Saturday, June 18, 2016

Gara-Gara Rental PS


Tepat jam 2 siang, bel sekolah berbunyi menandakan sudah tiba saatnya untuk masuk kelas, namun hal itu diprotes oleh para siswa lantaran mereka sudah masuk kelas jam 7 pagi tadi. Akhirnya terjadilah perselihan antara para siswa dan guru piket yang memencet bel sekolah tersebut. Dalam keterangan yang dimiliki oleh guru piket lelaki itu, beliau menyatakan bahwa memang bel yang berbunyi tadi diperuntukkan untuk jam pulang sekolah, namun para siswa mendengar itu jam masuk sekolah.
“Itu tadi bel pulang sekolah nak,” kata guru piket yang duduk di meja piket.
“Kok ditulisnya jam masuk kelas sih pak!” seru siswa yang bernama Coklat.
“Oh itu kesalahan yang nulisnya nak.”
“Wah parah nih yang nulis, engga ngerti perasaan kita banget. Pagi-pagi udah masuk sekolah eh siangnya disuruh masuk lagi!”

Pada akhirnya sayalah sebagai penulis yang disalahkan, ujung-ujungnya…
“Gebukin penulisnyaaaa!” seru Coklat kepada teman-temannya.
“Gebukiiiiin!” seru sahutan teman-teman Coklat.
Bag bug bag bug, si penulis pun bonyok, dia enggan untuk melanjutkan cerita lagi. Sebenarnya bukannya enggan, namun tidak ada inspirasi. Setelah merenung 7 hari 7 malam, akhirnya si penulis mendapat inspirasi tentang tema tersebut, sayangnya ketika inspirasi tersebut sudah ada di atas kepala, tiba-tiba angin kencang datang dan meniup inspirasinya, wush! Seketika inspirasinya hilang lagi.

Coklat itu adalah siswa kelas 12 SMA di salah satu SMA yang ada di Indonesia. Nama SMAnya adalah itu rahasia ya. Puas gebukin sang penulis, Coklat mulai beranjak pulang dari sekolah. Dia pulang bersama seorang temannya yang bernama Ival dengan menggunakan sepeda motor. Dalam perjalanan pulang ke rumah, tak sengaja keduanya melewati rental PS1. Yah kebetulan, di wilayah kediaman Coklat ini PS1 baru masuk ke desanya. Coklat yang dibonceng oleh Ival pun langsung memukul pundak Ival, pluk! Gitu bunyinya. Sontak saja Ival menginjakkan rem sepeda motor yang dikendarainya itu.
“Ada apa Klat?” tanya Ival yang menoleh ke belakang.
“Itu tadi gue liat ada rental PS1.”
“Terus?”
“Cuma ngasih tau doang.”
“Oh makasih udah dikasih tau.”
Sejujurnya saat itu Coklat ngebet banget pengen mampir di rental PS1 tersebut, tapi apa daya dia tak mampu mengatakan yang sejujurnya. Sejujurnya seumur hidup Coklat, dia tak pernah main PS1, kasian banget ya.

Keesokan harinya diwaktu yang sama sepulang sekolah, Coklat mengajak Ival untuk mampir di rental PS1 tersebut. Keduanya kini sudah berdiri tegak di depan rental. Coklat terkagum-kagum melihat dinding rental yang berwarna merah, sesekali dia pun menyentuh dinding rental tersebut.
“Aduh geli,” ucap dinding rental.
“Wah dindingnya bisa ngomong Val,” ujar Coklat.
“Wah iya Klat, keren nih,” ujar Ival.

Akhirnya Coklat dan Ival jongkok sambil menyentuh kembali dinding rental PS1 tersebut berharap dindingnya bisa ngomong lagi. Namun naas, sudah ribuan kali sentuhan, dinding rental PS1nya tak berucap lagi. Keduanya kini beranjak pulang dengan kepala kekecewaan yang mendalam. Kecewa karena keasikan nyentuh dinding dan gagal buat main PS1. Coklat dan Ival memutuskan demo kepada sang penulis untuk memutar kembali waktu yang sia-sia, mau engga mau karena engga mau bonyok lagi, saya sebagai penulis menuruti permintaan mereka bedua. Waktu berputar kembali dimana keduanya kini ada di depan rental PS1.

