Wednesday, November 30, 2016

Ini Dia Bokapnya Coklat

Cerita kemaren, Coklat dan Ival ditinggal di kampus, terus gimana keadaan mereka berdua? Nah ini dia lanjutannya, ada bokapnya si Coklat juga loh.

Mentari sore mulai menguningkan langit-langit di bawah kampus ini. Suasana mulai sudah sepi, Ival dan Coklat berdiri di depan ruangan BEM kampus ini. Mereka berdua bengong aja sambil nunggu Okta keluar dari ruangan ini. Tiga puluh menit berlalu, ya selama tiga puluh menit itu mereka berdua masih bengong di depan ruangan BEM, tuh bocah ngapain pada bengong aja? Padahalkan mereka bisa ngapain-ngapain kek di kampus, kayak contohnya bakar gedung kampus, teriak-teriak di luar kampus atau lari sambil telanjang di area kampus. Setelah lama menunggu, akhirnya Okta beserta para pengurus BEM pun keluar dari ruangan. Kak Okta terkejut melihat mereka berdua masih ada di kampus.
“Kalian? Kok, engga kembali ke sekolah?”
“Kami ketinggalan bus kak dan kami tersesat dan tak tau arah pulang,” jawab Ival
“Oh, kasian. Ya terus?”
“Kami boleh nginep kan di rumah kakak? Tenang kok, Kak, gratis juga engga apa-apa.”
What, no! Enak aja gratis, bayar!” teriak Okta.
“Udahlah, Tek, kasian mereka. Pasti orang tua mereka lagi nangis-nangis nyariin mereka karena anaknya engga pulang,” kata Erik lagi ngupil.
Erik-Erik, orang yang satu ini kok hobi banget ngupil. Itu kering kali ya digaliin mulu setiap hari, ya sudahlah jangan dipikirkan. Itu kata Erik kalau orangtua mereka nangis-nangis karena belum pulang dari sekolah. Mari kita lihat keadaan orangtua Coklat di rumahnya.

Malam ini di kediaman Coklat, mereka diberi kabar kalau Coklat tertinggal di kampus oleh pihak sekolah. Di ruang tamu yang dihiasi bangku berwarna merah jambu dan sorotan lampu bohlam berwarna putih menjadi penerang dalam ruangan kecil ini. Di ruang ini pria paruh baya, berbadan tegap dan mempunyai kumis tipis di atas mulutnya, ya iyalah kumis mah emang di atas mulut bukan di atas mata, kalau di atas mata itu namanya alis. Ya dia adalah bapaknya Coklat, dia sedang menerima kedatangan Bu Riny. Bu Riny duduk di hadapan Bapaknya Coklat, sementara ada ibu-ibu yang sedang berdiri di samping bapaknya Coklat, ibu itu adalah ibunya Coklat. Wajahnya seram, tapi cantik lho. Dia itu kayak model, kayak Angelina Jolie.
“Malam, Pak.” Senyum Bu Riny.
“Malam juga, ada apa, Bu Riny? Kangen ya sama saya?” tanya bapak Coklat sambil senyum-senyum.

Ibu Coklat yang berdiri di samping bapaknya itu lalu berubah menjadi sosok monster menakutkan, badannya yang kecil berubah menjadi besar, rambutnya yang tadinya lurus berubah menjadi berdiri, matanya menyoroti tajam sang suami.
“Kamu bilang apa, Pak?!” tanya nyokapnya Coklat berwajah sangar.
“Engga kok, Mah. Just kidding,” ucap takut bokapnya Coklat.
“Sini! Kita selesaikan di dalam!”
“I … iya, Mah.”

Mereka berdua menyelesaikan masalah itu di dalam. Brang… brught… plaaak… byuur… taaang… kedebuuug… teeeeng… door! Dari ruangan dalam terdengar suara-suara aneh yang membisingkan telinga Bu Riny. Kalau seperti itu pasti ada barang-barang rumah tangga yang melayang, contohnya piring melayang, gelas melayang, panci melayang, kenceng melayang dan tivi, oh tivi tidak melayang karena mahal harganya. Sayangkan kalau sampai melemparkan sebuah televisi.
“Haduh, pantes aja anaknya kayak gitu, mereka berdua juga aneh,” ucap Bu Riny.

