Monday, August 14, 2017

Cara Membuat Api Rebus dan Api Goreng, Dijamin Enak Banget

Holla semua, apa kabar nih? masih pada waras kan? yah kenapa mesti waras, harusnya jadi gila dong.
Ok tapi saya engga maksa kok.
Hmm, sebentar lagi 17 agustusan nih. Kalo boleh tau, di daerah kalian 17 Agustus jatuh pada tanggal berapa? Boleh tau engga?
Kalo di daerah saya sih 17 Agustus ya tepat pada tanggal 17 Agustus, lah udah tau 17 Agustus malah nanya tanggal, kan geblek yang nanya, hadeh-hadeh.

Ngomongin 17 agustusan, gimana kalo kita bahas kuliner. Jarang-jarang loh bahkan hampir engga pernah yang punya blog ini bahas soal makanan. Soal makanan, apa sih makanan kesukaan kalian? Kalo saya sih sukanya makan nasi, dari kecil sekitar umur 4-5 tahun sampe sekarang saya masih suka makan nasi, jadi nasi adalah makanan favorit saya. Walau nasinya itu rasanya seperti rasa nasi pada umumnya, saya tetep aja engga bosen makan makanan yang satu ini.

Nah, biasanya kan orang kalo makan nasi itu dicampur lauk-paku. Sekarang saya mau bahas soal makanan yang bisa kamu makan sebagai pengisi kekosongan perut selain nasi, dijamin dah kamu ketagihan setelah mencobanya.

Kamu tau jenis mie berdasarkan cara masaknya? Berdasarkan cara masaknya, mie dibedakan menjadi dua, yaitu mie rebus dan mie goreng, catet nih siapa tau pas ujian keluar.
Mie rebus adalah mie yang dibuat dengan cara direbus sementara mie goreng adalah mie yang dibuat dengan cara digoreng, tapi aneh loh kalo beli mie instan yang mie goreng, masa mienya direbus juga. Anehkan?


Saya tidak akan membahas tentang mie di sini. Baru-baru ini saya mendapat resep baru, yaitu api rebus dan api goreng. Kenapa saya namakan seperti itu, agar makanan ini dapat diterima di kalangan pecinta makanan seperti mie yang sudah menjadi makanan sejuta umat saat lauk paku mahal harganya.

Api Rebus
Cara membuat api rebus ini hampir sama seperti membuat mie rebus, hanya bahannya sajalah yang beda. Jika membuat mie rebus kalian membutuhkan bahan yang namanya mie sementara untuk membuat api rebus kalian perlu bahan yang namanya api.

Pertama, seperti biasanya kalian nyalakan kompornya menggunakan api, ingat jangan dibakar kompornya. Taruh panci di atas kompor yang sudah dinyalakan api, kemudian masukan air sekitar 500 ml, sebelum dimasukan air kalian ukur dulu banyaknya air, ingat harus 500 ml engga boleh lebih atau kurang.

Kedua, kemudian tunggu sampai airnya mendidih. Setelah kamu tau airnya mendidih, kamu masukan bahannya yaitu api ke dalam air, ya seperti memasukkan mie gitu lah.

Ketiga, tunggu sekitar 5 menit agar apinya matang. Setelah kamu menunggu, dan taraaaaa, kamu tuangkan api rebus tadi ke dalam mangkok.

Walau saya sudah mencobanya beberapa kali, anehnya setiap ingin memasukkan api rebusan tadi ke dalam mangkok, selalu saja apinya menghilang. Ini aneh sekali. Padahal cara merebusnya itu sama seperti merebus mie. Ada yang tau itu kenapa?

Api Goreng
Cara membuat api goreng ini sama seperti membuat mie goreng, jadi caranya itu sama seperti membuat api rebus di atas hanya saja apinya tidak pake kuah ketika dimasukkan ke dalam mangkok atau piring. Dan anehnya ketika saya membuat api goreng, lagi-lagi apinya menghilang setelah saya rebus.

Yang Pernah Makan Api
Apa kalian percaya bahwa ada yang pernah makan api di dunia ini? pasti engga percaya ya. Padahal ada loh yang pernah makan api. Api kok dimakan? Kayak engga ada makanan lain aja.

Nih dia yang pernah makan api.
Namanya Shon Agia Oguri, yang pernah jadi Takiya Genji. Di film ini dia lagi nyereput api. Tuh kan masih ada teks subtitelnya yang bilang dia seneng banget api.


Manfaat Makan Api
Seperti makanan pada umumnya, setiap makanan pasti punya manfaat masing-masing seperti makan nasi manfaatnya membuat perut kenyang, makan tempe manfaatnya membuat perut kenyang atau makan mie rebus manfaatnya membuat perut kenyang juga. Sama seperti makan api, ini ada manfaatnya, sttt jangan salah, gini-gini juga saya belum pernah makan api, ya karena saya belum pernah makan api dan bahkan engga mau makan api karena takut kebakar mulut saya jadi maaf saya engga tau manfaat makan api. Kalo kalian mau coba  makan api ya silahkan saja.

Tuesday, August 1, 2017

FanFiction Naruto & Gintama : Jiwa yang Tertukar Merepotkanmu!

Jiraiya
Sore hari di Desa Konoha, Jiraiya berjalan kaki baru saja pulang dari aktivitas mengintipnya di kolam pemandian air panas. Dia kecewa lantaran tidak ada satu pun gadis cantik yang mandi disitu. Wajahnya terlihat sangat bĂȘte, tak ada keceriaan yang melekat di bibir manisnya.
“Sungguh sial sekali hari ini, kenapa tidak ada gadis yang mandi? Kalau terus begini, Novel Ikeh-Ikeh Paradise bisa terhambat karena aku tidak mendapatkan inspirasi, huh,” keluhnya.

