Sunday, September 25, 2016

Kondangan Ke Tiara

Sebagai warga negara biasa, saya seneng rasanya dapet undangan pernikahan dari orang besar, terlebih lagi orang itu punya nama. Nih penampakan orang besarnya.



Gimana besar kan?

Dia juga punya nama, namanya Tiara. Dia ini adalah senior saya yang suka membantu saya memecahkan soal-soal di saat kuliah, terimakasih sensei.

Minggu pagi ini pukul 8, saya berangkat ke rumah Tiara yang berada di daerah Sepatan untuk menghadiri acara pernikahannya. Dari rumah sengaja engga sarapan dulu biar di sana dapet makan gratis. Saya berangkat tidak sendirian, melainkan bareng-bareng sama temen. Ada si Arul, Okta, Nia sama suaminya, dan juga emaknya Nia. Saya sih berharap ketika berangkat bisa boncengan sama si Okta, ya siapa tau dia naksir sama saya. Naas, harapan saya itu tinggal sebuah kenangan. Okta tidak mau dibonceng dengan saya.
“Kamu kenapa, tidak mau aku bonceng? Aku… aku berharap banget loh kamu bisa aku bonceng terus peluk aku kalo tiba-tiba aku ngerem mendadak, eh.”
Plak!
saya gagal membonceng dia sob
sedih hati saya

Dan saya akhirnya membonceng emaknya Nia. Saya tau kenapa itu bisa terjadi? Saya ingat kesalahan saya itu apa, saya belum mandi pagi ini.
***
Singkat cerita, saya dan kawanan manusia yang hanya numpang makan pun tiba. Sayangnya, ketika saya datang, makanan belum disiapkan. Saya kecewa. Kita ditugaskan untuk menjadi saksi dalam acara ijab kabul tersebut. Lagi-lagi sayang itu terjadi, kita engga dapet bayaran.

Di belakang Penampakan
Seusai acara ijab kabul, barulah makanan untuk tamu disiapkan. Di sinilah, usaha saya tidak sarapan membuahkan hasil. Seluruh lauk pauk mulai dari udang goreng, daging sapi hingga sop ayam, saya embat semua. Alhasil saya tepar kekenyangan. Meski tepar, namun itu hanya sesaat. Saya mengembat lagi segelas es buah, dan apa yang terjadi pada es buah itu? es buah itu tiba-tiba habis ketika saya menghabiskannya, war biazah. Ada sesal di dalam hati saya karena ada satu hal yang saya lewatkan ketika kondangan tadi, saya melewatkan untuk makan bakso. Rasa sesal itu terus menghantui saya hingga pulang.

Jam 1, 2 sampai jam 3, kita masih ada di acara pernikahnnya Tiara. Disaat jam segitu, saya dan teman-teman menuju dapur dengan tujuan mendapat makanan rahasia. Ya tentu saja, kita mendapatkan rahasia yang disebut es krim dan batagor. Ada satu hal yang membuat saya bangga, yaitu ketika batagor sudah matang, kitalah orang pertama yang mencicipi batagor tersebut daripada tamu undangan yang lain. Atas apresiasi tersebut, kita dilarang seumur hidup untuk pergi ke dapur tempat orang menggelar pesta pernikahan. Jam 4 lewat, saya ijin pulang terlebih dahulu kepada 4 teman saya tersebut. Saya ijin mau nonton, nonton motogp.
 
Manusia ini memakan semua jenis makanan yang tersedia di acara pernikahan, jangan sekali-kali membawa manusia ini ke dapur, kasian nanti tamu undangannya engga bisa makan karena sudah dihabiskan oleh dia terlebih dahulu
Ya pokoknya, selamat ya buat Tiara dan suaminya. Semoga jadi keluarga samawa, amiiin. Terimakasih loh udah ngundang saya, saya engga nyesel.
Baju kotak-kotak orang ganteng
















Tuesday, September 13, 2016

Ada yang kangen sama si Coklat?