Setelah memakan waktu lima menit menyelesaikan masalah tersebut, akhirnya bokap Coklat kembali ke ruang tamu menemui Bu Riny. Dia tersenyum walau seluruh wajahnya biru-biru dan benjol-benjol akibat terkena barang-barang yang melayang. Dia tetap tersenyum, karena baginya tersenyumlah disaat keadaan apapun juga, meski keadaannya itu tak menyenangkan.
“Maaf, tadi ada masalah sedikit. Ibu ada perlu apa ya?”
“Gini, saya mewakili pihak sekolah meminta maaf atas .…”
“Uh … uh … uh … uh … Coklat-Coklat, umurmu ternyata pendek ya nak.” Bokap Coklat langsung mewek.
“Hah, apa? Coklat mati!” ujar terkejut nyokap Coklat.
“Sudahlah, kita ikhlaskan saja dia.”
“Ayah, ibu sebenarnya masih sayang sama dia uh … uh … uh .…”
Bu Riny lalu hening sejenak, sebelum melanjutkan pembicaraannya.
“Haduh bukan, dia engga mati kok. Dia cuma ketinggalan di kampus.”
“Oh ketinggalan di kampus, ya udah biarin aja, tuh bocah kalau laper pasti pulang kok ke rumah. Lagian juga kan kalo engga ada dia, kita bisa hemat makanan, Mah”
“Iya, betul banget kayaknya merdeka kita kalau dia engga ada di rumah.”
“Ya ampun, emang dikira ayam kalau laper langsung pulang? Lagian tadi memble sekarang anaknya engga pulang biasa senang banget kayaknya,” ucap dalam hati Bu Riny, “tapi kami akan berusaha mencari dia  hingga ketemu,” ucap Bu Riny.
“Oh jangan, udah biarin aja. Dia udah gede kok, tau jalan pulang sendiri.”
“Tapi kan dia itu anak bapak?”
“Oh bukan, Bu Riny, dia itu bukan anak saya.”
“Loh?”
“Iya, Bu Riny, saya mana bisa sih beranak. Yang tepat itu dia anak dari istri saya soalnya dia yang melahirkan si Coklat.”
“Iya deh, terserah kata bapak aja. Ya sudah terimakasih, kalau begitu saya permisi.”

Bu Riny pun berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan menuju pintu keluar. Bu Riny yang barusan saja berdiri dan hendak keluar dari pintu ini tiba-tiba berhenti ketika bokap Coklat memanggil dia.
“Bu Riny.”
Bu Riny pun menoleh ke arah bokapnya Coklat, Bu Riny pun lalu tersenyum.
“Minta nomor handphone-nya dong, biar kalo bapak kangen tinggal nelpon aja gitu.”

Mendengar ucapan dari sang suami, lalu tiba-tiba nyokap Coklat menarik tangannya. Suasana kembali seperti tadi, barang-barang rumah tangga pun kembali melayang. Plentaaang… kedebuk… taaang… teeing… bught… baght… semua barang rumah tangga kembali terbang, kecuali barang-barang yang mahal.
“Ampuuuun, Maaaaah!” teriak bokap Coklat.
Ternyata Erik salah, mereka biasa-biasa aja walaupun Coklat engga pulang, makanya Rik jangan sok tau.

Thursday, November 24, 2016

Ini bapaknya, ini anaknya, terus mana emaknya?

Assalamualaikum wr wb
Apa kabar kawan? Sehatkah hari ini? Mudah-mudahan sehatlah
Jangan sampai kayak pemilik blog ini, yang katanya “engga sehat”
Hmm hari ini saya mau nulis tentang apa ya? belum ada tulisan yang patut dibaca sih sebenarnya mah.
Gimana kalo hari ini ngomongin ayah dan anak? Kalian tau engga sebenarnya salah dua bloger yang saya kenal itu adalah ayah dan anak. Saya engga menyangka kalo mereka punya hubungan keluarga. Kalo dilihat dari tampangnya sih ayah dan anak ini mukanya engga jauh beda, si anaknya ketuaan si ayahnya kemudaan. Tapi yang masih saya bingung, si ayah ini padahal belom nikah loh, kok udah punya anak? Anehkan?
Ok tanpa berlama-lama lagi, saya akan membuktikan dulu kebenaran dugaan saya ini. Saya masih belum bisa menyebutkan siapa sosok ayah dan anak yang dimaksud.

