Monday, February 29, 2016

Fakta 29 Februari 2016

29 Februari 2016 terjadi tepat pada tanggal 29 di bulan Februari dan di tahun 2016
29 Februari tidak akan terjadi di tanggal 1 sampai 28, tidak terjadi pula dibulan januari, maret, april, mei, juni, juli, agustus, september, oktober, nopember maupun desember
woooow
itulah fakta 29 Februari 2016
ada yang mau menambahkan??

Saturday, February 27, 2016

Aku Punya Mimpi




Sore hari, ketika Ken sedang santai di rumahnya sendirian sambil menonton televisi. Ayahnya yang selepas pulang dari kantor memasang wajah kecewa. Lalu duduk di sofa disamping Ken sambil memegangi kepalanya seraya orang pusing.
“Yah, kenapa?” tanya Ken melihat wajah kusam ayahnya.
“Ken, kamu mau kuliah apa mau jadi pengamen sih?” jawab sang Ayah saat menoleh kepadanya.
“Emang kenapa yah?”
“Barusan ayah dapat telepon dari kampus kamu, katanya kamu jarang mengikuti perkuliahan, kamu kenapa? Apa mau jadi anak band?”
“Udah pinter yah.” ucap santai Ken.
“Ken! Ayah mengkuliahkan kamu itu buat kamu jadi orang sukses! Tapi apa sekarang? Kamu menyia-nyiakannya! Kamu pikir kuliah itu gratis?” lantang sang ayah.
“Ya bayar yah.”
         
Kekesalan dalam hati Ken pun timbul usai mendapat gertakan dari sang ayah. Matanya memandang sang ayah dengan tajam. Tapi engga berani, lirikan mata sang ayah lebih tajam darinya.
“Ken juga kan punya mimpi, yah!”
“Jadi anak band? Apa istimewanya sih anak band?”
“Banyak yah, dikagumin sama cewek-cewek yah, terus lagi bisa tour keliling kota yah!”
“Keliling kota? Kamu aja jalan dari kamar ke toilet aja nyasar nak! Terus ada penghasilan dari kamu ngeband? Kamu itu belum dewasa nak, karena belum bisa menghasilkan uang!” tegas sang ayah sambil menepuk meja yang terbuat dari kayu di depannya.
“Ayah selalu menganggap dewasa itu kita udah mampu dalam materi? Ayah benar!” Ken berdiri terbawa emosinya.“Sudahlah Yah, cape Ken dimarahi mulu, lebih baik dari dulu Ken ikut dengan Ibu!” Ken lalu pergi dari rumah.
“Ken!” ayahnya pun turut berdiri melihat sang anak pergi dari rumah ini.
Ken pergi meninggalkan rumah begitu saja, membawa amarah yang singgah dalam hatinya. Pintu rumah pun di tutup dengan kencang, seperti membanting.
“Arggt… anak itu susah dibilangin.” ayahnya menggerutu.
Sepuluh detik kemudian, Ken kembali menemui ayahnya.
“Ken?”
“Yah, pintu keluar dimana ya yah? Ken lupa.”
“Oh dari sini belok kanan Ken. Tuhkan di rumah sendiri aja nyasar.”
“Ok.”

Ken pergi ke suatu tempat, tempat yang jauh dari rumahnya. Tempat yang disekelilingi oleh puluhan pohon-pohon rindang. Dia bersandar di bawah pohon sambil merasakan kekesalan di dalam hatinya. Angin berhembus menemani lamunan kesal anak itu.
“Angin, coba kau katakan pada ayahku, bisakah dia memahami kemauanku sekali saja. Aku juga punya mimpi, mimpi yang kini ada di hadapanku. Angin, aku yakin dia pun akan bangga bila melihatku bisa sukses dengan mimpiku, tapi kenapa dia tak mengerti keinginanku itu. Apa salahnya berjalan menuju arah sendiri selama itu tak menyimpang? Aku pun bisa menjaga diriku sendiri, aku tau mana yang baik dan mana yang buruk, aku sudah dewasa. Aku ingin ayah mengamini mimpiku, aku ingin ayah membiarkanku berjalan di atas mimpi-mimpiku sendiri.” ujar Ken dalam hati sembari menikmati semilir angin yang bertiup. Ken lalu menghembuskan nafasnya, “Payah, percuma gue nanya sama angin, kalo engga dijawab.”
Ken lalu berdiri dari sandarannya, dia melihat ada anak yang begitu bahagia bersama ibunya. Melihat hal seperti itu membuat dia iri saja.
“Hal di depanku, rasanya aku ingin merasakannya juga. Mereka dengan ceria mampu berbagi dengan ibunya, aku iri. Iri aja gitu ngeliat ibunya yang cantik terus bodinya behhh kayak gitar Spanyol.” Ken dalam hati.

