oleh Tsunade membuat Jiraiya senang bukan main, dia tak menyangka akan lebih mudah menikmati satu hal yang belum pernah dia dapatkan. Mata genit Jiraiya melihat kebagian dadanya sendiri.
“Waw, gunung Everest pun kalah besarnya dengan yang ini, hehehe,” ujar Jiraiya dengan pipi merahnya.
Tak mau melewati kesempatan ini, tangannya pun perlahan-lahan bergerak menyentuh bagian itu.
“Pelan pelan, pelan itu rasanya…”

Brught!
Sebuah kursi tepat mengenai kepala dari raga Tsunade.
“Gue engga akan ngebiarin lo nyentuh itu! Dasar mesum!”

***

Jiraiya dan Tsunade kini sudah berada di sebuah rumah di Kota Edo, tepatnya di kantor Yorozuya Gin-Chan. Keduanya duduk di hadapan Gintoki yang sedang asik mengupil dengan telunjuk  miliknya sendiri.

“Jadi jiwa kalian tertukar?” tanya Gintoki dengan wajah datarnya.
“Ya, tepat sekali. Kita mau jiwa kita kembali seperti semula,” ucap Tsunade.
“Huh, sudahlah Tsunade biarkan saja. Lagipula kita tidak akan bisa kembali, ikhlaskan saja, aku saja ikhlas. Dengan begini aku tidak susah-susah mengintip gadis di kolam pemandian,” ucap enteng Jiraiya.

Braght!
Sebuah tv melayang dan tepat mengenai kepala dari raganya Tsunade.

“WOY KALO LEMPAR BARANG-BARANG LIAT DULU! ITU PUNYA GUE, GUE BARU KREDIT ITU DAN BELUM LUNAS SAMPE SEKARANG. BELUM APA-APA PELANGGAN KAYAK LO BEDUA BISA BUAT GUE BANGKRUUUUT‼!” teriak Gintoki.
“Maaf, tadi khilaf, jadi gimana, bisa kan?”
“Hmmmm. Gimana kalo kalian buat sinetron yang judulnya Jiwa yang Tertukar, atau bikin FTV yang judulnya Suamiku Tega Menelantarkan Anakku.”
“BEGO! ITU BUKAN JALAN KELUARNYA, MANA BISA TOKOH ANIME KAYAK KITA MAIN DI FTV APALAGI SINETROOOON!” teriak Tsunade.

Gintoki tak kehabisan akal, dia berdiri lalu berjalan ke meja belajar yang ada lacinya. Perlahan-lahan dia membuka pintu laci tersebut.
“Lo mau ngapain?” tanya Tsunade.
“Kita akan ke rumahnya Nobita lewat mesin waktu dan minta bantuan Doraemon buat balikin jiwa kalian berdua.”
“Sudah Gontoki, kau jangan repot-repot, aku ikhlas kok kalo begini terus.”
“DASAR CUCUNYA SUGIONOOOO!”

Braght!
Sebuah meja belajar yang berlaci tepat mengenai kepala dari raga Tsunade.

“WOOOY LO JANGAN SEENAKNYA NGELEMPAR YANG ADA DI SINI, LAMA-LAMA GUE BISA BANGKRUT BENERAAAAAN!”

Dikarenakan meja belajarnya rusak, Gintoki gagal membawa mereka berdua ke rumahnya Nobita. Walau begitu Gintoki tak kehabisan akal.
“Aha, gimana kalo kalian berdua berlari dan tertabrak seperti sebelumnya, siapa tau kalian bisa kembali.”
“Aha, pintar sekali kau, Gintoki,” ucap sumringah Tsunade.

Pada akhirnya, Tsunade dan Jiraiya menerima saran dari Gintoki.

Keduanya bersiap menabrakkan diri. Kini keduanya berdiri dengan jarak 500 meter dari hadapan masing-masing. Yosh! Jiraiya dan Tsunade berlari. Dan… keduanya saling tertabrak.

Keesokan harinya.
“Yosh, seperti apa yang gue bilang, jiwa kalian berdua akhirnya bisa kembali… dengan damai. Selamat jalan Jiraiya, selamat jalan Tsunade.”
Gintoki baru saja menghadiri pemakaman dua legenda Sannin Konoha tersebut.









Sunday, July 23, 2017

Saat Menonton Film Horror, Ajaklah Seseorang Agar Kau Tidak Takut

Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan film bertemakan horror, tapi ketika ada seseorang yang mengajak buat nonton film “the doll doll” yang dibintangi Luna Maya sama Edotz Herjunot Ali, ya apa boleh buat. Terpaksa dengan senang hati saya mengiyakan ajakannya.



Pada hari Minggu kurang lebih jam setengah dua siang, saya sampai di Metropolis Tangerang bersama seseorang. Beruntung ketika saya sampai di situ, antriannya tidak terlalu panjang, beda dengan antrian ketika saya mengisi bensin di SPBU ketika berangkat. Sialnya, sudah lama mengantri untuk membeli bensin, ternyata bensinnya tidak ada. Terpaksa saya membeli premium.