  • Buah Jatuh tak Jauh dari Pohonnya.

Si ayah ini lahir pada tanggal 1 Mei 1993 dan si anak lahir pada tanggal 7 April 1992. Jelas disini si anak lebih tua daripada si ayah, ini sudah menjadi bukti bahwa memang ayah seharusnya lebih muda dari si anak. Jika dilihat dari zodiaknya, si ayah berzodiak Taurus dan si anak berzodiak Aries. Taurus disimbolkan dengan Banteng dan Aries disimbolkan dengan domba.
sumber
sumber


Lalu apakah hubungannya Banteng dengan Domba? Hubungannya banteng dengan Domba sama-sama memiliki tanduk dan itu artinya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kalo buahnya jauh paling ketiup angin kalo engga ditendang sama anak tetangga. Si anak ini ingin mengikuti si ayah yang memiliki tanduk.

  • Rahasia di balik nama si anak.

Kalian pasti bertanya, siapa sih si anak yang saya maksud? Si anak yang saya maksud adalah Son Agia
Di balik nama Son Agia menyimpan rahasia yang tak saya duga. Son Agia, jika di pisah menjadi Son A Gia yang berarti Anak seorang Gia. Lalu siapakah Gia itu?
Perhatikan gambar berikut.
sumber
sumber

  
Apakah anda berpikiran sama dengan saya?
Ya tulisan GIA berada di jersey M.U jika dibaca dari kanan dan jersey M.U dipakai oleh seseorang yang bernama Efha Rifqi alias Admin Banyolansia.
Jika Gia = Mu dan Mu = Rifqi, maka berarti Gia = Rifqi
Jadi, bisa kita simpulkan Son A Gia itu menjadi Son A Rifqi yang berarti anak seorang Rifqi

  • Si Anak mengikuti jejak ayahnya.

Anda tau Roy dan Gading Martin? Ya, si anak mengikuti jejak ayahnya menjadi artis tanah air. Anda tau Rhoma Irama dan Ridho Rhoma? Ya, si anak juga mengikuti jejak ayahnya yang jadi penyanyi dangdut. Lalu anda tau Admin Banyol dan Son Agia? Ya, si anak mengikuti jejak ayahnya, sama-sama pake baju merah



Gimana nih perasaannya pas udah tau kalo kalian berdua anak sama bapak? Pasti seneng dong, pelukan dong. Salim dulu sana sama bapak kamu, Son. Inget, Son, sama bapak engga boleh ngelawan. Buat Admin Banyol, perhatiin dong anak kamu, kasian dia galau mulu. Kasih uang jajan yang cukup, biar engga kelaperan.

Sunday, November 20, 2016

Puisi : Tentang Gajah

Gajah

Kau besar
Kau berkaki empat
Terkadang aku sulit membedakanmu dengan kucing
Karena kucing juga berkaki empat
Tapi aku tau
Kau tidak memiliki kumis

Kau besar
Kau memiliki belalai
Terkadang juga aku sulit membedakanmu dengan kupu-kupu
Karena kupu-kupu juga memiliki belalai
Bahkan belalai dia lebih terkenal darimu
Pok ame ame belalai kupu-kupu
Digaplok biar rame kalo malem nyedot susu

Kau besar
Kau memiliki gading
Namun sayang kini gadingmu pergi meninggalkanmu
Dia lebih memilih Roy Marten untuk jadi bapaknya
Kau tenggelam dalam kesepian saat ditinggal gading
Sama seperti seorang jomlo yang kesepian di sabtu malam

Kau besar
Karena besarmu itu kau membangun sebuah negeri yang berjuluk dirimu
Dan negerimu itu sudah mengalahkan timnasku di ajang piala AFF kemarin
Awalnya aku sudah senang saat timnas berhasil menyamakan kedudukan menjadi dua sama
Namun, akhir pertandingan timnasku tetap kalah
Walau kalah timnas masih punya kesempatan
Dilain pertandingan Singapura berbagi angka dengan tuan rumah, Filipina
Nah berikut ini jadwal timnas di AFF Cup 2016 usai lawan Thailand kemarin
Selasa, 22 November pukul 19.00
Indonesia vs Filipina (Live RCTI dan iNews TV)
Jumat, 25 November pukul 19.00
Indonesia vs Singapura
Semoga Timnas kita bisa juara