Sementara di tempat lain, lampu gantung bergoyang di atas kepalanya. Terang kadang menyinari wajahnya yang penuh luka dan dendam. Menatap cermin di depannya, dia lalu tersenyum sadis bak tawa setan. Berpancar amarah yang tak bisa dia bendung.
“Sambil menatap cermin di depan gue, gue bersumpah akan membalas mereka yang sudah bermain-main dengan adik gue, heh. Kalian takkan bisa lari dari kenyataan itu. Kepedihan dan kesendirian yang  gua alami ini akan segera terbayar lunas dengan darah dan airmata yang nantinya akan mengalir di setiap pori-pori tubuh kalian.” ucapnya penuh dendam. “Kerenkan kata-kata gue?”
Planting! Orang itu lalu memukulkan tangannya sendiri ke cermin hingga cermin itu pecah. Goresan sisa-sisa pecahan kaca mengenai ujung tangannya itu hingga membuat kulitnya mengelupas kecil-kecil. Darah tak bisa dihindari walau hanya berupa bintik-bintik menempel di tangannya itu.
“Tak ada seorang pun di dunia ini yang rela adik tercintanya harus mati oleh orang lain! Tak ada satupun yang bisa menerima kenyataan itu, termasuk gue.” ucap orang itu. “Aduh sakit banget ya mecahin cermin.”
Dia melihat darah yang bersimpuh di antara telapak tangannya, mengalir tanpa rasa sakit padahal sakit tuuuh. Kemudian dia berjalan menuju kamarnya yang sederhana, dia mengambil sebuah topeng hitam dari lemarinya di kamar. Seusai dari kamar, dia berjalan ke gudang, saat sampai di gudang dia melihat ada linggis, kapak, palu, dan masih banyak alat-alat bangunan di dalam gudang itu. Setelah itu dia menjualnya via online.


sumber :animeklopedia.blogspot.com

Malam pun datang. Di basecamp Violet, Kai dan Edo yang tadi siang mendengar Vision akan segera rekaman membuat mereka sendiri kebakaran jenggot. Bersama teman satu bandnya itu, mereka masing-masing duduk di atas sofa. Kai mulai menggambarkan wajahnya penuh emosi, kemudian dia berdiri di hadapan teman-temannya.
“Mereka besok mau ketemu sama label, sementara kita cuma diem-diem doang ngeliat mereka bakal sukses!” Kai pada teman satu bandnya yang sedang duduk di atas sofa.
“Tenang Kai.” ucap Edo yang duduk di sofa.
“Tenang-tenang! Lo pikir Do, mereka itu lagi engga digandrung-gandrungi sama anak-anak kampus, anak-anak sekolahan juga, anak tk juga! Pikir pake otak, pas mereka ngeluncurin album pertama otomatis albumnya pasti engga bakal dibeli sama anak-anak!” Kai sambil menunjukkan telunjuknya ke kepala sendiri.
“Iya-iya kita tau itu.” Edo santai.
“Tau? Kenapa kalo tau lo semua pada diem aja?”
“Iya sob, kita pikirin lagi gimana caranya buat…” ucap Eza yang juga duduk di sofa.
“Malam ini kita serang dia!” Kai mengepalkan kedua tangannya.
“Kai!” Edo.
“Kalo kalian engga mau ikut? biar gue sendiri yang ke sana!”
“Ya udah sendiri aja sono.” ucap Edo, lalu dia berdiri.
“Gua engga bisa untuk malam ini.” ucap Edro dengan suara kecilnya.
“Ya sorry bro, gua juga sama.” tandas Eza.
“Terserah kalian, gue engga jadi kalo sendiri.”
Tapi pada akhirnya Kai dan Edo bergegas meninggalkan basecamp ini menuju markas besar Vision. Edro dan Eza hanya diam di basecamp, tak tau harus berbuat apa. Mereka berdua sedikit muak dengan apa yang dilakukan Kai.
“Seharusnya Kai udah engga perlu lagi urus mereka, cukup urusin bandnya aja.” Edro.
“Iya Dro, kenapa sih dia ambisi banget buat jatuhin si Jo?” Eza.
“Engga tau Za, gue sih takutnya dia diluar batas dan berubah jadi super saiya 5.”
“Jangan berpikir negatif dulu bro, siapa tau bener.”
“Lo tau Kai, anaknya gimana? Apa kita nyusul aja buat cegah dia?”
“Engga usah lagiankan masih ada Edo dan anak-anak Vision buat bonyokin dia.”
“Ya udah, kita cabutlah.”
Eza dan Edro pun meninggalkan tempat ini.