Awalnya, saya dan seseorang itu sempat berdebat untuk menentukan siapa yang harus bayar. Saya sebagai lelaki pun terlebih dahulu menawarkan diri untuk membayar.
“Biar aku aja yang bayar.”
“Engga, aku aja.” Seseorang berjenis kelamin perempuan itu tidak mau mengalah.
“Aku aja.”
“Engga, aku aja.”
“Dibilang aku aja.”
“Udah aku aja, aku kan yang ngajakin kamu.”
“Aku aja.”
“Ya udah.”
Pada akhirnya saya lah yang membayari biaya menonton, ya toh sebagai lelaki saya cukup menyesal. Kenapa harus saya yang bayar?

Setelah membeli tiket, dan masih ada waktu kurang lebih tiga puluh menit lagi. Jadi masih ada waktu buat beli hal-hal yang harus dibeli, sayangnya saat itu tidak terpikirkan oleh kami berdua untuk membeli sesuatu, so akhirnya kita berdua hanya diam menunggu waktu nonton tiba.

Bagi yang belum nonton film The Doll2 dipersilahkan untuk tidak membaca tulisan ini, karena ini adalah spoiler dari awal cerita sampai tamat.

Diawal cerita, ada tulisan dari rumah produksi yang memproduksikan film ini. Saya lupa nama rumah produksinya, jadi bagi yang penasaran silahkan nonton. Setelah itu, seperti film horror pada umumnya, sudah pasti ada adegan horror yang menakutkan bagi para penontonnya. Salah satu adegan menakutkan yang saya ingat adalah ketika menunggu waktu sidang di kampus. Pada waktu itu saya deg-degan banget, sampai-sampai engga bisa ngebayangin apa jadinya di depan dosen penguji. Dan benar saja, saat di hadapan dosen penguji, semuanya nge-blank. Tapi demi menutupi kebodohan saya ini, saya hanya cengar-cengir saat menjawab pertanyaan dari para dosen penguji. Alhasil, saya jadi terlihat sangat bodoh. Itu salah satu cerita menakutkan, versi saya bukan versi pada filmnya. 

Sayangnya di film ini tak ada aksi laga antara Iko Uwais vs Toni Jaa, saya sempat kecewa padahal di trailer film Tripple Threat ada adegan kedua aktor laga ini bertarung. Rupanya, saya yang salah film. Di akhir film The Doll 2 ini penuh adegan darah yang mengingatkan saya akan film Rumah Dara, dan yang lebih mengejutkan lagi kedua tokohnya, Luna Maya dan Herjunot Ali. tercantum sebagai pemain di credit title.

Yap itulah spoiler film The Doll 2 versi saya. Bagi yang mau nonton, jangan lupa bawa diri.


Friday, July 21, 2017

Bangunlah Kau Karena Sudah Pagi, Ucapkan Halo Kepada Dunia

Hallo, apa kabar semua?
Gimana kehidupan kalian di tahun 9837 ini, masih pada hidup kah?
Udah lama engga ngeblog lagi, apa ada yang kangen sama saya?
Nanyain kabar saya gitu kek, kemana aja kok udah lama engga muncul lagi... eh sekarang muncul, kenapa harus muncul, udah pada tentram karena kamu engga muncul

Jadi selama saya engga ngeblog, saya sibuk di dunia nyata dan males nulis postingan.
Pagi-pagi saya sudah bangun, lalu ke kamar mandi buat kencing abis itu ke warung beli sebungkus kopi tanpa cuci muka terlebih dahulu.
Kok engga cuci muka, ih jorok deh.
Cuci muka? ah cuci muka buat apa? toh ketampanan saya juga engga akan berkurang meski kerak iler sama belek dimana-mana.
Kadang saya juga nyesel mandi pagi-pagi kalo engga ngajar sama sekali. Jadi mandi itu, kerjaan yang sia-sia kalo engga ada yang bisa dipejeng, buang-buang air doang. Lebih baik engga mandi sama sekali yang penting makan kenyang. Hidup hemat.

Hari Jumat ini, saya dapat kabar menyedihkan. Ya kalian pasti tau lah, ternyata si Agia yang suka anime Gintama engga tau kalo ada Gintama Live Actionnya. Menyedihkan.
Saya yang merasa kasihan dengan nasibnya Agia lalu memberi linknya ke dia. Agia pun ketagihan dengan link yang saya kasih itu.

Abis itu, engga tau mau nulis apa.
Saya cuma mau ngucapin halo sama kalian aja.
Halo

Udah.


Tuesday, May 9, 2017

Menjemput Matahari

Kadang saat pagi hingga siang cuaca di kota ini begitu panas, namun semua bisa berubah saat siang menjelang malam. Hujan bisa mendadak turun, padahal sebelum hujan langit diselimuti awan mendung, jadi siapa yang salah? Cukup, jangan salahkan aku, terima saja hujan yang turun, takkan kau bisa menurunkan hujan kembali ke atas.

Sore ini, aku harus menjemput matahari nan jauh di sana. Dari rumah, kularikan sepeda motorku, namun aku lelah saat menuntun lari sepeda motorku. Harusnya, sepeda motor ini, aku kendarai bukan aku larikan. Lelah hah.