Sunday, November 13, 2016

Coklat : Gas Beracun

Edisi sebelumnya di sini            

Study campus pun akan segera dimulai kembali setelah tadi terjadi banjir yang mendadak. Kini peserta study campus berkumpul di halaman samping masjid dan dibagi sesuai dengan kelasnya masing-masing. Anak-anak IPA tujuh sekarang sedang berbaris rapih di hadapan dua mahasiswa. Satu mahasiswa berjenis laki-laki dan satu lagi perempuan. Mahasiswa laki-laki di hadapan mereka bertubuh sispek, berwajah tampan, mempunyai mata agak sipit, terus rambutnya belah pinggir klimis. Mahasiswa laki-laki itu bernama Erik, para siswa perempuan IPA tujuh seakan terhipnotis dengan ketampanan yang dimiliki Erik.
“Iihhh, kakaknya ganteng bangeeet,” kompak Wakamiya dan Sweety.

Tapi sayang dibalik wajah tampan yang dimiliki Erik, dia ternyata seorang pengupil. Di hadapan para anak IPA tujuh dengan nikmat dia mengorek-ngorek hidungnya sendiri pakai telunjuk. Akibat sering memasukkan telunjuknya ke lubang hidung, terjadilah keajaiban pada telunjuk Erik. Keajaibannya itu adalah telunjuk yang awalnya lurus tiba-tiba berbentuk tanda tanya ketika keluar dari lubang hidung.
“Ajiiib, enak banget ya gali emas sambil berdiri ...,” ucap Erik.
“Jorok banget lo, Rik,” ucap Okta di sampingnya.
“Iuuuh, ganteng-ganteng ngupil,” ucap Sweety merasa geli.

 Sementara mahasiswa perempuan itu bernama Okta yang biasanya dipanggil Otek, ya dia gadis manis yang berhijab. Wajahnya imut kayak Nabila JKT48, tapi dia itu... galak.
“Cepat lo cuci tangan, jorok banget tau engga lo!” tegas Okta.
“Ah nanti aja, Tek.”
“Cepetan, kalau engga mau!” seru Okta dengan wajah sangarnya.
“I ... iya ...” ucap Erik ketakutan.
Seusai memarahi Erik, kini Okta memperkenalkan diri di hadapan anak-anak IPA tujuh.
“Perkenalkan nama saya Okta dan tadi itu Kak Erik.”
“Kak,” ucap Coklat mengancungkan tangan.
“Iya, kenapa?”
“Sekarang kan hari Selasa, lusa hari apa ya, Kak?”
“Hari Kamis, kenapa?”
“Oh hari Kamis, aku cuma mau bilang, Kak miss you hehehe.”
“Gombaaal!”
Merasa tak senang digombali, Okta langsung menendang pantat Coklat, hingga Coklat melayang ke angkasa. Tuuuuiiiiing... cliiiing... ya nasib Coklat kayak di film-film kartun gitu yang terbang ke angkasa terus menghilang. Teman-teman satu kelas Coklat pun pada senang melihat Coklat hilang dari mereka.
“Aaaah tidaaaaak‼” teriak Coklat.
“Horeeee! Horeee! Dia pergiii!” serentak anak-anak IPA tujuh sambil lompat mengangkat kedua tangannya.
“Saya tidak suka terhadap orang-orang slengean seperti mereka, jadi saya harap kalian di sini bisa menjaga etika kalian, mengerti!”
“Ngertiii!”
“Bagus, sekarang ikut kakak. Kakak mau mengajak kalian ke fakultas keguruan.”