Di basecamp Vision, baru saja mereka dan juga Didi membahas tentang pertemuan yang akan dilaksanakan esok hari. Didi menjelaskan secara rinci tentang kegiatan-kegiatan yang akan dijalani bandnya itu di hadapan yang lain sambil duduk-duduk di atas sofa.
“Jadi kaya gitu, engga keberatan kan?” tanya Didi yang berdiri di depan yang lain.
“Engga, Di… lo atur aja deh.” Jo dengan pasrahnya.
“Jo, lo kenapa engga bisa hargai usaha gue? Atur-atur, sementara lo sendiri?” kesal Didi.
“Di, band ini tanpa gue, mau jadi apa? Jadi sukses. Mending lo turutin aja apa kata gue!” Jo lalu berdiri
“Udah kalian berdua!” Ken melerai berdiri di antara mereka.
“Lo juga Jo, lo kan leader di sini seharusnya…” ujar Sam.
“Kok pada nyalain gue? Kalo si Didi engga mau jadi menejer band kita, mending dia jadi vokalis dan gue jadi manajernya, beres!” Jo.
“Sorry, gue emosi, besok jangan lupa jam delapan udah standby di sini, semua dimohon duduk kembali.” Didi bersuara lemah.
“Iya-iya jam delapan kita kumpul di sini, terus cabut ke sana!” ucap Jo dengan wajah kesalnya.
“Yang lain jangan lupa ya?” Didi mengingatkan.
“Iyaaaa…” serentak yang lain.
“Ok, jadi rapat kita cukup hari ini, yang mau pulang, silahkan, yang mau nginep di sini juga, silahkan, tapi bayar” ucap Didi.
“Gue di sini aja deh, lagi pusing gue di rumah.” ucap Ken sambil memegangi kepalanya.
Semuanya pulang kembali ke rumah kecuali Ken, dia menginap di basecamp ini sendirian. Matanya seakan terbawa oleh pilu emosinya yang masih menempel di hati. Mengenang ketika ayah dan ibunya dulu bercerai.
flashback
Di dalam rumah Ken, Ken melihat ayah dan ibunya saling beradu omongan, seusai dia pulang sekolah. Ken hanya berdiri dengan seragam putih merah-merahnya di hadapan ayah dan ibunya yang bertengkar kembali. Kepalanya tertunduk, kecewa dengan apa yang ada di dalam keluarga kecilnya ini.
“Ayah… ibu… Ken dengar…” Ken yang berdiri di hadapan ayah dan ibunya.
“Cukup! Aku engga mau lagi tinggal di rumah ini!” tandas sang ibu.
“Teserah kamu! Kamu mau tinggal di jalanan, kolong jembatan, aku engga peduli, asalkan jangan bawa-bawa Ken ikut dengan kamu!” lantang sang ayah.
“Mas, Ken itu anak aku!”
“Ya aku tau, tapi aku udah nyumbang juga loh.”
“Mas…”
Ken yang berdiri di hadapan mereka seusai pulang sekolah, hanya bisa ikuti kemauan ayahnya yang keras itu.
“Ken, hari ini kamu akan tinggal di sini bersama ayah, engga lagi sama ibu kamu.” sang ayah menunjuk Ken yang masih berdiri.
“Tapi yah?”
“Udahkan kamu turutin saja perkataan ayah.”
***
“Seandainya dulu aku pilih kamu, ciee kamuuu. Seandainya aku itu pilih ibu, mungkin dia akan mengamini dan mendukung mimpiku ini. Ibu, Ken engga tau dimana ibu sekarang, Ken hanya bisa meminta doa ibu dari jauh.” ujar Ken dalam hati.

Di sisi lain, sebuah mobil terparkir tak jauh dari basecamp mereka. Tak terlihat satupun kendaraan  dari anak-anak Vision yang terparkir di halaman basecamp Vision.
“Do, mereka kayanya udah pada cabut.” Kai yang mengendarai mobil melewati basecamp itu.
“Iya… kita telat.” Edo yang duduk di samping Kai.
“Kita kan cowok Do, yang biasa telat datang bulan tuh cewek Do.”
Kai dan Edo membatalkan niat mereka seusai melihat Jo sudah tiada di basecampnya. Kai memundurkan mobilnya, kemudian berjalan berbalik dari arah mereka kini. Kai mengantarkan Edo kembali ke rumahnya.

15 menit berlalu…

Di dalam sebuah mobil yang dia kendarai, dia memakai topeng yang dia bawa dari rumahnya, dia memakai pula sweater hitam dan kaos tangan berwarna putih serta tak lupa ada sebuah linggis tertidur bersandar di bagian belakang mobilnya. Wajah yang tertutup oleh topeng tak menutupi niatnya malam ini untuk memulai langkah baru di dalam hidupnya.
“Satu persatu mereka akan tau dengan apa yang telah mereka lakukan. Mencari keadilan yang benar kumiliki, heh rasanya ini cukup adil mengingat semua masalalu itu.” tekad orang itu sambil melaju terus ke basecamp Vision.
Orang itu kembali menuju basecamp Vision penuh dengan senyuman tak wajar yang tertutupi oleh topengnya.