Di sisi lain, tepat di depan Jiraiya berjalan terlihat sosok Tsunade yang dikejar-kejar oleh wakil komandan Shinsengumi, sebut saja namanya Hijikata.
Tsunade

“Kalah judi lo langsung kabur aja DASAR NENEK SIALAAAN! GUE TEBAS BATANG OPPAI* LOOOOOOO! (Sengaja dikasih tanda bintang supaya engga kebaca jelas)” teriak Hijikata sambil menebas apa saja yang dia lewatinya dengan pedang miliknya sendiri. Ukuran pedang Hijikata cukup panjang, dan depannya juga tajam. Cocok buat nusuk apa pun hingga berlubang.
Cih, si iblis berponi huruf v ini terus ngejar-ngejar gue, ucap Tsunade sambil berlari menyelamatkan diri.

Hijikata

Tanpa melihat Jiraiya yang berjalan lemas di depannya, Tsunade akhirnya tak sengaja menabrak Jiraiya. Hingga keduanya pingsan.
Si iblis wakil komandan Shinsengumi yang melihat buronannya pingsan ingin sekali menebas batang oppai*nya, namun sebagai wakil komandan harga dirinya akan jatuh bila menebas orang yang sedang pingsan.
“Sial, orangnya pingsan,” ucap Hijikata sambil menyalakan sebatang rokok, “lain kali kalo ketemu, gue babat lo, Tsunade.” Hijikata pun langsung berjalan meninggalkan nenek muda itu.


Tiga puluh menit kemudian, Tsunade dan Jiraiya pun terbangun dari pingsannya.
“Hoooaaam, dasar wakil komandan bodoh, untung saja dia sudah tidak ada disini. Payah sekali dia tidak membunuhku selagi pingsan,” ucap Tsunade dengan suaranya yang berubah, namun dia tidak menyadarinya.
“Huh, sial sekali hari ini. Sudah tidak ada gadis muda yang mandi, aku justru malah ditabrak oleh…” Sejenak Jiraiya menoleh ke arah orang yang menabraknya, “kau?” Jiraiya terkejut melihat dirinya sendiri, sementara Tsunade pun tak kalah terkejut melihat dirinya sendiri tepat di depannya.
“TIDAAAAAAK!” teriak Tsunade.

Sadar akan jiwanya tertukar oleh Tsunade membuat Jiraiya senang bukan main, dia tak menyangka akan lebih mudah menikmati satu hal yang belum pernah dia dapatkan. Mata genit Jiraiya melihat kebagian dadanya sendiri.
“Waw, gunung Everest pun kalah besarnya dengan yang ini, hehehe,” ujar Jiraiya dengan pipi merahnya.
Tak mau melewati kesempatan ini, tangannya pun perlahan-lahan bergerak menyentuh bagian itu.
“Pelan pelan, pelan itu rasanya…”

Brught!
Sebuah kursi tepat mengenai kepala dari raga Tsunade.
“Gue engga akan ngebiarin lo nyentuh itu! Dasar mesum!”

***

Jiraiya dan Tsunade kini sudah berada di sebuah rumah di Kota Edo, tepatnya di kantor Yorozuya Gin-Chan. Keduanya duduk di hadapan Gintoki yang sedang asik mengupil dengan telunjuk  miliknya sendiri.

“Jadi jiwa kalian tertukar?” tanya Gintoki dengan wajah datarnya.
“Ya, tepat sekali. Kita mau jiwa kita kembali seperti semula,” ucap Tsunade.
“Huh, sudahlah Tsunade biarkan saja. Lagipula kita tidak akan bisa kembali, ikhlaskan saja, aku saja ikhlas. Dengan begini aku tidak susah-susah mengintip gadis di kolam pemandian,” ucap enteng Jiraiya.

Braght!
Sebuah tv melayang dan tepat mengenai kepala dari raganya Tsunade.

“WOY KALO LEMPAR BARANG-BARANG LIAT DULU! ITU PUNYA GUE, GUE BARU KREDIT ITU DAN BELUM LUNAS SAMPE SEKARANG. BELUM APA-APA PELANGGAN KAYAK LO BEDUA BISA BUAT GUE BANGKRUUUUT‼!” teriak Gintoki.
“Maaf, tadi khilaf, jadi gimana, bisa kan?”
“Hmmmm. Gimana kalo kalian buat sinetron yang judulnya Jiwa yang Tertukar, atau bikin FTV yang judulnya Suamiku Tega Menelantarkan Anakku.”
“BEGO! ITU BUKAN JALAN KELUARNYA, MANA BISA TOKOH ANIME KAYAK KITA MAIN DI FTV APALAGI SINETROOOON!” teriak Tsunade.

Gintoki tak kehabisan akal, dia berdiri lalu berjalan ke meja belajar yang ada lacinya. Perlahan-lahan dia membuka pintu laci tersebut.
“Lo mau ngapain?” tanya Tsunade.
“Kita akan ke rumahnya Nobita lewat mesin waktu dan minta bantuan Doraemon buat balikin jiwa kalian berdua.”
“Sudah Gontoki, kau jangan repot-repot, aku ikhlas kok kalo begini terus.”
“DASAR CUCUNYA SUGIONOOOO!”

Braght!
Sebuah meja belajar yang berlaci tepat mengenai kepala dari raga Tsunade.

“WOOOY LO JANGAN SEENAKNYA NGELEMPAR YANG ADA DI SINI, LAMA-LAMA GUE BISA BANGKRUT BENERAAAAAN!”