Coklat pun telah kembali berkumpul dengan anak-anak IPA tujuh setelah tadi terbang melayang entah kemana. Kak Okta dan kak Erik mengajak mereka ke fakultas keguruan di kampus ini. Sampainya mereka di satu ruangan kelas fakultas ini, Okta langsung menerangkan apa saja yang ada di dalam keguruan, sementara Erik yang ganteng masih aja betah gali emas di hidungnya. Hal itu membuat ilfeel anak-anak perempuan IPA tujuh, rasa kagum yang sempat mereka miliki pun punah dan hilang tak berbekas.
“Hmmm, nikmatnya, Taaa ....”
“Plis deh, Rik, jangan ngupil mulu kenapa?”
“Ah, gue ngupil pake tangan gue sendiri, kenapa lo yang repot?”
“Masalahnya lo diliatin sama anak-anak sekolah!”
Tak sabar menahan amarahnya, Okta pun langsung menendang pantat Erik, hingga Erik bernasib sama kayak Coklat tadi. Dia terbang tuiiiiing dan cliiiiing, menghilang.
“Ahhhh, nooooo‼” teriak Erik.
“Maaf ya, Adik-adik, hah biasalah dia itu pengacau. Oke, ini dia fakultas keguruan dan ini kelasnya, kalau adik-adik mau jadi guru atau dosen, di sinilah tempatnya.”
“Oh, jadi kita cuma masuk kelas ini terus keluarnya jadi guru ya, Kak?” tanya Coklat dengan wajah polos.
“Bukan gitu juga keles, maksudnya ya kalian belajar di sini.”
“Oh, jadi pagi-pagi kita masuk kelas ini dan terus pas keluarnya udah langsung jadi guru, ya?”
“Bukaaan, tapi kamu belajar dulu selama kurang lebih empat tahun di sini.”
“Oh, apa itu engga pusing kak belajar selama empat tahun tanpa henti?”
“Maksudnya itu lulusnya setelah empat tahun.”
“Oh .…”

Kak Okta lalu memasang wajah cemberut di hadapan mereka, sabar kak ya sama anak-anak aneh kayak mereka itu. Okta pun menarik napasnya dahulu, kemudian membuangnya kembali.
“Kak, di tempat tinggal saya ada lima orang guru yang ngajar satu anak, anak itu susah banget diajarinnya, disuruh baca dia engga mau, disuruh nulis juga engga mau, anak itu maunya cuma makan sama tidur mulu kak, kenapa ya kak bisa begitu? Apa gurunya yang kurang profesional atau?” tanya Ival.
“Anak itu mungkin kurang normal?” tanya kak Okta dengan wajah serius.
“Normal loh, Kak, dia bisa beradaptasi dengan teman-temannya di luar.”
“Pasti anak itu malas belajar, memang anak siapa itu?”
“Anak macan, Kak, susah banget diajarinnya.”

Kak Okta lalu terhening mendengar ocehan yang engga berbobot. Dia menundukkan kepalanya sambil berdoa.
“Ya Tuhan, makhluk jenis apa yang Engkau kirimkan padaku.”
Sabar ya Okta kalau ngadepin mereka. Kak Okta hanya bisa menarik napas dan lalu membuangnya kembali, dia harus ekstra sabar di sini.

Setelah dari fakultas keguruan dan muka Okta yang sudah agak kusut, mereka satu rombongan lalu pergi ke fakultas Biologi. Mereka diajak ke sebuah lab yang biasa menjadi tempat penelitian makhluk hidup. Di dalam lab ini yang dihiasi oleh berbagai jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan kecil.
“Ini fakultas Biologi, disini jika kalian ingin mempelajari hewan, tumbuhan dan manusia di sini t
empatnya.”
“Kak, tumbuhan sama manusia itu sama-sama makhluk hidup, ya?” tanya Coklat.
“Iya tepat, kenapa?”
“Oh berarti kalo tumbuhan udah besar, dia bisa disuruh belanja ke warung ya, Kak, terus lagi dia bisa ngerti pacaran juga ya?”
“Engga, tumbuhan kalau sudah besar berarti dia sudah engga lagi kecil!” jawab Okta greget.
Setelah dihadapkan oleh pertanyaan-pertanyaan engga berbobot dari para siswa laki-laki, kini giliran siswa perempuan yang bertanya. Nah biasanya kalau siswa perempuan itu lebih berbobot pertanyaannya.
“Kak, apa tumbuhan itu mempunyai jenis kelamin seperti manusia?” tanya Sweety.
“Iya, tumbuhan itu mempunyai jenis kelamin.”
“Tapi kok, kelaminnya engga keliatan ya? Padahalkan engga pake celana ataupun sempak?”
“Haduh.”
 Kak Okta sudah mulai engga betah terus deket-deket sama mereka. Dia ingin semua penderitaan ini berakhir.
“Kapan ya ini udahan? Terus mana lagi si Erik,” ujar dalam hati Okta.
“Kak, kodok itu hewan yang hidup di dua alam ya, Kak?” tanya Tiar.
“Iya, tepat sekali. Ini baru pertanyaan yang berbobot.”
“Oh, berarti sama dong kayak babi ngepet terus serigala jadi-jadian, mereka juga hidup di dua alam, alam gaib sama alam nyata, Kak,” lanjut Tiar.
“Emaaaa tolooong, Oktaaaa udah engga sanggup lagi ngeladenin merekaaa!”
Dikarenakan kak Okta sudah tidak sanggup lagi mendampingi anak IPA tujuh, maka waktu dipercepat, akhirnya jam istirahat pun telah tiba. Mereka, anak-anak IPA tujuh kembali ke aula untuk menikmati isoma.