Belum separuh perjalananku, tiba-tiba hujan pun turun di tengah jalan, aku segera meminggirkan sepeda motorku di tepi jalan, aku tidak kehujanan, aku terus melanjutkan perjalananku untuk menjemput matahari.

Duduk di atas jok motor sambil memegangi stang, sejenak aku berpikir sambil melihat langit yang masih disinari cahaya matahari. Matahari, kau begitu jauh, apakah aku sanggup menjemputmu? Aku terus melajukan sepeda motorku ke barat berharap masih bisa menjemput matahari.

Melewati jalanan yang macet, menghitung mobil dan sepeda motor yang lalu lalang, aku seperti kurang kerjaan. Andai menghitung kendaraan itu dibayar, tapi siapa yang mau bayar? Aku terus berpacu melawan waktu sebelum malam datang.


Hingga tiba waktunya, aku sampai di tepi pantai. Oh, waktu yang indah jika ada sosok cantik menemaniku, bermain pasir, bermain ombak, bermain dengan ikan hiu, indah sekali bukan. Di sini, aku berharap masih bisa menjemput matahari. Aku berdiri di tepi pantai melihat ke arah barat, tak ada satu pun sosok cantik itu. Di depan ku hanya ada matahari yang bersiap-siap tenggelam. Aku ingin mengejar matahari yang bersiap tenggalam itu, aku sadar aku tak bisa berenang. Jadi aku pasrah melihat matahari yang sebentar lagi padam akibat dia tenggelam. Padahal di bawah jok sepeda motorku, aku sudah siapkan jaket hujan agar jika aku bisa menjemput matahari, dia tak padam kala hujan mengguyur kota ini. Ah entahlah, pada akhirnya aku hanya membuang waktuku percuma. Matahari gagal aku jemput, haruskah aku keluar angkasa, untuk menjemput matahari? janganlah, ongkos ke luar angkasa akan hanya membuat dompetku mati bunuh diri.

Thursday, May 4, 2017

Ketika Rasa Itu Melandaku

“Ah, lega udah ga mules lagi,” gumam gue Sabtu pagi kemarin.
Sehari sebelumnya, gue dilanda yang namanya mules, entah gue salah makan atau apa tapi yang jelas gue masih normal makan kayak orang-orang,makan lewat mulut.
Sabtu pagi seperti biasa, gue berangkat dari rumah menuju bimbel yang jaraknya kalo ditempuh pake motor cuma lima menit. Dan ajaibnya gue cuma duduk doang di atas jok motor sambil narik gas, eh sampe ke tempat ngajar.

Sabtu ini gue merasa was-was takut pas ngajar tiba-tiba mules datang. Sebab dihari sebelumnya, si mules ini selalu datang tiba-tiba dan memaksa gue harus rajin-rajin ke wc buat nyetor. Pas udah nangkring di atas WC, si mules ini masih berasa tapi jumlah setorannya engga sebanding sama rasa mulesnya. Akibatnya, hasil produksi yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah permintaan konsumen. Alhasil kebutuhan pokok langka dan harganya mahal, akhirnya para buruh demo tanggal 1 Mei kemarin untuk memperingati hari buruh internasional. Makanya tanggal 1 Mei itu dijadikan tanggal merah, gitu ceritanya. Untungnya selama ngajarin bocah-bocah, rasa mules ini sedikit berkurang dan engga separah pas hari kemarin.

Selesai ngajar, si BM (Branch Manager) ngajak 3 orang tutor sama 1 staff adminnya buat makan-makan di Pizza Hut Alam Sutera, buat ngerayain kemenangan persentase tersedikit murid yang keluar, ah pokoknya jumlah persentase murid keluarnya sedikit, nah kayak gitu. Sebagai orang yang belum pernah makan di Pizaa Hut, tentu ini adalah suatu kehormatan buat gue, kapan lagi ya makan di situ terus dibayarin. Tanpa memikirkan rasa mules yang kadang datang tiba-tiba, gue pun ikut. Jam 2 siang, outlet bimbel ditutup karena emang udah waktunya ditutup. Gue sama keempat yang lainnya langsung cus ke sana. Disinilah gue merasa ganteng sendirian, ya soalnya keempat orang itu semuanya cewek. Bangga dong.

Gue sama yang lainnya udah sampe di Pizza Hut. Singkat cerita, makanan yang dipesen pun udah tiba di atas meja. Ada pizza, spageti, macaroni, sama nasi. Entah nasi apa namanya, gue lupa. Selain itu juga mesen minuman es coco jeli gitu. Di atas meja makan juga ada sambal pedas sama sambal tomat. Sebagai orang yang suka makan-makanan pedas, rasanya engga lengkap kalo makan engga pake sambel. Gue pun langsung menuangkan sambel di atas piring, terus mencocol pizzanya pake sambel. Nah, udah tau masih sering mules-mules, gue masih aja makan pedes, udah gitu minum-minuman yang ber-es. Selesai makan, nah baru dah berasa mulesnya, anjirlah.