Dikarenakan meja belajarnya rusak, Gintoki gagal membawa mereka berdua ke rumahnya Nobita. Walau begitu Gintoki tak kehabisan akal.
“Aha, gimana kalo kalian berdua berlari dan tertabrak seperti sebelumnya, siapa tau kalian bisa kembali.”
“Aha, pintar sekali kau, Gintoki,” ucap sumringah Tsunade.

Pada akhirnya, Tsunade dan Jiraiya menerima saran dari Gintoki.

Keduanya bersiap menabrakkan diri. Kini keduanya berdiri dengan jarak 500 meter dari hadapan masing-masing. Yosh! Jiraiya dan Tsunade berlari. Dan… keduanya saling tertabrak.

Keesokan harinya.
“Yosh, seperti apa yang gue bilang, jiwa kalian berdua akhirnya bisa kembali… dengan damai. Selamat jalan Jiraiya, selamat jalan Tsunade.”
Gintoki baru saja menghadiri pemakaman dua legenda Sannin Konoha tersebut.









Sunday, July 23, 2017

Saat Menonton Film Horror, Ajaklah Seseorang Agar Kau Tidak Takut

Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan film bertemakan horror, tapi ketika ada seseorang yang mengajak buat nonton film “the doll doll” yang dibintangi Luna Maya sama Edotz Herjunot Ali, ya apa boleh buat. Terpaksa dengan senang hati saya mengiyakan ajakannya.



Pada hari Minggu kurang lebih jam setengah dua siang, saya sampai di Metropolis Tangerang bersama seseorang. Beruntung ketika saya sampai di situ, antriannya tidak terlalu panjang, beda dengan antrian ketika saya mengisi bensin di SPBU ketika berangkat. Sialnya, sudah lama mengantri untuk membeli bensin, ternyata bensinnya tidak ada. Terpaksa saya membeli premium.

Awalnya, saya dan seseorang itu sempat berdebat untuk menentukan siapa yang harus bayar. Saya sebagai lelaki pun terlebih dahulu menawarkan diri untuk membayar.
“Biar aku aja yang bayar.”
“Engga, aku aja.” Seseorang berjenis kelamin perempuan itu tidak mau mengalah.
“Aku aja.”
“Engga, aku aja.”
“Dibilang aku aja.”
“Udah aku aja, aku kan yang ngajakin kamu.”
“Aku aja.”
“Ya udah.”
Pada akhirnya saya lah yang membayari biaya menonton, ya toh sebagai lelaki saya cukup menyesal. Kenapa harus saya yang bayar?

Setelah membeli tiket, dan masih ada waktu kurang lebih tiga puluh menit lagi. Jadi masih ada waktu buat beli hal-hal yang harus dibeli, sayangnya saat itu tidak terpikirkan oleh kami berdua untuk membeli sesuatu, so akhirnya kita berdua hanya diam menunggu waktu nonton tiba.

Bagi yang belum nonton film The Doll2 dipersilahkan untuk tidak membaca tulisan ini, karena ini adalah spoiler dari awal cerita sampai tamat.

Diawal cerita, ada tulisan dari rumah produksi yang memproduksikan film ini. Saya lupa nama rumah produksinya, jadi bagi yang penasaran silahkan nonton. Setelah itu, seperti film horror pada umumnya, sudah pasti ada adegan horror yang menakutkan bagi para penontonnya. Salah satu adegan menakutkan yang saya ingat adalah ketika menunggu waktu sidang di kampus. Pada waktu itu saya deg-degan banget, sampai-sampai engga bisa ngebayangin apa jadinya di depan dosen penguji. Dan benar saja, saat di hadapan dosen penguji, semuanya nge-blank. Tapi demi menutupi kebodohan saya ini, saya hanya cengar-cengir saat menjawab pertanyaan dari para dosen penguji. Alhasil, saya jadi terlihat sangat bodoh. Itu salah satu cerita menakutkan, versi saya bukan versi pada filmnya. 

Sayangnya di film ini tak ada aksi laga antara Iko Uwais vs Toni Jaa, saya sempat kecewa padahal di trailer film Tripple Threat ada adegan kedua aktor laga ini bertarung. Rupanya, saya yang salah film. Di akhir film The Doll 2 ini penuh adegan darah yang mengingatkan saya akan film Rumah Dara, dan yang lebih mengejutkan lagi kedua tokohnya, Luna Maya dan Herjunot Ali. tercantum sebagai pemain di credit title.

Yap itulah spoiler film The Doll 2 versi saya. Bagi yang mau nonton, jangan lupa bawa diri.


Friday, July 21, 2017

Bangunlah Kau Karena Sudah Pagi, Ucapkan Halo Kepada Dunia

Hallo, apa kabar semua?
Gimana kehidupan kalian di tahun 9837 ini, masih pada hidup kah?
Udah lama engga ngeblog lagi, apa ada yang kangen sama saya?
Nanyain kabar saya gitu kek, kemana aja kok udah lama engga muncul lagi... eh sekarang muncul, kenapa harus muncul, udah pada tentram karena kamu engga muncul

Jadi selama saya engga ngeblog, saya sibuk di dunia nyata dan males nulis postingan.
Pagi-pagi saya sudah bangun, lalu ke kamar mandi buat kencing abis itu ke warung beli sebungkus kopi tanpa cuci muka terlebih dahulu.
Kok engga cuci muka, ih jorok deh.
Cuci muka? ah cuci muka buat apa? toh ketampanan saya juga engga akan berkurang meski kerak iler sama belek dimana-mana.
Kadang saya juga nyesel mandi pagi-pagi kalo engga ngajar sama sekali. Jadi mandi itu, kerjaan yang sia-sia kalo engga ada yang bisa dipejeng, buang-buang air doang. Lebih baik engga mandi sama sekali yang penting makan kenyang. Hidup hemat.