Sekarang sudah waktunya isoma, nah kalau urusan makan-memakan, orang-orang aneh itu jagonya. Mereka bertiga ngantri paling depan untuk dapetin nasi kotak terutama yang namanya Coklat. Nasi kotak dibagikan oleh kakak-kakak mahasiswa. Kebetulan saat itu kak Okta yang membagikannya. Coklat berdiri di hadapan kak Okta, tangannya menagih nasi kotak sambil tersenyum manis.
“Eh kamu lagi, udah kali ini kamu jangan nanya yang aneh-aneh.”
“Iya santai aja. Kak, ini gratiskan?”
“Iya,” ucap kak Okta sambil pasang wajah cemberut.
“Boleh bawa pulang engga?”
“Engga,” ucap Okta sambil memberikannya nasi kotak.       
“Isinya apa aja?”
“Udah cepetan, yang lain udah pada ngantri noh!”
“I … iya, Kak.”
Coklat pun lalu pergi dari hadapan Okta, Erik yang berdiri di sampingnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Baru kali ini gue ngeliat lo dibuat stress sama tuh anak.”
“Makanya entar lo gantiin gue buat ngadepin tuh anak.”
“Tenang aja, bocah SMA kayak dia mah, kecil buat gue.”

Nasi kotak sudah dibagikan semua kepada para siswa SMA Harapan Nusantara. Di tempat duduk paling belakang, berkumpullah orang-orang aneh sedang menikmati makan siangnya. Dari cara mereka makan dengan begitu lahapnya, sudah dipastikan bahwa mereka sengaja tidak sarapan di rumah hanya untuk mendapatkan makanan gratis.
“Engga sia-sia gue engga makan dulu di rumah, enak banget nih makanan sumpah,” ujar Coklat dengan bangga sambil menyomot daging sapi dari kotak.
“Iya sama, gue juga udah laper banget nih,” ucap Ival seraya seperti Coklat.
“Betul, kalo gue sih betah tinggal di sini, makanannya aja enak banget,” ucap Tiar.

Sweety dan Wakamiya yang duduk di depan mereka, rasanya kasian mendengar ucapan mereka seperti orang yang baru pertama kali ketemu sama nasi.
“Kasian ya mereka, Miya, kayak orang kelaperan.”
“Iya Sweety, untung aja aku engga kena virus aneh kayak mereka.”
“Eh ngomong-ngomong, ruangan ini dingin ya, kayaknya enah nih buat makan yang pedes-pedes.”
“Kamu mau makan yang pedes-pedes?”
“Hmm boleh.”
Kemudian Wakamiya mengambil sesuatu dari kantung plastik berwarna hitam. Wakamiya dengan entengnya menawarkan puluhan cabai rawit pada Sweety.
“Nih Sweety, makananan yang kamu cari.” Senyum Wakamiya.
“Apaan nih?!”
“Makanan pedes, cobain deh pasti kamu ketagihan abis makan ini.”
“Et dah, kamu ternyata sama aja kayak mereka, masa aku ditawarin makan cabe? Yang bener aja!”
“Udahlah, Sweety, engga baikkan nolak tawaran dari temen sendiri.”

Akhirnya mau engga mau, Sweety dengan senang hati memakan cabai pemberian dari Wakamiya. Sweety mengunyah cabainya penuh dengan rasa senang di hadapan Wakamiya, padahal dalam hatinya. “Ya ampuuun, kenapa teman gue bisa polos kayak si Coklat ya, tidaaaak!”
“Kamu seneng banget sih, aku kasih cabe. Besok aku bawain ke sekolah buat kamu.”
“Engga usah … engga usah, mending kamu kasih sama Ival aja tuh.”