***
Pas sampe rumah, gue langsung buru-buru buat ke WC dan nangkring seperti biasa.
Plung plung plung, crecet crecet, prepeet prepeeet. Begitulah bunyinya saat di atas WC.
Yang paling parah itu pas malam minggu, udah menjalani hubungan LDRan terus liat sepasang kekasih yang lagi jalan, nyesek, sob. Bukan deng, pas malem minggu itu berasa banget mulesnya. Gue di kamar sampe nungging-nungging di atas kasur nahan rasa mules, mending ya kalo nunggingnya bareng cewek, ena, lah ini sendirian. Kenapa engga ke WC aja? abisnya kesel udah nangkring-nangkring keluarnya cuma seemprit, buang-buang tenaga aja, udah gitu kan di WC cuma nangkring doang engga ngapa-ngapain. Coba kalo di WC bisa tiduran, bisa makan, ada AC-nya, ada TV-nya, ada cewek yang nemenin, betah dah. Namun pada akhirnya, gue kalah sama rasa mules, jam 12 malam gue memutuskan ke WC sendirian… sendirian… sendirian… ya iyalah ke WC sendirian, ngapain ke WC rame-rame? Seperti biasa, rasa mulesnya engga sebanding sama apa yang dikeluarkan dan perlahan-lahan rasa mulesnya hilang seketika. Gue pun kembali ke kamar tapi cebok dulu sebelum ke kamar. Abis itu tidur dah. Tiba-tiba si mules datang lagi. Jam setengah 3 dini hari, gue kebangun gara-gara mules, seperti biasa gue pun ke WC sendirian, dan seperti biasa lagi engga sebanding.

Minggu paginya, gue disaranin sama emak buat ke dokter tapi gue engga mau dan beralasan hari minggu dokternya tutup lagi liburan panjang. Dasar, bocah engga mau sembuh. Pada akhirnya, gue disaranin sama emak buat minum air kobokan daun kapuk. Ya katanya air daun kapuk ini bisa ngobatin penyakit gue. Ya udahlah, dengan tidak terpaksa gue nurutin kemauan emak gue buat minum air daun kapuk. Rasanya itu ya hampir mirip kayak cincau cuma dia engga kayak cincau yang kayak cincau, tapi aromanya kayak daun kapuk karena dibuat dari daun kapuk. Ya, Alhamdulillah abis minum itu, perlahan-lahan, mulesnya ngilang. Tapi kalo kata temen gue, supaya ilang tuh minum baygon. Ya ilang sama nyawa-nyawanya.


Thursday, April 6, 2017

Inilah 3 Kegunaan Jerawat yang Engga Diketahui Orang, Lah Berarti yang Tau Bukan Orang Dong

Entah salah gue apa hingga tiba-tiba ada jerawat yang nongol diidung. Udah gitu nongolnya pas banget ditengah-tengah antara dua lobang, jadi udah kayak monyet gelantungan di pohon. Jerawat itu ya bisa nurunin kadar ganteng. Biasanya ya gue kalo engga jerawatan terus ngaca di cermin, tau engga mirip siapa? Mirip Andika Kangen Band, tapi pas ada jerawat gue malah mirip Ariel, ah kalo kayak gitu mendingan jerawatan dah. Tapi tau engga sih kalian kalo jerawat itu berguna? Belom tau ya? Kasian.

Menurut hasil penelitian yang belom gue teliti, ini kegunaan jerawat yang harus dicoba.

1.      Jerawat bisa digunakan saat perang.
Seandainya kalian masih mengalami masa perang dunia, tentunya jerawat punya peran penting dalam mengusir musuh. Terus fungsi jerawat itu apa dund? Ya tentu aja sebagai senjata mematikan melumpuhkan musuh. Caranya gampang, kamu tinggal comot jerawat dari muka kamu lalu lemparkan ke musuh.
Doooar!
Jerawatnya bisa meledak dengan sendiri. Intinya itu, jerawat adalah pengganti granat. Oh ini juga bisa kamu pakai buat mantan kamu. Kalo kamu masih benci sama mantan kamu, ya tinggal lempar aja jerawatnya ke mantan kamu. Biar mantan kamu gosong.

2.      Jerawat bisa digunakan saat orang pesta pernikahan.
Biasanya kalo ada pesta pernikahan, ada tuh ya dimulai sama suara dar dor dar dor petasan. Nah, kalo ada tetangga kamu yang ngadaian pesta pernikahan, kamu tinggal tawarin jerawat kamu aja ke yang punya hajat. Nah, jika yang punya hajat itu setuju dengan tawaran kamu, kamu bisa pasang harga tinggi.
Cara kerjanya gampang kok, kamu tinggal duduk manis terus lempar dah jerawat kamu ke tanah.
Dar dor dar dor
Pasti engga gitu deh bunyinya. Coba dah kalo percaya.