Hari Jumat ini, saya dapat kabar menyedihkan. Ya kalian pasti tau lah, ternyata si Agia yang suka anime Gintama engga tau kalo ada Gintama Live Actionnya. Menyedihkan.
Saya yang merasa kasihan dengan nasibnya Agia lalu memberi linknya ke dia. Agia pun ketagihan dengan link yang saya kasih itu.

Abis itu, engga tau mau nulis apa.
Saya cuma mau ngucapin halo sama kalian aja.
Halo

Udah.


Tuesday, May 9, 2017

Menjemput Matahari

Kadang saat pagi hingga siang cuaca di kota ini begitu panas, namun semua bisa berubah saat siang menjelang malam. Hujan bisa mendadak turun, padahal sebelum hujan langit diselimuti awan mendung, jadi siapa yang salah? Cukup, jangan salahkan aku, terima saja hujan yang turun, takkan kau bisa menurunkan hujan kembali ke atas.

Sore ini, aku harus menjemput matahari nan jauh di sana. Dari rumah, kularikan sepeda motorku, namun aku lelah saat menuntun lari sepeda motorku. Harusnya, sepeda motor ini, aku kendarai bukan aku larikan. Lelah hah.

Belum separuh perjalananku, tiba-tiba hujan pun turun di tengah jalan, aku segera meminggirkan sepeda motorku di tepi jalan, aku tidak kehujanan, aku terus melanjutkan perjalananku untuk menjemput matahari.

Duduk di atas jok motor sambil memegangi stang, sejenak aku berpikir sambil melihat langit yang masih disinari cahaya matahari. Matahari, kau begitu jauh, apakah aku sanggup menjemputmu? Aku terus melajukan sepeda motorku ke barat berharap masih bisa menjemput matahari.

Melewati jalanan yang macet, menghitung mobil dan sepeda motor yang lalu lalang, aku seperti kurang kerjaan. Andai menghitung kendaraan itu dibayar, tapi siapa yang mau bayar? Aku terus berpacu melawan waktu sebelum malam datang.


Hingga tiba waktunya, aku sampai di tepi pantai. Oh, waktu yang indah jika ada sosok cantik menemaniku, bermain pasir, bermain ombak, bermain dengan ikan hiu, indah sekali bukan. Di sini, aku berharap masih bisa menjemput matahari. Aku berdiri di tepi pantai melihat ke arah barat, tak ada satu pun sosok cantik itu. Di depan ku hanya ada matahari yang bersiap-siap tenggelam. Aku ingin mengejar matahari yang bersiap tenggalam itu, aku sadar aku tak bisa berenang. Jadi aku pasrah melihat matahari yang sebentar lagi padam akibat dia tenggelam. Padahal di bawah jok sepeda motorku, aku sudah siapkan jaket hujan agar jika aku bisa menjemput matahari, dia tak padam kala hujan mengguyur kota ini. Ah entahlah, pada akhirnya aku hanya membuang waktuku percuma. Matahari gagal aku jemput, haruskah aku keluar angkasa, untuk menjemput matahari? janganlah, ongkos ke luar angkasa akan hanya membuat dompetku mati bunuh diri.

Thursday, May 4, 2017

Ketika Rasa Itu Melandaku

“Ah, lega udah ga mules lagi,” gumam gue Sabtu pagi kemarin.
Sehari sebelumnya, gue dilanda yang namanya mules, entah gue salah makan atau apa tapi yang jelas gue masih normal makan kayak orang-orang,makan lewat mulut.
Sabtu pagi seperti biasa, gue berangkat dari rumah menuju bimbel yang jaraknya kalo ditempuh pake motor cuma lima menit. Dan ajaibnya gue cuma duduk doang di atas jok motor sambil narik gas, eh sampe ke tempat ngajar.

Sabtu ini gue merasa was-was takut pas ngajar tiba-tiba mules datang. Sebab dihari sebelumnya, si mules ini selalu datang tiba-tiba dan memaksa gue harus rajin-rajin ke wc buat nyetor. Pas udah nangkring di atas WC, si mules ini masih berasa tapi jumlah setorannya engga sebanding sama rasa mulesnya. Akibatnya, hasil produksi yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah permintaan konsumen. Alhasil kebutuhan pokok langka dan harganya mahal, akhirnya para buruh demo tanggal 1 Mei kemarin untuk memperingati hari buruh internasional. Makanya tanggal 1 Mei itu dijadikan tanggal merah, gitu ceritanya. Untungnya selama ngajarin bocah-bocah, rasa mules ini sedikit berkurang dan engga separah pas hari kemarin.

Selesai ngajar, si BM (Branch Manager) ngajak 3 orang tutor sama 1 staff adminnya buat makan-makan di Pizza Hut Alam Sutera, buat ngerayain kemenangan persentase tersedikit murid yang keluar, ah pokoknya jumlah persentase murid keluarnya sedikit, nah kayak gitu. Sebagai orang yang belum pernah makan di Pizaa Hut, tentu ini adalah suatu kehormatan buat gue, kapan lagi ya makan di situ terus dibayarin. Tanpa memikirkan rasa mules yang kadang datang tiba-tiba, gue pun ikut. Jam 2 siang, outlet bimbel ditutup karena emang udah waktunya ditutup. Gue sama keempat yang lainnya langsung cus ke sana. Disinilah gue merasa ganteng sendirian, ya soalnya keempat orang itu semuanya cewek. Bangga dong.