  Malam harinya, anak-anak ipa tujuh sudah berkumpul di lapangan samping sekolah. Mereka semua membawa obor, namun ada yang terlihat berbeda. Ketika semua orang memegang batang obor, si Coklat membawa lilin.
“Eh kacrut, lo kok malah bawa lilin?” tanya Ival di sampingnya.
“Mata lo siwer Val. Lo liat ini apa?”
“Itu lilin.”
“Salah, ini itu obor tapi dia masih kecil makanya bentuknya sama kayak lilin.”
“Oh… jadi itu obor yang masih kecil?”
“Bukan, lo salah lagi.”
“Terus apa?”
“Ini lilin.”
Bletak! Nyuuut-nyuuuutan tuh kepalanya si Coklat.

Malam ini anak-anak ipa tujuh pada siap untuk pawai obor keliling. Mereka berjalan keliling mulai dari Aceh sampai Papua, gempor-gempor tuh kaki. Fauzi sebagai ketua kelas memberi arahan terlebih dahulu di depan anak-anak ipa tujuh.
“Malam teman-teman…,” sapa Fauzi.
“Diiih, emang kita-kita ini temen lu apa, Zi?” sahut Coklat.
Fauzi langsung tertunduk sambil mewek mau nangis.
“Jadi selama ini aku bukan teman-teman kalian? Kalian jahat!”
Fauzi berlari menitikan airmatanya, suasana menjadi hening.
“Oooowwwhhhhh!” serentak anak-anak ipa tujuh.
Fauzi berlari meninggalkan mereka sampai ke rumahnya. Dia langsung membuka pintu rumahnya tanpa salam dan melepaskan sendalnya begitu saja. Dia pun memasuki kamarnya, dan langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur. Nyesek rasanya, itu yang dirasakan Fauzi, dia menangis sambil memegangi gulingnya.
“Kalin tega… uh… uh… engga anggap aku sebagai teman kalian.”

Kita kembali ke lapangan untuk melihat anak-anak ipa tujuh pawai obor meski tanpa kehadiran sosok Fauzi. Kini Sweety yang mengambil alih kekusaan ipa tujuh. Di hadapan anak-anak ipa tujuh, dia mula berbicara.
“Hah dasar ketua kelas cengeng. Ok teman-teman, kita langsung mulai saja ya pawai obornya, kalian sudah taukan rute yang harus dilewati?”
“Beluuum.”
“Ya ampun, rute kita itu. Kita akan mulai perjalanan ini dari Aceh dan berakhir di Papua, setuju?”
“Enggaaaa!”

Anak-anak ipa tujuh pun memulai perjalanan dari lapangan sekolah hingga berakhir di rumah Coklat. Wajah-wajah bahagia terhiasi saat mereka jalan bersama-sama, namun ketika pawai obor itu berlangsung tanpa mereka ketahuai ada penyusup. Siapa lagi kalo bukan Vanilla. Dikarenakan suasana sudah larut malam, anak-anak ipa tujuh tidak ada yang mengetahui akan hal itu, ini berbahaya. Setelah menempuh waktu enam jam dari lapangan sekolah, mereka akhirnya sampai di depan rumah Coklat. Loh lama amat ya kok enam jam? Ternyata mereka itu keliling dulu ke bunderan HI terus ke Monas dan balik lagi ke lapangan sekolah menuju rumah Coklat. Sampainya di depan rumah Coklat, Vanilla langsung berbisik di telinga Coklat.
“Bro, biar lebih ramai, gimana kalo kita bakar rumah ini, setuju kan?”
“Ok, gue setuju.”
Rupanya rencana Vanilla dalam mempengaruhi Coklat berhasil.
“Teman-teman, sekarang kita udah nyampe di rumah gue!” teriak Coklat bersemangat.
“Iya…!”
“Mau lebih rame lagi enggaaaaa?”
“Mauuuuu…”
Di depan anak-anak ipa tujuh, Coklat berdiri di depan mereka semua. Dia seorang diri mengomandai mereka.
“Sekarang!”
“Iya...!”
“Kita bakar rumah iniii!” teriak Coklat bersemangat.
“Setujuuuu!” sorak yang lain sambil mengangkat tangan masing-masing.
Tuing… tuing… tuing! Obor mereka lemparkan ke rumah Coklat. Alhasil rumah Coklat pun terbakar. Mereka semua pada senang, tak terkecuali Coklat. Api mulai menjalar menggerogoti rumah Coklat.
“Horeeeeeee!” teriak kegirangan anak ipa tujuh.
“Yeaaahh, abis ini kita bakar rumah Ivaaal!” sorak Coklat.
“Setujuuuu!”
Seusai mereka senang habis melemparkan obor ke rumah Coklat. Mereka satu persatu jalan beriringan ke rumah Ival, meninggalkan Coklat yang hanya berdiri diam sambil melihat rumahnya terbakar. Coklat mulai kelihatan kayak orang bingung, ya dia bingung mau pulang kemana. Tik tuk tik tuk, suara dalam otaknya.
“Ini kan rumah gue ya?” Coklat pun mulai tersadar.
“Hah? Kamfreeet ini kan rumah gue? Kenapa rumah gue yang kebakar! Dasar bocah stress semua!”