3.      Pengganti beras
Buat kamu yang lagi belajar hemat atau lagi nyesek-nyeseknya ditanggal tua, jangan khawatir. Kamu bisa gunakan jerawat kamu sebagai pengganti nasi. Caranya cukup mudah, tinggal kamu pencet jerawat yang sudah matang. Nah bentuknya itu kan lonjong kan ya kayak beras. Kamu pencet-pencet aja, terus kumpulin sampe banyak. Kalo udah banyak, tinggal kamu masak deh. Kamu tunggu aja jerawatnya berubah jadi nasi sampe lebaran kuda. Hematkan, jadi kamu engga perlu beli indomie lagi pas tanggal tua. Tinggal mencet-mencetin jerawat aja.




Wednesday, March 1, 2017

Mendadak Sakit Menjelang UN

Pernah engga sih kamu lagi duduk diterminal terus ada yang ngeganjal di hidung kamu. Pas kamu korek-korek idung kamu, eh keluar emas batangan. Atau pernah engga sih kamu lagi duduk di kursi terminal terus di samping kamu ada orang yang lagi khusu’nya ngupil tanpa merasa berdosa dan seenak jidadnya orang itu nempelin upilnya ke kamu? apa reaksi kamu? marah, kesel, pengen ngebacok orang itu. Tunggu dulu! kamu jangan marah, panggil temen-temen kamu buat gebukin orang itu. Namun harusnya kamu berterimakasih sama orang itu karena udah ngasih upilnya buat kamu. Jarang ada loh, orang yang ikhlas kasih upilnya ke kamu.
“Duh baik banget sih kamu, udah ngasih upil ke aku.”
“Sama-sama, yang penting kamu seneng.”
Akhirnya dengan begitu, kamu bisa jadian sama orang itu. Lalu bagaimana kalo orang itu kelaminnya sama? Tenang aja, semua orang kelaminnya beda-beda kok. Contohnya punya sama sama Agia, ya beda beberapa centi panjangnya, beda ukurannya, beda strongnya.
.
Engga, saya engga akan ngebahas tentang upil, beneran, suer loh. Hari ini, saya akan bernostalgia saat dimana menjelang UN. Biar dikata anak SMA beneran, kata sayanya diganti jadi gue.
.
2009
Gue bersekolah di SMAN 9 Tangerang. Hari Rabu, lima hari sebelum gue ikut UN tingkat SMA, tapi terserah si UN sih dia mau ngajak gue apa engga, engga masalah. Eh ajak aja lah, daripada gue nantinya engga lulus, kan sedih. Selepas ba’da Magrib, gue langsung meluncurkan ke salah satu rumah temen gue buat acara doa bersama menjelang UN. Ya begitu deh, kalo menjelang UN itu banyak siswa yang mendadak tobat, eh pas diumumin kelulusan pada hura-hura, naik motor kebut-kebutan, paha menjalar kemana-mana, minum-minuman keras kayak minum batu, besi dan apa aja yang keras, pesta narkoba, dan sebagainya. Engga bersyukur.

Acara doa bersama ini khusus buat kelas gue aja, kelas XII IPA 2 angkatan 2009. Sebenarnya acara doa bersama di sekolah itu hari Jumat, engga ada salahnya kan perbanyak doa selagi masih ada waktu. Gue berangkat dari rumah naik motor, engga lupa pamit sama kedua orangtua. Sekitar tiga puluh menitan, gue udah sampe di rumah temen gue itu.
Setibanya di rumah temen, anak-anak engga langsung pada kumpul semua. Kebiasaan nih janjinya jam segini eh berangkatnya jam segitu.
“Mana nih yang lain?” tanya gue yang masih nangkring di atas motor.
“Masih pada di jalan,” jawab Fauzi, ketua kelas di kelas gue.
“Acaranya jangan sampe malem-malem ya,” pinta gue.
“Kenapa emang?” tanya Fauzi.
“Biasalah malam kamisan, Zi. Masa engga tau.”
“Oh, malam kamisan sama siapa?”
Gue mendadak amnesia.
“Pak Zuhdi ikut juga, Zi?”
“Beliau ikut kok.”

Gue pun bisa bernapas dengan tenang, pas Fauzi engga ngusut lebih dalam kasus kebohongan gue yang gue ucapin barusan. Sebenernya gue rada takut loh, semisal si Fauzi ini bawa kasus kebohongan gue ke meja hijau. Kan engga penting banget. Misalkan gue disidang.
“Apa benar saudara ini mau menikmati malam kamisan? Jika itu benar, dengan siapa anda malam kamisan? Menurut data-data yang telah kami himpun, anda itu jomlo,” kata pak hakim di hadapan gue.
“Anu ….” Keringat gue mulai panas dingin, apalagi sidang ini disiarin langsung di tv.
“Interupsi!” seru Fauzi, lalu kemudian berdiri dan berbicara seolah mojokin gue, “terdakwa mengaku berniat malam kamisan namun tidak tau dengan siapa, jelas-jelas itu jomlo.”
“Terdakwa terbukti bersalah, melakukan tindak pembohongan publik.” Pak hakim lalu mengetuk palu tiga kali, tok tok tok.
Besok harinya, berita di tv rame gara-gara seorang pemuda mengaku ingin malam kamisan ternyata jomlo. Lalu tersangka dijeblosin di penjara. Cerita macam apa ini?!

