Monday, February 29, 2016

Fakta 29 Februari 2016

29 Februari 2016 terjadi tepat pada tanggal 29 di bulan Februari dan di tahun 2016
29 Februari tidak akan terjadi di tanggal 1 sampai 28, tidak terjadi pula dibulan januari, maret, april, mei, juni, juli, agustus, september, oktober, nopember maupun desember
woooow
itulah fakta 29 Februari 2016
ada yang mau menambahkan??

Saturday, February 27, 2016

Aku Punya Mimpi




Sore hari, ketika Ken sedang santai di rumahnya sendirian sambil menonton televisi. Ayahnya yang selepas pulang dari kantor memasang wajah kecewa. Lalu duduk di sofa disamping Ken sambil memegangi kepalanya seraya orang pusing.
“Yah, kenapa?” tanya Ken melihat wajah kusam ayahnya.
“Ken, kamu mau kuliah apa mau jadi pengamen sih?” jawab sang Ayah saat menoleh kepadanya.
“Emang kenapa yah?”
“Barusan ayah dapat telepon dari kampus kamu, katanya kamu jarang mengikuti perkuliahan, kamu kenapa? Apa mau jadi anak band?”
“Udah pinter yah.” ucap santai Ken.
“Ken! Ayah mengkuliahkan kamu itu buat kamu jadi orang sukses! Tapi apa sekarang? Kamu menyia-nyiakannya! Kamu pikir kuliah itu gratis?” lantang sang ayah.
“Ya bayar yah.”
         
Kekesalan dalam hati Ken pun timbul usai mendapat gertakan dari sang ayah. Matanya memandang sang ayah dengan tajam. Tapi engga berani, lirikan mata sang ayah lebih tajam darinya.
“Ken juga kan punya mimpi, yah!”
“Jadi anak band? Apa istimewanya sih anak band?”
“Banyak yah, dikagumin sama cewek-cewek yah, terus lagi bisa tour keliling kota yah!”
“Keliling kota? Kamu aja jalan dari kamar ke toilet aja nyasar nak! Terus ada penghasilan dari kamu ngeband? Kamu itu belum dewasa nak, karena belum bisa menghasilkan uang!” tegas sang ayah sambil menepuk meja yang terbuat dari kayu di depannya.
“Ayah selalu menganggap dewasa itu kita udah mampu dalam materi? Ayah benar!” Ken berdiri terbawa emosinya.“Sudahlah Yah, cape Ken dimarahi mulu, lebih baik dari dulu Ken ikut dengan Ibu!” Ken lalu pergi dari rumah.
“Ken!” ayahnya pun turut berdiri melihat sang anak pergi dari rumah ini.
Ken pergi meninggalkan rumah begitu saja, membawa amarah yang singgah dalam hatinya. Pintu rumah pun di tutup dengan kencang, seperti membanting.
“Arggt… anak itu susah dibilangin.” ayahnya menggerutu.
Sepuluh detik kemudian, Ken kembali menemui ayahnya.
“Ken?”
“Yah, pintu keluar dimana ya yah? Ken lupa.”
“Oh dari sini belok kanan Ken. Tuhkan di rumah sendiri aja nyasar.”
“Ok.”

Ken pergi ke suatu tempat, tempat yang jauh dari rumahnya. Tempat yang disekelilingi oleh puluhan pohon-pohon rindang. Dia bersandar di bawah pohon sambil merasakan kekesalan di dalam hatinya. Angin berhembus menemani lamunan kesal anak itu.
“Angin, coba kau katakan pada ayahku, bisakah dia memahami kemauanku sekali saja. Aku juga punya mimpi, mimpi yang kini ada di hadapanku. Angin, aku yakin dia pun akan bangga bila melihatku bisa sukses dengan mimpiku, tapi kenapa dia tak mengerti keinginanku itu. Apa salahnya berjalan menuju arah sendiri selama itu tak menyimpang? Aku pun bisa menjaga diriku sendiri, aku tau mana yang baik dan mana yang buruk, aku sudah dewasa. Aku ingin ayah mengamini mimpiku, aku ingin ayah membiarkanku berjalan di atas mimpi-mimpiku sendiri.” ujar Ken dalam hati sembari menikmati semilir angin yang bertiup. Ken lalu menghembuskan nafasnya, “Payah, percuma gue nanya sama angin, kalo engga dijawab.”
Ken lalu berdiri dari sandarannya, dia melihat ada anak yang begitu bahagia bersama ibunya. Melihat hal seperti itu membuat dia iri saja.
“Hal di depanku, rasanya aku ingin merasakannya juga. Mereka dengan ceria mampu berbagi dengan ibunya, aku iri. Iri aja gitu ngeliat ibunya yang cantik terus bodinya behhh kayak gitar Spanyol.” Ken dalam hati.