Coklat dan Ival perlahan-lahan melepas sepatunya saat hendak masuk ke dalam rental, namun tiba-tiba kaki mereka berdua tersangkut di sepatu, alhasil kaki mereka berdua terlepas.
“Wah Val, kaki gue lepas!” seru Coklat terkejut kakinya lepas.
“Wah sama Klat, gue juga!”

Keduanya terpaku ketika melihat banyaknya orang-orang yang bermain PS1. Untung saja ketika mereka masuk, masih tersisa satu PS yang kosong. Mereka pun langsung duduk di depan layar televisi yang kosong tersebut. Gayung pun bersambut, seorang petugas rental berjenis kelamin laki-laki langsung mendekati mereka.
“Mau main apa mas?”
“Main ps bang,” jawab Coklat.
“Gamenya mas, game apa?”
“Ya game ps bang,” jawab Coklat lagi.
“Saya juga tau tapi….”
“Tapi kenapa nanya bang?”
“Gamenya loh maaaas?‼! Mau main game apaaaaa! Jenis permainan apaaaaaaaaaaaa!”
“Bola aja bang,” sahut Ival.
“Dari tadi kek kayak gitu.”

Sang petugas rental tersebut lalu menyalakan PS dan televisi yang sudah tersedia, kemudian dia memasukkan keping kaset ke dalam PS, tiba-tiba… tiba-tiba muncul tulisan di televisi, tulisan itu adalah tulisan PS1, sontak Coklat dan Ival lompat kegirangan. Ini baru pertama kalinya mereka main PS1.
“Horeee, gue akhirnya main PS1 juga Val!” seru Coklat jingkrak-jingkrakan di depan layar tv.
“Yoiiiii! Gue juga Klaaat!” Ival engga mau kalah, dia guling-gulingan di depan layar tv.
Sementara itu orang-orang yang sedang main PS hanya bergumam dalam hati.
“Ya ampun noraknya tuh anak berdua.”

Hari ini Coklat dan Ival bermain PS1 selama dua jam. Yang perlu kalian ketahui itu adalah bahwa satu jam main PS dikenakan biaya Rp 3.000,00 dan  karena bermain 2 jam, mereka hanya membayar Rp 5.000,00. Jadi pertanyaannya berapa persenkah potongan harga yang mereka dapat? Kirim jawabannya ke nomor hape saya, saya tunggu 5… 4… 3… 2… 1… waktu habis.

Disaat keduanya sedang menikmati puncak bermain PS, tiba-tiba layar televisi di hadapan mereka mati. Terbesit dalam pikiran mereka, bahwa ini adalah konspirasi petugas rental yang engga rela PSnya dimainin tapi mereka tak bisa membuktikan akan hal itu. Keduanya pun lalu menduga bahwa ini adalah kesengajaan petugas PLN untuk mematikan arus listrik agar mereka berhenti bermain PS, namun lagi-lagi mereka hanya menduga tanpa bukti, akhirnya biar lebih jelas salah satu dari mereka menanyakan perihal matinya televisi kepada sang petugas rental.
“Bang, kok mati bang tivinya?” tanya Coklat kepada petugas rental PS yang sedang duduk di kursi.
“Itu jamnya sudah habis.”
“Loh, itu jam dindingnya masih ada,” kata Coklat sambil menunjuk jam dinding di dalam ruangan rental.
“MAKSUDNYA WAKTU MAIN PSNYA UDAH ABIIIIIIIS! GUE BUNUH JUGA LOOOOO!”
“Oh bilang dong.”

Biasanya kalau main PS1 untuk pertama kali rasanya pengen engga berhenti untuk main. Ini berlaku buat Coklat dan Ival. Ketika waktu main PS mereka habis, rasanya mereka ingin bermain lagi, lagi dan lagi. Sayangnya saat itu mereka kehabisan uang dan tak bisa melanjutkan permainan. Keduanya tak kehabisan akal, seakan kecanduan oleh yang namanya PS1, mereka memutuskan untuk bermain lagi pada esok hari.
“Val, besok main lagi yuk. Kalo mau puas mainnya dari pagi aja biar puas.”
“Kan paginya sekolah Klat?”
“Sekali-kali kita bolos engga apa-apakan?”
“Wah gue engga setuju kalo sekali-kali kita bolos, gue setujunya kita bolos berkali-kali.”
“Ngehehehehe.”
“Ngehehehehe.”