Beberapa saat, orang-orang yang sebenarnya engga diharapkan ikut dateng. Temen-temen sekelas gue yang udah seneng-seneng karena ngarepin mereka engga dateng, bahkan ada yang sampe lupa diri buat lompat-lompatan di atas kabel listrik, akhirnya ngebatalin aksi eskrimnya itu.
“Maaf yah temen-temen, terpaksa gue ngebatalin lompat-lompatan di kabel listrik,” ucap temen gue, Erwin Wicaksono.
“Kenapaaa?” kompak gue sama yang lain.
“Gue takut jatuh, atit rasanya.”
Fix, itu alasan dia doang. Abis itu tiang listrik melayang ke arah dia. Besoknya kita-kita digiring ke kantor polisi karena udah nyabut tiang listrik sembarangan.

Orang-orang yang engga diharapkan kedatangannya itu cuma dua biji, mereka adalah Nando sama Endin. Kenapa gue bilang mereka orang yang engga diharapkan dateng? Karena mereka itu suka buat rusuh. Gue ambil satu contoh ulah yang pernah mereka lakukan di kelas. Biasanya kalo di kelas terus engga ada guru, anak-anak pasti berisik. Kaum hawa pada ngumpul bareng gosipin kegantengan kaum adam, terutama gue. Ya, gue mulu jadi sasaran gosipnya.
“Eh tau engga, Kalian? Niki itu orangnya engga ganteng loh,” kata cewek yang namanya engga mau disebut, takut ucapannya itu fakta.
Sampe dimana tadi kita? Oh iya sampe ulah yang dibuat sama kedua makhluk itu tadi ya? Ok, jika anak-anak pada rame di kelas, apalagi anak laki-laki pada ngobrolin Momoka Nishina. Hal berbeda dilakuin kedua makhluk itu, makhluk itu diam sambil melototin buku pelajaran. Terus dimana ulahnya? Ya disaat mereka melototin buku pelajarannya. Kalian engga tega apa sama buku pelajaran yang cuma dipelototin doang sambil diam lagi. Seharusnya buku pelajaran itu dibaca bukan dipelototin doang.
Kembali ke acara doa bersama. Pas nyampe, tuh kedua biji langsung nyapa gue.
“Wey, Bro, udah lama lo?” kompak Nando sama Endin.
“Baru nyampe.”
“Kok engga bareng ya? Padahal gue juga baru nyampe loh.” Lagi-lagi Nando sama Endin kompak jawab.
“Eh lo berdua kompak banget jawabnya, udah kayak biji.”
“Ah lo yang di depannya bisa aja.”
“Maksud loooo?”
Abis itu mereka minta ampun ke gue, karena engga bermaksud apa-apa.

Hal yang tak diharapkan terjadi sesudah kedatangan dua biji yang gue bilang tadi. Mereka langsung buat rusuh. Pertama, mereka engga sengaja ngelempar batu ke salah satu kaca jendela rumah warga di situ. Kedua, mereka teriakan nama-nama hewan. Ketiga, yang punya rumah langsung keluar bawa golok. Keempat, terjadilah aduh bacot diantara mereka bertiga. Terakhir, temen-temen sekelas gue gelar tiker buat nonton kerusahan yang bakal terjadi.
“Endiiiin! Endiiiin! Endiiiin! Nandoooo! Nandoooo! Nandoooo! Majuuuu!” teriak Gue sama anak-anak teriak nyemangatin mereka berdua.
Engga diduga, para tetangga yang lain pada keluar rumah buat bantuin ngusir biang rusuh. Terjadilah kerusuhan sengit diantara para pelakunya. Seru, para warga pun langsung ngejar-ngejar kedua biji tersebut. Akhirnya engga berapa lama, dua biji ketangkep, lalu digebukin, dan selamat tanpa segores luka di tubuh mereka berdua. Ngaco nih.

Pas anak-anak udah pada kumpul semua. Mereka disuruh masuk oleh tuan rumah, acara doa bersamanya segera dimulai. Si Arief yang badannya gendut membuka acara doa bersama ini dengan sambutannya.
“Baiklah teman-teman, acara ini akan segera dimulai. Sebagai pembawa acara, saya menyerahkan tugas ini kepada Fauzi. Diakan selaku ketua kelas.”
Ngeles aja bocah nih kayak bajaj.

Fauzi sebagai pembawa acara langsung bacain susunan acaranya. Mulai dari sambutan walikelas sampai pembacaan doa. Ketika Fauzi bacain siapa yang memimpin doa, seketika dia diam.
“Ada apa, Zi, kok diem?” tanya Nando.
“Ini siapa yang mimpin doanya?” tanya Fauzi yang sambil kebingungan.
Efek itu menyebar ke semua anak-anak, jadinya anak-anak pada tengok kanan kiri, aman engga ada kendaraan langsung dah nyebarang jalan. Bukan itu. Mereka juga bingung siapa yang baca doa nantinya. Terjadilah aksi saling tunjuk menunjuk.
“Lo aja, Nik, ya?” pinta Fauzi.
“Jangan gue, tuh si Endin aja,” ucap Gue melemparkan tugas ke Endin.
“Bukan gue, tuh si Nando. Dia kan anggota rohis,” ucap Endin melemparkan tanggungjawabnya ke Nando.
“Bukan gue, Ndin, sumpah. Gue engga kentut kok.”
Engga ada yang mau mimpin doa, Fauzi punya ide. Dia membeberkan idenya kepada anak-anak.
“Gimana kalo kita undang Mamah Dede aja ke sini?”