Sejam berlalu, Ken masing dipusingkan dengan kemauan ayahnya yang keras. Melihat jam di dinding ini bahkan membuatnya sulit untuk memejamkan mata.
“Jam segini mata gue masih melek.” ucap Ken yang masih duduk di sofa.
Sekedar untuk menemaninya dikala hampa, dia mengambil sebungkus rokok dalam kantung celananya. Dia nyalakan rokok dengan apai, kemudian apinya yang dia hisap. Asap berhembus dari mulutnya, melayang terbang mengitari ruang basecamp ini.
“Huh, semoga aja besok mimpi itu akan terwujud.” ujar Ken dalam hati.
Krek… krek… krek… terdengar suara dari pintu depan basecamp. Tok… tok… tok… kini suara ketukan pintu terdengar sampai di telinganya.
“Iya, siapa itu?” Ken menyahut.
Tok… tok… tok… tanpa membalas suara Ken, pintu itu kembali terketuk.
“Siapa lagi malem-malem gini ngetuk pintu?‼!” Ken berdiri hendak membukakan pintu.
Merasa terganggu, Ken lalu berjalan ke depan membukakan pintunya. Matanya melihat seseorang yang tak dia kenal memakai topeng dengan sebuah linggis di tangannya.
“Lo siapa?!” tanya Ken.


Nyambung…

Wednesday, February 24, 2016

Solusi Agar Pulsa Laku

Teman kampus saya, Fahmi, baru aja keluar dari pabriknya. Katanya dia udah bosen jadi karyawan pabrik terus, pengennya jadi manager di pabrik itu, mustahil. Dia pernah curhat sama saya, awalnya dia bingung mau ngapain. Mau ngajar mtk di bimbel, dianya belum berani, apalagi buat ngajar mtk di sekolah. Sebagai teman yang baik saya pun lalu memberi solusi, namun sebelumnya saya meminta dibelikan rokok sama kopi dulu, biar enak loh ngobrol-ngobrolnya di warung pak de. Waktu itu kebetulan ada mata kuliah masalah nilai awal syarat dan syarat batas, dan saya memutuskan untuk ngopi aja daripada otak saya korslet ngikutin mata kuliah yang bikin otak korslet. Bukan apa-apa, pernah sih kejadian ngikutin mata kuliah itu, dan pas pulang ke rumah, otak minta disservice. Saya pun pergi ke tukang service otak, tapi kata tukang servicenya, harus beli otak yang baru. Ya sudah saya beli yang second aja, karena murah daripada yang ori.
Kembali kepermasalahan Fahmi yang bingung mau ngapain setelah keluar dari pabrik. Ketika dia sudah keluar, saya menyarankan agar dia tidak keluar. Tapi saran saya ditelan mentah-mentah sama dia.
“Gimana kalo lo engga usah keluar Mi?”
“Bego! Gue kan udah keluaaaaar!” Fahmi teriak, seakan marah-marah sama saya. dan pas si Fahmi teriak, gedung kampus runtuh. Besoknya kita libur kuliah, selamanya.
“Gimana nih Nik? Gue udah punya bini lagi.”
“Mending bininya buat gue aja Mi.”
Abis itu si Fahmi ngebunuh saya, untungnya Goku dan kawan-kawan bisa menghidupkan saya kembali dengan 7 bola naga.
Saya tak langsung memberi solusi, soanya saya masih mencari solusi yang tepat buat dia. Tadinya sih pengen ngajak buat di bimbel, ya setidaknya dibagian costumer service yang ngurusin masalah pembayaran. Tapi seingat saya, saya udah keluar dari bimbel tempat saya mengajar, makanya engga jadi kasih solusi kayak gitu. Setelah dipikir-pikir, 2 batang rokok dan segelas kopi sudah habis. Saya puas. Saya tak menduga, akhirnya dia bisa mencari solusi sendiri.
“Oh iya, gimana kalo gue jualan pulsa aja ya?”
“Wah ide bagus tuh, gue boleh ngutang kan?”
“Engga.”

Dua minggu kemudian, dia kembali bercerita tentang usaha jualan pulsanya kepada saya. Bertempat yang sama di depan warung pak de sambil ngopi-ngopi, muka dia terlihat kusut. Saya pun bertanya kepada dia, kenapa mukanya kusut.
“Lo kenapa Mi?”
“Gue udah jualan pulsa selama seminggu, tapi pulsa gue engga laku-laku Nik. Gue bingung mau ngempanin bini gue sama apa?”
“Kasih nasi sama lauk paku Mi.”
“Lo kira apaan bini gue dikasih paku?”
“Pauk Mi bukan paku.”
“Ada saran engga supaya pulsa gue laku?”
Saya tak langsung memberi jawaban kepada teman saya itu, saya mikir dulu. Entah kenapa saya berpikir, kalo orang itu suka yang murah-murah, contohnya aja pas ibu-ibu belanja di pasar tradisional, pasti ada aja kegiatan tawar-menawar. Disitulah saya punya solusi buat si Fahmi.
“Gue ada saran nih.”
“Gimana?”
“Coba dah lo jual pulsa yang 5ribu dengan harga 3ribu, 10ribu dengan harga 5 ribu, yang 50ribu lo jual 10ribu, dan pulsa 100ribu lo jual 20ribu. Gue yakin pulsa lo bakalan laku.”
“Wah iya ya, engga kepikiran loh sama gue.”
sumber : blue.wordpress.comogbisnisg