Lima menit kemudian, akibat kebanyakan makan cabai. Tampang Sweety mulas, dia memegangi perutnya. Dia sudah tidak tahan lagi menahan mulasnya dan keluarlah gas beracun dari salah satu lubang bagian tubuhnya. Gasnya menyebar ke seluruh ruangan aula ini.
“Aaaahh … legaaaa.”
Ucup mengendus-ngenduskan hidungnya. Dia menghirup aroma aneh yang mengelilingi ruangan aula ini.
“Wangi apa ini?
Ini ceritanya yang salah apa hidung dia yang salah? Kalau Ucup menikmati aroma harum di hidungnya, berbeda dengan anak-anak lain. Napas-napas dari mulut mereka serasa mau berhenti. Mereka kompak terjatuh dari tempat duduknya sambil memegangi lehernya masing-masing.
“Bau apa ini uhuk … uhuk?” ucap salah satu siswa.
“Aduuh, Val, bau apa ini menyengat sekali uh … uh …,” ucap Coklat merintih.
“Entahlah, sepertinya ini gas beracun,” ucap Ival.
“Sepertinya kita akan tewas,” ujar Tiar.

Tidak hanya siswanya yang mati-matian untuk bertahan hidup dari gas beracun ini, tapi guru mereka juga.
“Uhuk … uhuk … ada apa lagi ini, Pak kepala sekolah?” tanya Bu Riny yang sudah tak sanggup menahan gas beracun ini.
“Entahlah, Bu.”
Sementara Wakamiya sudah tak sadarkan diri, dia pingsan tergeletak di lantai begitu juga dengan Sweety. Ternyata secantik-cantiknya perempuan, kalau kentut masih bau juga. Melihat kondisi yang semakin memburuk, pihak kampus segera memanggil ambulan.
“Gawat! Panggil ambulan sekarang juga!” teriak kak Okta.
Pun pihak medis datang, mereka bergegas masuk ke dalam aula dengan menggunakan masker lalu menyemprotkan ruangan aula ini dengan gas pewangi ruangan. Setelah usai menyemprotkan aula ini, tim medis membawa dan mengevakuasi para korban yang rata-rata sudah tidak berdaya lagi ke tempat yang aman.

Di pelataran masjid kampus, para siswa SMA Harapan Nusantara tergeletak tak berdaya begitu juga dengan guru-guru mereka. Di sisi lain, tim medis bersama kakak-kakak mahasiswa terus mengobati mereka. Coklat yang masih tertidur, tak sadarkan diri terus diobati oleh kak Okta.
“Haduh, baru kali ini ada sekolah yang nyusain kampus, mulai dari banjir iler sampe ada yang kentut di aula, haduh haduh.”
Kalau orang cantik itu udah ketauan dari wanginya. Wangi parfum Okta perlahan-lahan memasuki lubang hidung Coklat, hingga dia tersadar, namun dia sengaja mengintip kak Okta dan tanpa basa-basi lagi, Coklat lalu memonyongkan bibirnya. Berharap kak Okta mau menciumnya.
“Ayo dong, Kak, kasih napas buatan,” ujar Coklat di hatinya.
Dengan ekpresi geli, Okta melihat Coklat memonyongkan bibirnya.
“Idiiih … dasar orang aneh.”
Plak! Coklat pun terbangun oleh suara tadi. Dia hanya mengusap-usapkan pipinya yang memerah.
“Sakiiit, Kak.”                        
“Makanya jangan suka cari kesempatan di dalam kesempitan! Itu akibatnya!”
          
Dikarenakan para rombongan dari sekolah sudah tidak sanggup lagi melanjutkan kegiatan study campus, akhirnya para rombongan pun kembali ke dalam bus masing-masing. Wajah-wajah mereka terlihat pucat pasi tak bersemangat. Di waktu yang bersamaan, Coklat dan Ival yang sadar segera pergi ke toilet kampus. Akibat kebanyakan makan, perut mereka tidak bisa berkompromi dengan keadaan. Sayangnya mereka tidak tau kalau teman-temannya sudah kembali ke bus. Di dalam toilet mereka menikmati sangat saat sebuah benda kuning jatuh ke dalam wc, plung!
“Nikmatnyaaa,” ujar Coklat nangkring di wc duduk.
“Woy! Siram napa! Bau banget tau!” teriak Ival dari toilet sebelah.
“Udah jangan protes! Lo nikmati aja keharumannya, hahaha.”