Hari sudah berganti, dihari itu Coklat dan Ival memutuskan untuk bolos sekolah dan pergi bermain PS bersama. Dari rumah mereka seperti biasa berangkat sekolah, namun dalam perjalan menuju sekolah, keduanya malah singgah di rental PS. Dihari pertama bolos sekolah hanya untuk sekedar bermain PS, belum cukup memuaskan batin mereka. Mereka pun memutuskan untuk bolos lagi dihari kedua, ketiga, keempat dan sampai dihari kelima. Ada gelak tawa dan teriakan seru ketika keduanya bermain PS1 bersama, seakan-akan terbebas dari yang namanya beban akan tugas-tugas sekolah. Sayangnya, mereka tak tau bahwa pihak sekolah sudah mengirimkan surat peringatan kepada orang tua mereka berdua perihal tidak masuknya mereka selama ini. Sukurin, ketauan juga, makanya jangan mbolos.

Sore hari ketika Coklat pulang ke rumah sehabis bermain PS1 dikejutkan oleh ayahnya yang tiba-tiba ingin berbicara langsung empat mata dengannya. Di ruang keluarga, Coklat duduk di atas kursi yang berhadapan sang ayah. Tanpa buang-buang waktu lagi, sang ayah memperlihatkan surat peringatan dari sekolah di atas meja.
“Ini apa?” tanya sang ayah sambil membanting surat peringatan di atas meja.
“Surat beh, masa engga tau?”
“Coba lo baca suratnya.”

Coklat perlahan-lahan membaca surat yang berisi teguran terhadapnya perihal ketidakhadiran di sekolah selama ini. Keringat mulai bercucuran keluar dari dahi disambut dengan rasa dag dig dug di dalam hatinya.
“Kemana lo selama ini engga masuk sekolah?!” tegas sang ayah.
“Anu beh… Coklat… Coklat bolos… Coklat main PS…,” ujar Coklat dengan wajah tertunduk.
“Babeh engga ngelarang lo main PS, tapi lo harus tau waktu, mana waktu buat belajar mana waktu buat santai. Babeh nyekolahin lo itu untuk lo juga dimasa depan, supaya lo bisa jadi orang pinter sama orang jujur. Lo sudah SMA, seharusnya lo udah bersikap dewasa dan harus tau waktu. Mulai besok sampai setahun ke depan, lo berangkat sekolah diantarin sama emaklo, jalan kaki!”
“Hah! Jalan kaki? Dianterin emak, jalan kaki? Iya deh, Coklat pasrah.”

Mulai hari itu Coklat dan Ival mendapat sanksi yang sama dari orangtuanya masing-masing, berangkat sekolah ditemani mamah jalan kaki. Alhasil ketika sanksi itu dijalankan banyak siswa yang kagum dengan mereka. Iya kagum, kagum aja ternyata Coklat dan Ival itu punya mamah. Selama ini, teman-teman mereka beranggapan bahwa Coklat dan Ival itu terlahir dari batu.
“Wah ada mamah noh berangkat sekolah ditemenin mamah jalan kaki pula,” bisik seorang siswa 1.
“Iya sob, engga nyangka mereka punya orangtua,” sahut seorang siswa 2.

Coklat dan Ival yang berangkat sekolah ditemani mamahnya hanya bisa tertunduk malu.
“Kita jadi trending topic di sekolah Val, kerenkan.”
“Iya Klat huahuahuahua.”
Malu woy malu bukan bangga!

Tak sekedar mendapat sanksi dari orangtuanya masing-masing, Coklat dan Ival pun mendapat sanksi dari pihak sekolah. Kini sesampainya di sekolah, mereka berdua segera menghadap ke ruangan BP untuk dimintai pertanggungjawaban.
“Coklat, Ival. Hari ini ibu akan beri kalian sanksi!”
“Apa sanksinya bu?” tanya Coklat.
“Jangan berat-berat bu ya sanksinya,” pinta Ival.
“Iya sanksinya tidak berat kok, kalian hanya berlari memutar sekolah sebanyak lima putaran saja, mudahkan?”
“Wah kecil itu bu!” seru Coklat dan Ival.
“Laksanakan!”
“Ok bu!”