Seminggu kemudian, saya bertemu lagi dengan Fahmi ditempat biasa. Biasalah kuliah cuma ngopi-ngopi doang. Saya melihat raut wajah Fahmi berseri-seri. Dalam hati saya, pasti pulsa dia laku terjual. Dia duduk di samping saya sambil merangkul tangannya ke pundak saya.
“Gimana Mi, laku kan pulsa lo?”
“Wah iya Nik, dalam sehari aja pulsa gue abis terjual. Makasih banget lo solusinya.” Fahmi nyengir,
“Mana nih traktirnya, kan gue udah kasih solusi ke lo.”
“Tadinya sih, gue pengen traktir lo. Sayang, konter gue bangkrut gara-gara engga balik modal.”
“Kok bisa?” tanya saya polos.
“Ini gara-gara lo! Jual pulsa kemurahan!”
“Lah kan gue cuma ngasih solusi supaya pulsa lo laku, bukan kasih solusi buat nyari untung Mi.”
“Oh iya ya Nik, aduh begonya gue ngikutin solusi lo.”
“Tabah Mi tabah, hidup itu kadang di bawah kadang juga di atas, tapi bawah atas sama-sama enak kok Mi.”
Jelas di sini saya tak bersalah, karena saya memberi solusi agar pulsanya laku bukan solusi mencari agar menjadi untung. Betul tidak????
Setelah konter si Fahmi ini bangkrut, dia memutuskan untuk berdagang sayuran di pasar sama ayahnya.


Sunday, February 21, 2016

Coklatshit 6

cerita sebelumnya Coklatshit 5 


Istirahat tiba, Coklat tak beristirahat bareng Ival. Coklat lebih memilih menghabiskan waktu di kantin, sementara Ival di dalam kelasnya. Saat Coklat di kantin, dia duduk di sebuah bangku kantin berhadapan dengan teman sekelasnya yang bernama Tiar. Tunggu, Tiar itu nama temannya yang berjenis kelamin lelaki. Dia berperwakan gemuk, ya dia paling gemuk di sekolah ini. Coklat di kantin sebenarnya dia itu cuma mejeng sama perempuan di sekolah ini buktinya engga ada makanan di atas mejanya, ya kayak laku aja. Seharusnya dia sadar diri.
“Tir, lo udah pulang lagi ke rumah?”
“Udah, emang kenapa?”
“Lho! Lo engga takut kalo misalnya ada yang nyariin lo? Gue khawatir sama lo, apalagi besokkan mau lebaran haji.”
“Hahahaha... Tenang aja gue besok kabur lagi.” Tiar ketawa senang.
“Gue harap sih gitu, jadi lo engga bisa disembelih, lagian juga kalo lo disembelih goloknya bisa patah, Tir.”
“Dasar alay hahaha.”
“Hahaha lo Tir alay.”
“Wkwkwkwkwk.” Tiar ketawa ngakak sampai guling-gulingan di bawah lantai.
“Wkwkwkwkwk, parah lo guling-gulingan Tir.” Coklat juga sama.
“Wkwkwkwkwk, bodo amat!”
Mereka berdua itu sama-sama aneh, buktinya omongan mereka engga nyambung sama sekali terus udah gitu guling-gulingan di lantai. 
Wakamiya Hikaru Iin


Sementara Ival yang ada di dalam kelas berniat ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Wakamiya, ya seorang perempuan yang pernah mereka temui ketika pulang sekolah waktu lalu. Perlu anda ketahui Wakamiya adalah siswa sekolah ini juga, ya dia perempuan kelas dua belas ipa enam. Ival sudah sampai dan langsung duduk di samping Wakamiya dengan senyumnya yang manis, iya yang manis menurut dia tapi menurut Wakamiya senyumnya Ival pahit, pahitnya kaya pare seladang.
“Eh, ada Ival dateng, Ival mau ngapain?” tanya Wakamiya.
“Abang Ival kangen sama kamu.”
“Terus mana abang Ivalnya, kok yang dateng cuma Ival doang?”
“Haduh, maksudnya abang Ival itu ya Ival sendiri.”
“Oh…” Wakamiya melongo.
Entahlah saat kedatangan Ival, Wakamiya senang atau sedih hanya dia yang tau tapi keliatannya dia sedih dah.
“Ya ampuuun kenapa orang ini ke kelas gue.” ujar Wakamiya dalam hati.
“Betewe, kamu engga makan kantin, eh maksud abang makan di kantin?”
“Ah engga, aku sebenernya lagi pengen makan martabak telur, nih tapi engga dijual di kantin.” ucap Wakamiya sambil berharap dibelikan martabak oleh Ival.
“Memang kamu doyan?”
“Doyan pake banget lagi.”
Kenapa Wakamiya berkata seperti itu? Asal kalian tau Wakamiya berharap dibelikan martabak oleh Ival. Dasar matre.
“Sebenarnya engga enak tau, apalagi kalo martabaknya habis.”
“Ya iyalah kalo udah abis engga enak, apa yang mau dimakan?”
“Sebenarnya ada martabak yang lebih enak dari martabak telur, kamu mau tau itu apa?”
“Wah, emang ada, hmmm… martabak apa?”
“Martabak yang enak itu pas beli martabak kita lupa bayar sama abangnya enak tuh.”
“Enak tuh yang ada kamu disumpahin sama tukangnya!” ucap Wakamiya gregetan.
“Kebetulan abang pernah disumpahin sama tukang martabak, katanya brengsek lo ya beli martabak engga bayar, gue sumpahin ganteng lo! Nah itu kata tukangnya, ya abang sih terima aja sumpah kaya gitu dengan pasrah.”
Mendengar perkataan Ival seperti itu, rasanya Wakamiya ingin muntah, kasian dia ditemenin makhluk seperti Ival.