Ide Fauzi brilian, saking briliannya dia engga ngerti keadaan dompet anak-anak. Si Nando sempet menolak, tapi Fauzi tetep keras kepala mempertahankan idenya. Mau engga mau anak-anak disuruh ngeluarin dompetnya. Disinilah hal memalukan terjadi buat diri gue. Terbongkarlah sudah apa yang selama ini gue simpan di dalam dompet. Yang gue simpan di dalam dompet yaitu hanya kartu pelajar tanpa sepeser uang.
“Hahahaha ….” Anak-anak pada ketawa.
Harga diri gue seakan jatuh, dan atas kejadian ini pupuslah harapan gue buat deketin  cewek-cewek yang ada di kelas. Pasti mereka akan menolak gue mentah-mentah, apalagi kalo gue ajak cewek-cewek itu jalan.
“Maaf ya, Nik, hari ini aku sibuk,” kata cewek 1.
“Kamu ngajak jalan aku? Mau makan apa? Angin?” kata cewek 2 sambil pasang muka judesnya.
“Iya aku mau, aku engga peduli kamu miskin atau kaya, yang terpenting adalah kamu bisa membimbing aku ke Surga,” kata cewek 3, ini salah satu cewek solehah, “oh iya tapi, jalan berdua sama yang bukan muhrimnya itu engga baik, maaf ya.”
Ternyata engga cuma dompet gue aja yang hatinya hampa, dompetnya si Endin juga sama, Nando juga, Erwin juga, Arief juga, bahkan Fauzi, engga cuma mereka tapi tiga belas dari tiga belas siswa cowok IPA 2 juga merasakan nasib yang sama. Semenjak itu, engga ada lagi yang namanya cinlok.

Dengan kondisi keuangan yang engga memadai, terpaksa niatan buat manggil Mamah Dede pupus sudah. Ujung-ujungnya Fauzilah yang terpilih untuk membacakan doa. Dia senengnya bukan main, sampe guling-guling di karpet terus ke jalan.
Selesai baca doa, ada moment yang gue nantikan. Bahkan saking dinantikannya dari tadi siang sampe malam gini, gue engga makan. Moment ini adalah moment makan bersama. Lagi-lagi dua biji bikin rusuh. Gue yang udah ngincer mayonis buat dimakan bareng sama sosis, dilempar granat sama mereka berdua. Tuiiing, granat melayang ke arah gue. Untungnya gue berhasil menghindar dan granat itu jatuh tepat di depan Fauzi. Doooar, meledak. Fauzi engga terima, dia ngeluarin senapan dari kantungnya.
Jedder jedder jedder, ini suara bunyi tembakan dari senapannya Fauzi yang diarahin ke Nando sama Endin. Suara tembakan dan ledakan bom nyaris engga berhenti selama lima menit di rumahnya si Arief. Merasa jiwanya terancam, cewek-cewek pada kabur pulang ke rumah masing-masing. Sementara cowok-cowok pada saling perang ngerebutin makanan.
Lima menit berlalu, cowok-cowok merasa kelelahan dan kekenyangan. Abis itu cowok-cowok pada balik, pamitan sama tuan rumah. Cowok-cowok yang pulang ke rumahnya masing-masing pada seneng, sementara rumahnya si Arief hancur berantakan.
“Wooooy rumah gue dijadiin tempat peraaaang! Rese lo padaaaa!” teriak Arief, pas nyadar rumahnya hancur.

Singkat cerita, gue udah sampe rumah dan sekarang rebahan di kamar. Mata gue perlahan-lahan terpejam, gue pun tertidur. Tiba-tiba di tengah malam, mata gue terbangun, dan gue ngerasain ada yang engga beres dari perut gue. Kurama mengamuk.
Perut gue kayak dipasangin bom, serasa mau muntah. Keringet dingin mulai keluar dari pori-pori kulit gue. Dan gue baru inget, tanda-tanda ini adalah tanda dimana penyakit maag gue bakalan kumat. Pas inget, gue langsung terbangun dan pergi ke kamar mandi. Di kamar mandi, gue memuntahkan sesuatu. Yaitu memuntahkan sisa-sisa makanan yang tadi malam gue makan di rumahnya si Arief. Padahal malam tadi, gue engga makan mie. Kayaknya sih perut gue kaget gara-gara baru pertama kali makan mayonis. Aduuuh, kambuh lagi padahal sebentar lagi ujian nasional. Gimana ini? Gue meradang di dalam hati kayak begitu. Takut aja kalo engga ikut UN bareng anak-anak, takut aja kalo engga lulus.