Coklat dan Ival bersiap untuk menerima sanksi atas perlakuan yang sudah diperbuat. Sanksinya kecil, hanya berlari memutar sekolah sebanyak lima putaran. Kini keduanya sudah bersiap untuk mendorong gedung sekolah. Lah kok ada mendorong gedung sekolah?
“Vaaaal! Dorong sekolahnya yang bener! Aduh belom muterin sekolah aja udah ngos-ngosan lo!” teriak Coklat yang berusaha mendorong gedung sekolah.
“Berat cooooy! Gue engga nyangka kalo lari muterin sekolah itu lari-lari sambil muter-muterin sekolah!”
“Dorong yang kuat supaya sekolahnya bisa keputer!”
“Berisik lo! Kalo kayak gini gue kapok dah bolos sekolah cuma buat main PS doang!”
“Sama Vaaaal! Cepet doroooong!”   

“Iyaaaaa baweeeel!”

Wednesday, June 8, 2016

Telor Rebus

sumber
Tidak terasa ya setahun lagi kita akan berpuasa di bulan Ramadhan 1438 H. Untuk puasa kali ini, saya akan membagikan resep yang pas disajikan ketika berbuka puasa. Resep ini sangat mudah dibuat apalagi bagi yang tidak pandai memasak, jangan khawatir. Resep ini saya beri nama “Rebus Telor Ayam.”
Pertama, siapkan dulu alat dan bahan-bahannya.
Alat
·         Air Bening, ingat ya air bening bukan air putih. Kenapa harus memakai air bening bukan air putih? Karena yang bening itu lebih enak daripada yang putih. Coba dah kalo ngabuburit sama temen, jalan-jalan ke taman. Pasti ngabuburitnya dilakukan ketika sebelum adzan Magrib.
·         Telor Ayam. Kenapa menggunakan telor ayam? Karena kalo menggunakan telor kucing itu sulit. Sampai sekarang belum ada telur yang berkucing.

Bahan
·         Kompor. Bisa kompor gas maupun kompor sumbu, terserah mau pake yang mana. Saya sih menyarankan pakai kompor sumbu, soalnya kalo pake kompor gas itu biasa digunakan oleh om Indro pas jadi juri di SUCI. Disini sulitnya pake kompor gas, kita harus tau dulu dimana om Indro berada, engga mungkin kan kita minjem kompor gas tanpa ijin beliau, kalo pun minjem engga bilang-bilang, itu sama aja engga bilang-bilang pas minjem.
·         Panci. Panci ini bisa didapatkan di konter hape, cobalah kalo engga percaya.

Setelah alat dan bahan sudah siap, mari saya beri tau langkah-langkahnya.
1.      Niat. Niatkan dirimu untuk memasak, niat itu penting. Ada dalilnya, segala sesuatu itu diawali dengan niat. Bayangkan ketika ingin memasak namun niat dalam hati kita ingin mandi, pasti ketika kebelet ee kita akan masuk ke wc, tapi sayangnya engga muat, jangan! Kita engga boleh masuk ke wc.
2.      Nyalakan kompor. Nyalakan kompor dengan api jangan sekali-kali dengan air, kalo dengan air itu bukan menyalakan tapi memadamkan. Ini terbukti, misalnya saja pemadamam kebakaran. Pemadam kebakaran memadamkan api itu pake seragam pemadam kebakaran, kalo engga pake baju dia telanjang.
3.      Letakkan api di bawah panci, kemudian masukkan air ke dalam panci, kalo airnya engga mau masuk, berarti dia absen. Nah ini biasa terjadi ketika memasak air. Begitu banyak alasan yang dimiliki oleh air untuk enggan masuk ke panci, namun biasanya ketika uas tiba, air ini tiba-tiba masuk dan dosen pun pasti tak sudi memberi nilai A pada air tersebut.
4.      Tunggu lah lima menit sampai airnya mendidih, ketika airnya mendidih ceplungkanlah jari anda, pasti panas. Jangan diangkat hapenya ketika tidak ada panggilan telepon dari orang lain. Tahan jari anda selama lima menit, anggap saja itu latihan kalo anda ini masuk neraka, semoga kita masuk surga. Amin.
5.      Ketika airnya mendidih masukkan air, ingat jangan diaduk takut airnya kecampur. Setelah itu masukkan telor ayam tadi ke dalam air mendidih, biarkanlah sang telur berendam sementara, dan jangan ganggu telor itu. Tunggu sampai sepuluh menit.
6.      Angkatlah telornya dari panci kemudian letakkan di atas piring dan simpanlah airnya di dalam kulkas untuk menghemat air ketika ingin direbus kembali.
7.      Telur sudah matang dan siap dimakan.

Demikian resep ini saya buat sebenar-benarnya, atas perhatian dan kebijaksanaan Bapak/Ibu, saya ucapkan terimakasih.