Sementara di tempat lain, lampu gantung bergoyang di atas kepalanya. Terang kadang menyinari wajahnya yang penuh luka dan dendam. Menatap cermin di depannya, dia lalu tersenyum sadis bak tawa setan. Berpancar amarah yang tak bisa dia bendung.
“Sambil menatap cermin di depan gue, gue bersumpah akan membalas mereka yang sudah bermain-main dengan adik gue, heh. Kalian takkan bisa lari dari kenyataan itu. Kepedihan dan kesendirian yang  gua alami ini akan segera terbayar lunas dengan darah dan airmata yang nantinya akan mengalir di setiap pori-pori tubuh kalian.” ucapnya penuh dendam. “Kerenkan kata-kata gue?”
Planting! Orang itu lalu memukulkan tangannya sendiri ke cermin hingga cermin itu pecah. Goresan sisa-sisa pecahan kaca mengenai ujung tangannya itu hingga membuat kulitnya mengelupas kecil-kecil. Darah tak bisa dihindari walau hanya berupa bintik-bintik menempel di tangannya itu.
“Tak ada seorang pun di dunia ini yang rela adik tercintanya harus mati oleh orang lain! Tak ada satupun yang bisa menerima kenyataan itu, termasuk gue.” ucap orang itu. “Aduh sakit banget ya mecahin cermin.”
Dia melihat darah yang bersimpuh di antara telapak tangannya, mengalir tanpa rasa sakit padahal sakit tuuuh. Kemudian dia berjalan menuju kamarnya yang sederhana, dia mengambil sebuah topeng hitam dari lemarinya di kamar. Seusai dari kamar, dia berjalan ke gudang, saat sampai di gudang dia melihat ada linggis, kapak, palu, dan masih banyak alat-alat bangunan di dalam gudang itu. Setelah itu dia menjualnya via online.


sumber :animeklopedia.blogspot.com

Malam pun datang. Di basecamp Violet, Kai dan Edo yang tadi siang mendengar Vision akan segera rekaman membuat mereka sendiri kebakaran jenggot. Bersama teman satu bandnya itu, mereka masing-masing duduk di atas sofa. Kai mulai menggambarkan wajahnya penuh emosi, kemudian dia berdiri di hadapan teman-temannya.
“Mereka besok mau ketemu sama label, sementara kita cuma diem-diem doang ngeliat mereka bakal sukses!” Kai pada teman satu bandnya yang sedang duduk di atas sofa.
“Tenang Kai.” ucap Edo yang duduk di sofa.
“Tenang-tenang! Lo pikir Do, mereka itu lagi engga digandrung-gandrungi sama anak-anak kampus, anak-anak sekolahan juga, anak tk juga! Pikir pake otak, pas mereka ngeluncurin album pertama otomatis albumnya pasti engga bakal dibeli sama anak-anak!” Kai sambil menunjukkan telunjuknya ke kepala sendiri.
“Iya-iya kita tau itu.” Edo santai.
“Tau? Kenapa kalo tau lo semua pada diem aja?”
“Iya sob, kita pikirin lagi gimana caranya buat…” ucap Eza yang juga duduk di sofa.
“Malam ini kita serang dia!” Kai mengepalkan kedua tangannya.
“Kai!” Edo.
“Kalo kalian engga mau ikut? biar gue sendiri yang ke sana!”
“Ya udah sendiri aja sono.” ucap Edo, lalu dia berdiri.
“Gua engga bisa untuk malam ini.” ucap Edro dengan suara kecilnya.
“Ya sorry bro, gua juga sama.” tandas Eza.
“Terserah kalian, gue engga jadi kalo sendiri.”
Tapi pada akhirnya Kai dan Edo bergegas meninggalkan basecamp ini menuju markas besar Vision. Edro dan Eza hanya diam di basecamp, tak tau harus berbuat apa. Mereka berdua sedikit muak dengan apa yang dilakukan Kai.
“Seharusnya Kai udah engga perlu lagi urus mereka, cukup urusin bandnya aja.” Edro.
“Iya Dro, kenapa sih dia ambisi banget buat jatuhin si Jo?” Eza.
“Engga tau Za, gue sih takutnya dia diluar batas dan berubah jadi super saiya 5.”
“Jangan berpikir negatif dulu bro, siapa tau bener.”
“Lo tau Kai, anaknya gimana? Apa kita nyusul aja buat cegah dia?”
“Engga usah lagiankan masih ada Edo dan anak-anak Vision buat bonyokin dia.”
“Ya udah, kita cabutlah.”
Eza dan Edro pun meninggalkan tempat ini.