Itu dia Ival dan Wakamiya sedang asyik-asyiknya mengobrol, sementara masih di kantin Coklat dan Tiar kembali bangun setelah tadi guling-gulingan di atas lantai. Mereka kembali duduk di atas bangku melanjutkan pembicaraan mereka.
“Bro, gue cabut dulu ya.” ucap Coklat.
“Sip bro.”
Rupanya Coklat bergegas pergi dari kantin. Seiring langkahnya, dia berjalan menuju ruang guru untuk menemui Bu Riny. Ada senyuman yang terurai dari wajahnya ketika dia sampai di depan ruang tersebut. Tok tok tok, Coklat mengetuk pintu sebelum masuk.  Namun sayang, Bu Riny tidak ada di dalam ruang tersebut. Dikarenakan Coklat tidak tahu mana tempat duduk Bu Riny, dia pun bertanya kepada salah satu guru.
“Pak, mau nanya pak.”
“Coklat, saya ini buguru loh bukan bapak guru.”
“Oh maaf bu, lagian yang nulisnya engga ngejelasin kalo gurunya itu cewek.”
“Sudah tidak apa-apa, Coklat mau tanya apa?”
“Kursi Bu Riny yang mana ya bu?”
“Oh Bu Riny itu tidak punya kursi, semua kursi disini itu punya sekolah.”
“Haduh, maksud Coklat tempat duduk Bu Riny yang mana bu?”
“Oh bilang dong, yang disana itu.” jawab buguru sambil menunjuk tempat duduk di pojok ruang ini.
“Makasih bu.”
“Iya.”
Apa yang dilakukan Coklat saat ini? Perlahan-lahan dia mengambil sepucuk surat dari dalam saku bajunya. Cie-cie rupanya dia nulis puisi semalam buat Bu Riny, cieee. Setelah diambil, kemudian Coklat menaruh sepucuk surat itu tepat di atas meja Bu Riny dengan harapan Bu Riny bisa membacanya. Engga usah diharapkan, Bu Riny juga udah bisa baca, Klat Klat.

Di kelas ipa enam, Ival masih mengobrol dengan Wakamiya. Ival begitu tampak senang bisa isitrahat dengan Wakamiya yang duduk di sampingnya. Saat ini Wakamiya mengambil sebotol jus mangga buatannya sendiri, dia taruh di atas meja. Jus yang berwarna oren ini seungguh menyegarkan apalagi kalau dinikmati ketika suasana sedang panas-panasnya, nyeees segernya tuh di sini, sambil nunjuk tenggorokan.
“Waw jus mangga, buat aku ya?” ucap Ival.
“Enak aja buat kamu! Ini jus buatan aku sendiri tau.”
“Buatan kamu? Wah engga enak tuh.”
“Enak lah.”
Kenapa Ival bilang engga enak? Karena dia pengen ngarasain jus buatan Wakamiya, lihat aja tuh mulutnya udah ngiler-ngiler sampai satu ember.
“Waduh Val, penuh tuh ember.” kata Wakamiya.
Ival lalu mengelap mulutnya dengan tangan. Jorok, pasti tangannya bau iler tuh.
“Eh, maaf.”
“Kamu pengen ya?” ucap Wakamiya menggoda Ival.
“Engga! Lagian buatan kamu itu engga enak.”
“Enak lah, cobain deh, kalo kamu minum jus ini ehhh segernyaaaaa.”
Ival pun tak bisa menahan keinginannya untuk mencicipi jus buatan Wakamiya, apalagi setelah digoda seperti itu. Keinginannya pun terungkap di hadapan Wakamiya.
“Bagi doooong, kalo kamu bagi jusnya buat aku, kamu cantik deh.”
“Aku mah udah cantik dari dulu.”
Kring… kring… kring… bel berbunyi tiga kali tanda jam istirahat sudah selesai dan semua siswa pun kembali ke kelasnya masing-masing.
“Yah udah masuk lagi aja, padahal aku belum minta jusnya.” keluh Ival.
“Kasian deh.” ledek Wakamiya.
Malam harinya, Ival engga bisa tidur gara-gara kepikiran terus sama jus buatan Wakamiya. Matanya terus melotot mandangin atap-atap kamar rumahnya.
“Oh jus mangga, betapa aku rindu padamu. Aku ingin meminummu, tapi apalah daya… Wakamiya tak mau memberikannya padaku… sejujurnya aku ingin beli jus mangga… tapi apalah daya… aku tak cukup uang untuk membelimu… aku hanya mampu membayangkanmu merindukanmu, entah sampai kapan rindu ini berada di pelukanku… oh jus mangga…”