Sunday, February 12, 2017

Tips Keluar Rumah Pas Hujan tapi Engga Punya Payung

Musim di Indonesia memasuki musim hujan terhitung ketika hujan turun dari awan mendung. Cuaca jadi seenak-enaknya gonta ganti, dari yang tadinya panas, beberapa waktu kemudian hujan turun. Mungkin teman-teman juga merasakan hal seperti itu, lagi enak-enaknya jalan kaki sama cewek dicuaca yang cerah eh terus hujan turun, dengan inisiatif ngelindungin cewek dari keujanan biar engga kedinginan, langsung deh main peluk aja. Menang banyak dah.
Musim hujan menyebabkan perkembangan tukang ojek payung online lebih cepat dari biasanya, dan ini dimanfaatkan para pebisnis membuka ojek payung on line. Sehingga mengharuskan kita yang engga punya payung beradaptasi dengan keadaan tersebut, baik dari segi keuangan dan suhu dompet yang kempas kempis. Jika tidak, maka kesehatan dompet dan tubuh kita terganggu dalam beberapa hari kemudian.
Lalu, bagaimana caranya agar kita keluar rumah ketika hujan terus engga punya payung dan engga mau mesen ojek payung on line? Tenang aja, saya akan beri solusinya. Berikut ini 3 tips keluar rumah saat hujan ketika engga punya payung maupun engga mau mesen ojek payung online.
1.      Pinjam Payung Milik Tetangga.
Jika kamu ingin keluar rumah saat hujan tiba, dan kamu engga punya payung, pinjamlah payung milik tetangga. Caranya gimana? Ketika kamu hendak keluar rumah, trus tiba-tiba hujan, maka kamu sempatkan berlari ke rumah tetangga sambil ujan-ujanan. Ketika sampai di rumah tetangga kamu, pinjamlah payungnya. Setelah kamu dapat payungnya, tunggu! Jangan pulang dulu, kamu yang sebagai tamu harusnya minta minum atau makanan dan tak hanya sekedar meminjam payung. Dengan cuaca yang dingin, mintalah dibuatkan teh hangat dan sedikit makanan untuk mengisi perut yang kosong sambil nunggu hujannya reda. Ya kali ada tamu engga disediain minuman sama makanan? Tetangga macam apa itu!
Jika kamu engga dikasih makanan sama minuman hangat, usir tetangganya. Bila perlu bawa pendukung kamu buat ngusir tetangga yang pelit itu. Bila kamu sering nonton sinetron yang isinya rebutan harta dan warisan, pasti kamu bisa. Saya yakin.

2.      Tiup Hujannya Sampai Berhenti
Pas kamu keluar rumah, eh tiba-tiba ujan turun terus kamu engga punya payung, jangan khawatir. Kamu bisa mengusir hujan dengan cara meniupnya. Cara ini ampuh, saya yakin hanya dengan waktu sekitar 15 sampai 60 menit hujannya akan reda.
Kamu hanya tinggal jongkok di teras rumah sambil meniup hujan yang turun pake bibir orang lain ya. Supaya apa? supaya bibir kita engga kebasahan kena air hujan. Caranya gampang, ketika hujan turun kamu berlari ke rumah tetangga kamu terus pinjam dah bibir tetangga kamu, ya kalo tetangga kamu engga mau ngasih bibirnya, suruh tukeran bibir aja sementara sebagai jaminannya.
Jika kamu sudah dapatkan bibir tetangga kamu, kamu tes dulu bibir tetangga kamu dengan menempelkan gelas panas, kalo bibirnya kepanasan berarti asli.
Setelah berhasil dapatkan bibir tetangga, kamu jangan pulang dulu tunggu sampai hujannya reda, supaya kamu engga keujanan untuk yang kedua kalinya.

3.      Tunggu Perintah dari Kerang Ajaib
Kamu suka nonton SpongBob? Sama dund. Dulu juga pas kartunnya masih tayang di tv saya juga sering nonton, tapi pas engga tayang lagi di tv saya jadi engga pernah nonton SpongBob di tv, aneh ya?
Tokoh favorit saya di SpongBob itu si Gerry, tau kan Gerry? Siput peliharaannya si SpongBob itu loh. Oh iya satu lagi, saya juga suka karakternya si Squidwerd, yang ituloh kepalanya botak, kalo pake baju engga pake celana. Tapi aneh ya, otongnya engga keliatan. Saya jadi bingung sama jenis kelaminnya. Ada si Patrick pake celana engga pake baju, tapi yang lebih parah mah si musuhnya tuan Krab tuh, aduh lupa lagi namanya. Oh iya, si Plankton. Dia parah tuh, masa telanjang gitu. Udah gitu cuek aja kemana-mana engga ada rasa malunya.
Temen-temen ada yang tau engga link kartun spongbob episode baru? Kalo ada komen ya, tapi jangan yang gede-gede ukurannya, yang sedeng aja ukurannya. Abis kalo ukurannya gede itu kadang engga muat.


Demikianlah tips keluar dari rumah ketika hujan tapi engga punya payung dari saya, kalo ada yang mau nambahin, silahkan.