Sementara para rombongan dari SMA Nusantara sudah meninggalkan kampus. Suasana di dalam bus terasa sepi, mereka semua masih merasakan pucat pasi. Saat yang bersamaan, Coklat dan Ival keluar dari toilet kampus sambil memegangi perutnya.
“Aaaah lega,” kata Coklat.
“Anak-anak pada kemana ya?”
“Di parkiran, paling nungguin kita.”
Saat mereka ingin meninggalkan toilet kampus, tiba-tiba muncul Kak Erik di hadapan mereka sambil ngupil tentunya.
“Eh kalian ngapain masih di sini?”
“Abis boker, Kak,” jawab Coklat.
“Oh, temen-temen kalian udah pada pulang tuh, barusan jalan.”
            
Mendapat kabar temannya sudah pada pulang, mereka pun terdiam saling menatap satu sama lain. Apa jangan-jangan mereka berdua saling jatuh cinta? Apa jangan-jangan mereka akan berpelukan? Atau mereka saling ciuman antara satu dengan yang lain?
“Mereka ninggalin kita, Kak?” tanya Coklat.
“Iya, cepat kalian susul.”
“Hooreeee! Kita bakal tinggal di kampus terus tiap hari kita bakal ketemu sama Kak Okta. Cihuyyy!” seru Ival dan Coklat kegirangan.

Sunday, November 6, 2016

Mencuci Sepeda Motor

Pernah engga sih kalian kesel abis nyuci sepeda motor sampe bersih, eh pas dipake baru satu hari udah ujan terus kotor lagi deh? Gimana perasaan kalian? Kesel? Marah-marah? Gondok? Sebel? Kalo pernah, mending buang aja sepeda motornya beli yang baru atau sepeda motornya buat saya aja.
Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan cara mencuci motor supaya bersih tanpa harus kembali kotor setelah dipakai. Ingat, hanya orang-orang yang punya sepeda motorlah yang bisa melakukan ini. Terus gimana kalo engga punya sepeda motor? Apa harus beli sepeda motor terlebih dahulu? Engga usah repot-repot. Bagi yang engga punya motor, ya engga usah melakukan hal ini.
Langsung aja ya, biar engga penasaran. Inilah cara mencuci sepeda motor yang jangan sampai kamu lakukan.

1.      Demi menghemat uang kamu, jangan beli shampoo sepeda motor. Lebih baik kamu malam-malam pergi ke warung atau toko terdekat yang menjual shampoo sepeda motor, jangan lupa bawa linggis, palu dan kunci serba guna. Setelah sampai di warung atau di toko, bongkar warung atau toko tersebut, carilah shampoo motor. Ada baiknya juga kamu mengambil makanan sebagai asupan tenaga saat nanti kamu mencuci sepeda motor.

2.      Demi menghemat air di rumah atau tempat kosan, ada baiknya mencuci sepeda motor di gorong-gorong, sungai, kali, laut, atau danau terdekat. Jangan lupa ajak teman kamu juga, ini bisa menghemat tenaga kamu loh. Suruh temen kamu buat cuci sepeda motor kamu, kalo engga mau paksa. Kalo engga bisa dipaksa, mending tenggelemin aja di gorong-gorong, sungai, kali, laut, atau danau barusan. Terus tinggalin.

3.      Setelah sepeda motornya bersih, jemur di tempat sepi yang jauh dari tempat tinggal kamu. Jangan lupa tinggal sepeda motor kamu selama kurang lebih tujuh hari. Selama sepeda motornya dijemur, jangan sekali-kali kamu berniat menengoknya. Tunggu sampai hari ketujuh, dan pasti kamu akan terkejut melihat sepeda motor kamu bersih tidak tersisa. Selamat, sepeda motornya sudah bersih dan engga perlu mencuci lagi.

Perhatian
Mencuci sepeda motor di atas hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang ikhlas!