Gue sama yang lainnya udah sampe di Pizza Hut. Singkat cerita, makanan yang dipesen pun udah tiba di atas meja. Ada pizza, spageti, macaroni, sama nasi. Entah nasi apa namanya, gue lupa. Selain itu juga mesen minuman es coco jeli gitu. Di atas meja makan juga ada sambal pedas sama sambal tomat. Sebagai orang yang suka makan-makanan pedas, rasanya engga lengkap kalo makan engga pake sambel. Gue pun langsung menuangkan sambel di atas piring, terus mencocol pizzanya pake sambel. Nah, udah tau masih sering mules-mules, gue masih aja makan pedes, udah gitu minum-minuman yang ber-es. Selesai makan, nah baru dah berasa mulesnya, anjirlah.


***
Pas sampe rumah, gue langsung buru-buru buat ke WC dan nangkring seperti biasa.
Plung plung plung, crecet crecet, prepeet prepeeet. Begitulah bunyinya saat di atas WC.
Yang paling parah itu pas malam minggu, udah menjalani hubungan LDRan terus liat sepasang kekasih yang lagi jalan, nyesek, sob. Bukan deng, pas malem minggu itu berasa banget mulesnya. Gue di kamar sampe nungging-nungging di atas kasur nahan rasa mules, mending ya kalo nunggingnya bareng cewek, ena, lah ini sendirian. Kenapa engga ke WC aja? abisnya kesel udah nangkring-nangkring keluarnya cuma seemprit, buang-buang tenaga aja, udah gitu kan di WC cuma nangkring doang engga ngapa-ngapain. Coba kalo di WC bisa tiduran, bisa makan, ada AC-nya, ada TV-nya, ada cewek yang nemenin, betah dah. Namun pada akhirnya, gue kalah sama rasa mules, jam 12 malam gue memutuskan ke WC sendirian… sendirian… sendirian… ya iyalah ke WC sendirian, ngapain ke WC rame-rame? Seperti biasa, rasa mulesnya engga sebanding sama apa yang dikeluarkan dan perlahan-lahan rasa mulesnya hilang seketika. Gue pun kembali ke kamar tapi cebok dulu sebelum ke kamar. Abis itu tidur dah. Tiba-tiba si mules datang lagi. Jam setengah 3 dini hari, gue kebangun gara-gara mules, seperti biasa gue pun ke WC sendirian, dan seperti biasa lagi engga sebanding.

Minggu paginya, gue disaranin sama emak buat ke dokter tapi gue engga mau dan beralasan hari minggu dokternya tutup lagi liburan panjang. Dasar, bocah engga mau sembuh. Pada akhirnya, gue disaranin sama emak buat minum air kobokan daun kapuk. Ya katanya air daun kapuk ini bisa ngobatin penyakit gue. Ya udahlah, dengan tidak terpaksa gue nurutin kemauan emak gue buat minum air daun kapuk. Rasanya itu ya hampir mirip kayak cincau cuma dia engga kayak cincau yang kayak cincau, tapi aromanya kayak daun kapuk karena dibuat dari daun kapuk. Ya, Alhamdulillah abis minum itu, perlahan-lahan, mulesnya ngilang. Tapi kalo kata temen gue, supaya ilang tuh minum baygon. Ya ilang sama nyawa-nyawanya.


Monday, April 17, 2017

Coklat : Akhirnya Bisa Pulang

Rabu pagi sekitar jam sepuluh, Okta sedang asyik-asyiknya duduk sambil menonton drama Korea di layar kaca. Airmatanya sampai mengisi penuh satu ember, dia terharu melihat isi cerita dalam serial drama Korea yang ditontonnya. Kisahnya sungguh menyayat-nyayat hati.
“Uh … uh … uh … sedih banget sih ceritanya. Sabar ya Oppa Siwon, kamu pasti akan mendapatkan kekasih yang lebih baik dari dia. Contohnya aku.”

Okta terus memeras kain yang sudah lepek sama airmata. Tiba-tiba dari belakang mereka, muncul dua sosok makhluk ngeselin, Coklat dan Ival. Mereka berdua segera menghampiri Kak Okta yang masih terpaku menonton drama Korea.
“Pagi, Kak,” sapa mereka berdua.
“Pagi juga, eh kalian udah bangun toh.”
“Iya, kenapa? Kakak kangen ya tanyain kita berdua,” ujar Coklat.
“Hah, terserah kalian aja lah.”
“Kakak lagi ngapain? Lagi ngepel ya, tuh ada ember sama lapnya?”
“Ihhh, kakak itu engga pantes kalo jadi tukang pel, tau!”
“Iya tau, terus kakak itu pantesnya jadi apa dong?”
“Kakak itu pantesnya jadi pacarnya Oppa Siwon, oh Siwon I love you.”
Love you too, Kak,” ujar Coklat.
Plak! Tuing tuing tuing… wuuush!
Itu suara kemarahan Okta yang kembali menendang Coklat, hingga Coklat terbang jauh keluar dari jendela rumah ini dan hilang entah kemana, cliiing! Ival yang melihat kejadian itu hanya terunduk seperti orang yang menyesal. Ternyata Kak Okta itu lebih menyeramkan dari para setan yang mereka temui semalam.
“Hey, sekarang tinggal giliran kamu, kamu mau apa?” tanya Kak Okta dengan wajah sangarnya.
“Ampun, Kak. Kakak engga kuliah?” tanya Ival sambil menunduk.
“Engga, kakak hari ini libur!”
“Tapi kan ini bukan tanggal merah, Kak.”
“Kakak tau, emang hari ini bukan tanggal merah.”
“Makanya kakak kuliah dong! Engga apa-apa ini bukan tanggal merah, kan kasian, Kak, kuliah itu bayar lho! Kakak ini gimana sih!” ngotot Ival.
“Kakak yang kuliah kenapa kamu yang rempong? Terserah Kakak dong!”
“Saya ini perhatian sama kakak! Makanya kakak harus berterima kasih kepada saya dong!”
“Ihhhh, Arrrgghhtt!”
Plak! Tuiiiiing!
Okta sudah tak bisa menahan kesabarannya sekali lagi. Ival pun bernasib sama seperti Coklat, dia terbang melayang keluar jendela kamar ini.
“Aarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrgggghhhtt!” teriak Ival.
“Pagi-pagi, udah ketemu sama orang rese. Gimana caranya mereka supaya engga bertahan di rumah ini ya? Pokoknya gue engga mau kalo mereka terus nginep di sini, bisa-bisa jadi gila gue. Tidaaaaaak!”