***

Seusai upacara setiap senin pagi Ival, Coklat dan teman-teman satu kelasnya berkumpul di lapangan sepakbola yang berada di samping sekolah. Mereka sekelas bersiap menerima pelajaran olahraga. Mereka sekelas duduk di atas lapangan sambil mendengar arahan guru olahraga yang berdiri di depan. Guru olahraga nan tampan seperti Siwon membuat para siswa perempuan berteriak histeris melihatnya.
“Bapaaak… I love you… Aaaaaaaa!” teriak para siswa perempuan.
“Bapaaak… sarangheo…!”
“Love you bapaaak…”
“Bapak mana bapak! Bapak di jonggol!” teriak Coklat.
Giliran yang lain hesteris memuji guru olahraga, eh si Coklat ikut-ikutan kayak si Wakwaw. Coklat yang saat ini kebetulan duduk di samping Sweety hanya bisa pasang wajah manyunnya.
“Pada lebay ya cewek-cewek ipa tujuh.”
“Kenapa emangnya?” tanya Sweety.
“Memang kamu belum nyadar ya kalo ada yang lebih ganteng dari pak guru?”
“Siapa Coklat?”
“Aku.”
Seketika Sweety lalu hening, dia terdiam tak bisa membayangkan apa yang barusan Coklat katakan padanya.
“Kenapa diem aja?”
“Aku mau muntah dengernya.” ucap Sweety sambil tertunduk lesu.
“Kenapa ya cewek-cewek selalu bilang kayak gitu? Padahal aku udah berkata jujur loh.”

Pelajaran olahraga pun dimulai, semua siswa laki-laki berkumpul di lapangan. Mereka berkumpul untuk bertanding sepakbola. Terlihat guru olahraga dengan wajah cerianya berdiri di pinggir lapangan bersama para siswa perempuan di sampingnya.
“Ahh, enaknya kalau tiap hari di sekolah kayak begini.” senyum-senyum pak guru.
Sementara Ival dan Coklat yang berdiri bersiap melakukan kick off memandang sinis pak guru yang di pinggir lapangan. Mereka berdua iri terhadap guru olahraga itu.
“Dasar, guru modus.” ujar Coklat.
“Iya, keenakan dia.”
“Gue juga mau kayak gitu.”
“Heh cepet mulai!” teriak pak guru.
“Iya pak.”

Priiit! Peluit berbunyi, tanda kick off sudah dimulai. Coklat membagi bola kepada Ival. Ival lalu membagi bola kepada teman yang lain di belakangnya. Temannya itu menggiring bola ke daerah musuh dan lalu mengoper kepada Tiar. Kemudian mengoper pada temannya yang bernama Ucup. Tiba-tiba dari depan Ucup, pemain lawan melakukan sleding dan priiit! Pelanggaran saudara-saudara. Ucup terjatuh, dia merintih kesakitan memegangi lututnya.
“Aduh-aduh!” ujar Ucup.
“Makanya kalo bola jangan pelit, over ke temen Cup.” ujar Coklat.
Melihat siswa merintih kesakitan, pak guru langsung berteriak.
“Medis-medis! Tim medis masuk!”
Tim medis yang diwakili oleh Sweety datang, dia membawa obat dan segera melakukan penyembuhan pada Ucup yang luka itu.
“Sakitnya dimana?” tanya manis Sweety.
“Sakitnya tuh di sini.” jawab Ucup sambil nunjuk hatinya.
“Mau diobatin engga! Becanda mulu!”
“Iya-iya, sakitnya di sini.” kata Ucup sambil nunjuk lututnya.
“Aku obatin ya?” senyum Sweety.
“Iya.”
“Oh ini toh medisnya, kalo begitu…” ujar dalam hati Coklat.

Tiba-tiba saja Coklat yang berdiri di samping Sweet langsung terjatuh sambil memegangi lututnya, dia merintih kesakitan. Walah modus nih si Coklat.
“Aduh… aduh… aduh… kakiku.”
“Kamu kenapa Coklat?” tanya Sweety.
“Aku keram kayaknya nih.”
“Aku obatin juga ya?”
“Iya, boleh-boleh.”
Melihat Coklat dan Ucup yang sedang diobati oleh Sweety, tiba-tiba saja siswa laki-laki yang lain pun turut mengeram kesakitan sambil memegangi kaki. Mereka yang kesakitan itu pada memasang wajah pilu, ada yang nangis kejer ada yang merintih sambil gigitin rumput lapangan dan ada juga yang nangis sambil guling-gulingan di lapangan.
“Aduh… Aduh… aku cedera.”
“Argh… argh… medis… medis…”
“Aduh… aduh… lututku ngilu nih, kayaknya keram deh.”