Saturday, September 3, 2016

Makan Cabe


Pas pertama kali saya makan cabe tuh, rasanya pedes. Awalnya saya mengira lidah saya yang bermasalah, tapi setelah saya nyumpel cabe ke dalam mulut temen saya dan suruh mereka mengunyah cabe tersebut. Saya malah digaplok. Apa salah saya?
Buat kalian yang belum pernah makan cabe, hati-hati jangan ketipu. Jangan kalian sangka cabe yang berwarna merah itu manis kayak buah apel. Sesungguhnya yang terlihat manis itu belum tentu manis, dia bisa saja pedas. Ya saya pernah ketipu, awalnya saya kira cabe merah itu manis selain itu bentuknya juga menggoda iman. Tapi setelah saya cicipi, ternyata pedas.

Walau pun cabe itu pedas rasanya tapi dia sangat cocok dimakan berdua, apalagi sama pacar. Caranya, satu cabe kamu sumpel di mulut kamu dan pacar kamu. Lalu kunyah sampai habis, maka apa yang akan terjadi? Tepat sekali, abis itu kamu bakal diputusin.
"Kamu itu tega ya?! Masa aku disuruh makan cabe, pedes tau!"
"Makan cabenya sambil liat muka aku dong yank, dijamin dah rasanya engga berubah."
"Kita putus!"

Cabe ini sangat cocok dimakan ketika pagi hari dengan segelas kopi hangat. Ingat segelas kopi hangat, jadi yang diminum itu gelasnya bukan kopinya.
Buat kamu yang bermasalah dengan perut kamu, jangan coba-coba makan cabe. Kamu harus selesaikan dulu masalah kamu sama perut kamu. Omongin sama dia baik-baik, cari jalan keluarnya bareng-bareng. Jangan pentingkan ego kamu sendiri, buat hubungan kamu sama perut kamu senyaman mungkin. Intinya jangan sampe putuslah sama perut kamu. Bayangin coba kalo perut kamu ninggalin kamu gitu aja tanpa menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu. Kan ribet kalo kamu mau makan dan nyimpen makanan kamu itu dimana. Ujung-ujungnya kamu ga bisa makan cabe.

Sebenarnya orang yang suka makan cabe itu ga boleh makan risol, bala-bala, tahu bulet, nasi goreng, mie goreng, mie rebus,  dan lain lain. Kenapa, kok gitu? Ya lah kalo kamu makan makanan yang saya sebut di atas. Yang lain mau makan apa coba? Kasian mereka engga kebagian makan.

Pernah loh ada orang makan cabe terus mati. Kejadian ini bermula ketika sebut saja namanya bukan saya. Si bukan saya ini gemar makan cabe, saking gemarnya dia pun punya hobi melukis gunung. Gunungnya itu berwarna hijau terus di tengah2nya ada jalan, di samping jalan ada sawah sama gubuk. Sebagian teks mengilang...