Tiga puluh menit kemudian, Okta masih betah duduk di atas sofa sambil menonton si Siwon. Sekarang airmatanya udah penuh dua ember, dia juga masih meres kain yang udah lepek sama airmatanya. Disaat bersamaan, duo orang ngeselin kembali masuk ke rumah ini dengan wajah yang ceria meski tadi sempet melayang entah kemana. Mereka berjalan dari arah pintu depan rumah ini lalu masuk dan menemui Okta yang masih nonton drama Korea.
Hy, Kak Okta, kita kembali lagi,” sapa Coklat.
“Aduuh,” ujar Okta sambil menepok jidadnya sendiri.
Tak berapa lama setelah mereka kembali menemui Kak Okta di ruangan ini, tiba-tiba listrik di rumah ini padam. Layar kaca yang menjadi tempat Okta menonton serial drama Korea pun langsung mati hanya menyisakan layar hitam dan gelap.
“Yaaah, mati lampu padahal engga ada angin engga ada hujan,” keluh Okta.
“Kenapa, Kak?” tanya Ival.
“Ini mati lampu, rese bangetkan lagi seru-serunya nonton si Siwon eh mati lampu.”
“Sabar, Kak, ya. Aku tau apa yang harus aku lakukan saat mati lampu kayak gini,” ujar Coklat.
“Hmmm kamu bisa kembali nyalain lagi lampunya?”
“Kakak lihat aja, pasti kakak terkagum-kagum dengan apa yang akan aku lakukan, Kak.” Senyum Coklat sambil menepuk dadanya sendiri.
“Makasih ya sebelumnya.” Senyum Kak Okta.
Tumben si Coklat sekarang udah berubah, dia mau bantu Okta yang lagi kesusahan seperti ini. Coklat langsung saja bergegas keluar dari ruangan ini, meninggalkan Ival dan Okta berdua.
“Tuh contoh temen kamu, dia tau apa yang harus dilakukan saat seperti ini. Engga kayak kamu.”
“Kakak belum tau saya sih, Kak. Nanti habis giliran Coklat, saya yang akan beraksi, tenang aja.”

Coklat kembali ke ruangan ini dengan membawa sebuah tangga. Entah dari mana dia mendapatkan tangga itu, yang jelas senyum sumringah nampak ada pada wajah Okta. Dia tak habis pikir ternyata anak ini lumayan pintar dan berinisatif juga. Tapi engga ada salahnya kan kalau kita tau tangga yang didapatkan Coklat darimana, begini ceritanya. Pada saat yang bersamaan, ada tetangga Okta yang bernama Udin sedang membetulkan genteng rumahnya. Rumahnya itu berwarna biru muda tepat sekitar sepuluh meter dari rumah Okta yang sepi. Coklat yang sedang mencari-cari tangga tak sengaja melihat ada tangga nganggur di rumah yang berwarna biru itu. Tangga nganggur? Emang selama ini tangga itu bisa kerja ya? Ah sudahlah lupakan saja. Saat melihat tangga itu, Coklat langsung mengambilnya begitu saja sambil berteriak kepada pemilik rumah.
“Pak Om Tante Ibu Mas, saya minjem tangganya dulu ya sebentar.”
“Jangaaan!” teriak Udin entah dari mana.
Coklat menoleh kanan kiri, ternyata tidak ada orang. Tanpa pikir panjang lagi Coklat langsung mengambil tangga itu, sementara Udin yang ada di atas genteng rumahnya hanya bisa kesal melihat seorang anak mengambil tangga miliknya itu.
“Sialan tuh bocah! Kalo gini gimana gue turunnya, aarrgghh!”
Singkat cerita seperti itu. Sekarang ini Coklat sedang berdiri di atas tangga sambil mengambil bohlam lampu milik Okta. Okta bingung, tak mengerti apa yang dilakukan Coklat, dia hanya bisa garuk-garukin kepalanya.
“Eh, kok bohlamnya diambil sih?”
“Tenang aja, pokoknya semuanya beres, Kak.”
Coklat pun kembali turun dari tangga dengan sebuah bohlam di tangan kanannya. Ketika sampai di atas lantai, wajah Coklat langsung bersedih, dia tidak bisa menutupi kesedihannya itu.
“Kenapa kamu nangis?” tanya Okta.
Coklat tak langsung menjawab pertanyaan dari Okta. Kemudian dia meletakkan bohlam itu di atas meja sambil mengajak Ival berlutut menghadap lampu bohlam itu. Suasana menjadi aneh, Okta hanya bisa kembali menggaruk-garukkan kepalanya.
“Eh kalian berdua mau ngapain?”
“Uh … uh … uh … sabar ya, Kak, mungkin sekarang si lampu udah hidup tenang di alam sana.” Isak tangis Coklat.
“Uh … uh ... uh … iya, Kak, sabar. Aku yakin kakak akan dapat penggantinya yang lebih baik dari ini,” ujar Ival.
“Maafin kita, Kak, kita terlambat buat nyelamatin si lampu hingga akhirnya dia tewas seperti ini,” lanjut Coklat.
“Iya, Kak, tadinya aku mau telpon ambulan tapi aku engga tau nomornya dan sebaiknya sekarang kita harus menguburnya sebelum terlambat,” lanjut Ival.
“Dasar bocah streees! Maksud gue tuh listriknya yang padam bukan lampunya yang mati kayak giniii!”
“Oh, bilang dong,” serentak mereka berdua.
Plak! Plak! Plak!
Itu pasti suara kekesalan Kak Okta dengan apa yang barusan terjadi hingga mereka berdua manyun sambil ngadep sama tembok.