Melihat siswanya pada tergeletak merintih di lapangan, pak guru pun langsung berlari masuk ke lapangan. Pak guru berdiri di samping Coklat yang merintih kesakitan.
“Gawat, mereka semua pada cedera.” ujar pak guru kebingungan.
“Iya pak nih, kita kayaknya cedera parah aduh.” ujar Ival.
“Hmmm… Bapak panggil mobil jenazah pada mau kan semuaaaa?!!!!”
Mendengar teriakan pak guru barusan, akhirnya seluruh siswa laki-laki berdiri kembali dan tampak segar bugar, seperti tidak ada kejadian apapun.
“Ah engga pak, kita udah sembuh kok.” kata Ival.
“Iya pak, kita udah sembuh.”
“Beneran pak, kita baik-baik aja. Tuh kan engga apa-apa.” ujar Coklat tersenyum.
“Dasar ye, anak laki-laki ipa tujuh pada modus semua…” geram Sweety.

Selesai pelajaran olahraga, anak ipa tujuh pada kumpul di kantin sekolah. Mereka semua masih mengenakan kaos olahraga tapi engga termasuk yang jualan di kantin ya. Ival Coklat dan teman-teman lainnya masih duduk-duduk di bangku kantin, mereka menantikan salah satu dari teman mereka untuk membeli sebuah minuman segar. Kenapa mereka tidak langsung membeli? Karena itu bisa bahaya, ya contohnya seperti ini. Ketika itu seorang teman mereka yang bernama Ucup membeli segelas minuman segar di kantin. Dia berjalan menuju bangku kantin sambil membawa segelas minuman di tangannya. Suasana masih terlihat tenang, dia duduk dan kemudian menaruh minuman itu di atas meja. Coklat, Ival dan teman-temannya yang lain melihat Ucup dengan tatapan orang-orang yang haus.
“Ucup udah duduk dan dia sekarang lagi bersiap-siap untuk minum, kalian tau kan apa yang harus kita lakukan?” tanya Coklat.
“Iyaaa tauuu!” serentak menjawab.
“Seraaaang!”
Mereka serentak berlari mendekati Ucup dan tangan-tangan mereka kelaparan saling berebut minuman dari Ucup. Bught baght bught baght, suasana yang tadinya tenang menjadi ricuh karena mereka pada rebutan segelas minuman. Ya ampun, anak ipa tujuh pada kere semua.
“Jangan ini minuman akuuuu.” ucap Ucup.
Gelas minuman itu berpindah tangan dari tangan yang satu ke tangan yang lain, hingga akhirnya sedikit demi sedikit minuman yang ada di dalam gelas itu muncrat dan habis tak tersisa. Dan ketika habis, gelas itu pun kembali ke tangan Ucup.
“Yah minumannya habis, Cup.” kata Coklat.
“Sorry Cup ya.” kata Ival.
“Minumankuuu...!” teriak Ucup sambil ngeliatin gelasnya yang sudah kosong. 
Sabar ya Cup anak ipa tujuh emang semuanya pada rese, dan semua anak-anak yang rusuh kembali berjalan meninggalkan Ucup yang masih bersedih melihat minumannya tumpah.

Ya setelah berbuat gaduh di kantin, mereka kembali duduk di bangku kantin ini sambil menikmati segelas minuman. Ival dan Coklat yang duduk dalam satu bangku melihat Wakamiya berjalan mendatangi kantin. Dia hendak membeli sebuah buku tulis dan pulpen. Wakamiya berjalan di hdapan Coklat dan Ival.
“Ehmm cewek.” ujar Coklat menggoda.
Wakamiya membiarkan godaan dari makhluk aneh bernama Coklat itu, dia terus berjalan mengalihkan wajahnya dari Coklat.
“Sombong nih engga nengok.” ucap Coklat menggoda lagi.
“Coklat, aku tuh bukannya sombong, tapi males ngeladenin orang kaya kamu.”
“Pantes aja kemarin aku manggil-manggil kamu lagi ngendarain mobil, kamu engga nengok.”
“Hehehe amin kalo aku punya mobil. Gitu dong sekali-kali buat aku seneng.”   
“Eh kata kenek kamu, angkotnya udah penuh hahaha.”
“Suwe!” ujar kesal Wakamiya sambil nyumpelin buku ke mulutnya Coklat.
“Emoh… moh… moh…”
“Coklat-Coklat, makanya lo engga usah godain cewek gue, gini kan akibatnya.” kata Ival.
“Hah? Cewek kamu! Nih makan!” ujar Wakamiya sambil nyumpelin buku lagi ke mulut Ival.
“Hahaha sukurin lo Val.”
Akhirnya Wakamiya berjalan kembali ke kelasnya, setelah memberi pelajaran pada duo orang aneh itu.