Karena masih padam listrik, Okta yang berniat untuk mandi terpaksa mengurungkan niatnya itu. Iih jorok cakep-cakep kok belum mandi. Tapi engga apa-apa sih, mandi engga mandi, Okta tetap cantik kok.
“Haduh, aku mau mandi terus listriknya padam kayak gini, pasti engga ada air nih.”
“Ngapain mandi, Kak? Boros-borosin air aja. Lihat aku ini belum mandi tapi aku masih tetap ganteng kok,” ucap Coklat.
“Hah, ganteng?”
“Iya, kakaknya aja yang belum sadar. Tau engga, Kak? Kalo cewek-cewek di sekolahku itu semua pada tergila-gila sama aku loh.”
“Tergila-gila apa jadi gila beneran gara-gara tingkah kalian berdua?”
“Itu juga termasuk loh, Kak.”
“Udahlah, mendingan kalian berdua nyumbang air aja buat kakak mandi gimana?”
“Tapi bayar ya, Kak?” tanya Ival.
Coklat… Ival… dimana-mana tuh kalau nyumbang engga bayar alias gratis tis tis tis. Haduh ini tokoh berdua emang nyusahin siapa aja yang ketemu sama mereka.
“Dasar mata duitan kamu!”
Ival yang disangka mata duitan oleh Okta kemudian mengajak Coklat mundur sejenak untuk berunding sebentar, kayaknya ada bisnis nih di antara mereka berdua. Suara mereka msaling berbisik-bisik.
“Coklat, emang gue mata duitan?”
“Wah gue engga tau, mending lo kedip-kedipin mata lo aja.”
“Nanti keluar duit ya?”
“Ya engga lah, ya engga mungkin keluar duit, gimana sih lo?”
“Huhft.”
Setelah membahas hal yang engga penting kayak gitu, mereka berdua kembali menemui Kak Okta. Sekarang bahasan apa lagi nih yang engga penting dari mereka berdua.
“Kalian mau ikut kakak engga?”
“Kemana, Kak?” tanya Coklat.
“Kita ke kampus.”
“Ngapain?”
“Kita cari ayam kampus di sana, mau kan kalian? Boleh dibawa pulang kok ayam kampusnya.”
Coklat dan Ival yang mendengar kalau ayam kampus boleh dibawa pulang kegirangan bukan main. Mereka berdua lompat-lompatan di hadapan Kak Okta sambil berteriak cihuuy. Dasar mereka kayak anak kecil aja, anak kecil juga engga mau disamain kayak mereka. Namun sebelum mereka ke kampus, mereka terlebih dahulu untuk sarapan pagi, tepatnya bukan pagi sih, ini di antara pagi dan siang jadinya p’yang.

Di ruang sarapan ini, di meja sarapan ini. Mereka bertiga bersiap untuk sarapan, hah sarapan? Udah jam berapa ini? Tapi terserah mereka lah, mau sarapan jam delapan malam juga engga apa-apa. Mereka duduk di atas bangku masing-masing, di atas meja sudah tersedia sepotong roti tawar yang dilengkapi oleh masinis, eh mesis maksudnya.
“Kak, kami boleh makan ini?” tanya Coklat.
“Boleh.”
“Makasih ya, Kak,” serentak Coklat dan Ival.
Ketika sepotong roti tawar hendak masuk ke mulut Okta, tiba-tiba Coklat melarang Kak Okta untuk memakan roti itu.
“Tunggu, Kak!”
“Apa sih?”
“Kita kan udah dikasih sarapan gratis nih, kayaknya kita engga naruh rasa hormat sebelum Kakak ngasih sambutan sebentar aja, ya pliiis.”
“Iya, Kak, kayak acara yang penting-penting gitu ada sambutannya.”
“Ya udah, Kakak kasih sambutan sekarang.”
Kak Okta pun berdiri di hadapan mereka memberi sambutan hangat. Ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa tak lupa disematkan oleh Okta, begitu pula dengan ucapan terima kasih kepada kedua orangtua Kak Okta, tak lupa juga ucapan terima kasih kepada saudara dan teman-teman yang telah mendukung Kak Okta, entah mendukung apa.
“… saya ucapkan terima kasih, sekian.”
Kak Okta kembali duduk di bangkunya dan bersiap melahap sepotong roti yang sudah ada di tangannya, namun lagi-lagi Coklat menahannya kembali.
“Tunggu, aku sama Ival belum kasih sambutan.”
“Huhtf, ya udah cepetan sana!”
Coklat kemudian berdiri di hadapan mereka berdua. Dia memberi sambutan kepada dua orang yang ada di ruang sarapan ini. Ini aneh-aneh aja, mau sarapan pakai acara sambutan segala.
“Hadirin dan hadirat yang saya hormati, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Waalaikumsalam.
“Sebelumnya marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas nikmat dan rahmat yang telah dianugerahkan kepada kita semua, sehingga khususnya pada pagi hari ini kita semua diberi kenikmatan berupa kesehatan jasmani dan rohani. Amien… tak lupa juga saya ucapkan terima kasih atas dukungan juga kepercayaan Kak Okta dan juga Ival yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengemban tugas yang mungkin tidaklah ringan. Namun dengan dorongan dan motivasi yang rekan-rekan berikan kepada saya, InsyaAllah saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Kak Okta berikan kepada saya ini. Selanjutnya saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada segenap hadirin yang dengan tulus ikhlas tanpa paksaan maupun tekanan dari pihak manapun yang telah dengan tulus telah memilih saya untuk mengemban amanat ini ya walau saya tau perut para hadirin ini sudah pada keroncongan kan? Saya tidak akan lama memberi kata sambutan ini. Hadirin yang saya hormati, tanpa kepercayaan Kak Okta juga saudara-saudara sekalian, tidaklah mungkin saya bisa berdiri dihadapan Kak Okta juga Ival, jadi tak salah kalau saya ucapkan terima kasih atas semua kepercayaan dan dukungan ini. Atas nama mereka berdua dan atas nama pribadi, saya memohon juga kepada rekan sekalian untuk bersama-sama menjalankan amanat ini, karena tanpa dukungan dari semua pihak, tidaklah mugkin saya akan bisa menjalankan amanat ini dengan benar yang sesuai dengan aturan-aturan yang telah ada. Sekali lagi, saya sangat mengharapkan sekali dukungan-dukungan dari saudara-saudara sekalian. Marilah kita saling koreksi bila di antara kita terjadi kesalahpahaman atau berbeda pendapat, karena dengan saling koreksi, InsyAllah segala sesuatunya akan bisa kita selesaikan secara demokrasi sesuai dengan landasan hukum yang kita anut di negara tercinta ini. Sekali lagi, terima kasih atas semua kepercayaan ini. Tak banyak yang dapat saya sampaikan dikesempatan ini. Saya hanya berharap dengan kepemimpinan saya di atas meja sarapan ini bisa memberikan dampak positif yang membuat kita lebih maju lagi kedepannya. Amin. Akhir kata dari saya, Wabillahitaufiq Walhidayah, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Waalaikumsalam …,” serentak Kak Okta dan Ival.
“Udah sambutannya?”
“Udah, Kak,” jawab Coklat.
“Oh baguslah kalo gitu kakak langsung makan ya,” ucap Kak Okta bersiap makan roti.
“Tunggu, Kak!”
“Apalagi sih?”
“Kita belum berdoa loh.”
“Ya udah berdoa aja dalam hati masing-masing, ngertikan?”
“Engga bisa, saya panggilin ustadz ya?”
“Jangan! Kakak udah engga tahan nih, laper banget!”
Akhirnya Kak Okta langsung melahap sepotong roti. Haduh-haduh, mau sarapan aja kok repotnya minta ampun dah.
***
Sore hari, mereka bertiga sudah sampai kampus. Ya saat sampai kampus, Kak Okta langsung mengajak mereka berdua ke sebuah kandang ayam yang ada di belakang lab biologi kampus ini. Mereka bertiga berdiri sambil menghadap ke kandang ayam itu. Senyum ceria tersematkan di wajah Okta.
“Nah ini ayam kampus, gimana cantikkan?”
“Hmmm, kok aneh ya?” tanya Ival cengo.
“Kenapa aneh?”
“Ayam kampus itu bukannya dari jenis manusia ya?” tanya Ival.
“Kamu salah, ayam kampus memang seperti itu sejak dulu. Kalian lihat itu hewan apa?”
“Ayaaam,” serentak Coklat dan Ival.
“Betul, terus ayamnya ada di lingkungan apa?”
“Kampuuus.”
Good, kalau digabungin jadinya apa?”
“Ayam kampuuus,” serentak Coklat dan Ival cengo.
Ini entah siapa yang engga ngerti hanya Okta yang tau. Ketika mereka masih melihat cantiknya ayam kampus terdengar ada suara yang memanggil mereka berdua dari belakang.
“Coklaat! Ivaaal!”
Saat mereka berdua menoleh, ternyata Bu Riny dan Pak kepala sekolah datang menjemput mereka. Suasana pun menjadi haru, ketika Bu Riny dan Pak kepala sekolah yang ada di depan Bu Riny beserta Coklat dan Ival berlari seraya memeluk bersama melepas kerinduan yang ada.
“Ibuuu! Bapaaak!” seru Ival dan Coklat.
Ival dan Coklat masih berlari seraya ingin memeluk Pak kepala sekolah. Saat mereka di hadapan Pak kepala sekolah, mereka terus berlari. Mereka pilih-pilih orang untuk dipeluk, ternyata mereka lebih memilih untuk memeluk Bu Riny ketimbang Pak kepala sekolah.
“Dasar! Mereka berdua engga boleh ngeliat guru cakep, masa saya ditinggal gitu aja.”
Suasana bahagia tampak terlihat di antara mereka berlima. Sementara hari sudah mau menjelang malam, di lain tempat si Udin yang masih di atas genteng cuma bisa bengong ngarepin tangganya dikembalikan.
“Busyet dah, jam segini tangga gue belum dibalikin. Aduh, gimana nih turunnya?”