Di basecamp Vision, baru saja mereka dan juga Didi membahas tentang pertemuan yang akan dilaksanakan esok hari. Didi menjelaskan secara rinci tentang kegiatan-kegiatan yang akan dijalani bandnya itu di hadapan yang lain sambil duduk-duduk di atas sofa.
“Jadi kaya gitu, engga keberatan kan?” tanya Didi yang berdiri di depan yang lain.
“Engga, Di… lo atur aja deh.” Jo dengan pasrahnya.
“Jo, lo kenapa engga bisa hargai usaha gue? Atur-atur, sementara lo sendiri?” kesal Didi.
“Di, band ini tanpa gue, mau jadi apa? Jadi sukses. Mending lo turutin aja apa kata gue!” Jo lalu berdiri
“Udah kalian berdua!” Ken melerai berdiri di antara mereka.
“Lo juga Jo, lo kan leader di sini seharusnya…” ujar Sam.
“Kok pada nyalain gue? Kalo si Didi engga mau jadi menejer band kita, mending dia jadi vokalis dan gue jadi manajernya, beres!” Jo.
“Sorry, gue emosi, besok jangan lupa jam delapan udah standby di sini, semua dimohon duduk kembali.” Didi bersuara lemah.
“Iya-iya jam delapan kita kumpul di sini, terus cabut ke sana!” ucap Jo dengan wajah kesalnya.
“Yang lain jangan lupa ya?” Didi mengingatkan.
“Iyaaaa…” serentak yang lain.
“Ok, jadi rapat kita cukup hari ini, yang mau pulang, silahkan, yang mau nginep di sini juga, silahkan, tapi bayar” ucap Didi.
“Gue di sini aja deh, lagi pusing gue di rumah.” ucap Ken sambil memegangi kepalanya.
Semuanya pulang kembali ke rumah kecuali Ken, dia menginap di basecamp ini sendirian. Matanya seakan terbawa oleh pilu emosinya yang masih menempel di hati. Mengenang ketika ayah dan ibunya dulu bercerai.
flashback
Di dalam rumah Ken, Ken melihat ayah dan ibunya saling beradu omongan, seusai dia pulang sekolah. Ken hanya berdiri dengan seragam putih merah-merahnya di hadapan ayah dan ibunya yang bertengkar kembali. Kepalanya tertunduk, kecewa dengan apa yang ada di dalam keluarga kecilnya ini.
“Ayah… ibu… Ken dengar…” Ken yang berdiri di hadapan ayah dan ibunya.
“Cukup! Aku engga mau lagi tinggal di rumah ini!” tandas sang ibu.
“Teserah kamu! Kamu mau tinggal di jalanan, kolong jembatan, aku engga peduli, asalkan jangan bawa-bawa Ken ikut dengan kamu!” lantang sang ayah.
“Mas, Ken itu anak aku!”
“Ya aku tau, tapi aku udah nyumbang juga loh.”
“Mas…”
Ken yang berdiri di hadapan mereka seusai pulang sekolah, hanya bisa ikuti kemauan ayahnya yang keras itu.
“Ken, hari ini kamu akan tinggal di sini bersama ayah, engga lagi sama ibu kamu.” sang ayah menunjuk Ken yang masih berdiri.
“Tapi yah?”
“Udahkan kamu turutin saja perkataan ayah.”
***
“Seandainya dulu aku pilih kamu, ciee kamuuu. Seandainya aku itu pilih ibu, mungkin dia akan mengamini dan mendukung mimpiku ini. Ibu, Ken engga tau dimana ibu sekarang, Ken hanya bisa meminta doa ibu dari jauh.” ujar Ken dalam hati.

Di sisi lain, sebuah mobil terparkir tak jauh dari basecamp mereka. Tak terlihat satupun kendaraan  dari anak-anak Vision yang terparkir di halaman basecamp Vision.
“Do, mereka kayanya udah pada cabut.” Kai yang mengendarai mobil melewati basecamp itu.
“Iya… kita telat.” Edo yang duduk di samping Kai.
“Kita kan cowok Do, yang biasa telat datang bulan tuh cewek Do.”
Kai dan Edo membatalkan niat mereka seusai melihat Jo sudah tiada di basecampnya. Kai memundurkan mobilnya, kemudian berjalan berbalik dari arah mereka kini. Kai mengantarkan Edo kembali ke rumahnya.

15 menit berlalu…

Di dalam sebuah mobil yang dia kendarai, dia memakai topeng yang dia bawa dari rumahnya, dia memakai pula sweater hitam dan kaos tangan berwarna putih serta tak lupa ada sebuah linggis tertidur bersandar di bagian belakang mobilnya. Wajah yang tertutup oleh topeng tak menutupi niatnya malam ini untuk memulai langkah baru di dalam hidupnya.
“Satu persatu mereka akan tau dengan apa yang telah mereka lakukan. Mencari keadilan yang benar kumiliki, heh rasanya ini cukup adil mengingat semua masalalu itu.” tekad orang itu sambil melaju terus ke basecamp Vision.
Orang itu kembali menuju basecamp Vision penuh dengan senyuman tak wajar yang tertutupi oleh topengnya.

Sejam berlalu, Ken masing dipusingkan dengan kemauan ayahnya yang keras. Melihat jam di dinding ini bahkan membuatnya sulit untuk memejamkan mata.
“Jam segini mata gue masih melek.” ucap Ken yang masih duduk di sofa.
Sekedar untuk menemaninya dikala hampa, dia mengambil sebungkus rokok dalam kantung celananya. Dia nyalakan rokok dengan apai, kemudian apinya yang dia hisap. Asap berhembus dari mulutnya, melayang terbang mengitari ruang basecamp ini.
“Huh, semoga aja besok mimpi itu akan terwujud.” ujar Ken dalam hati.
Krek… krek… krek… terdengar suara dari pintu depan basecamp. Tok… tok… tok… kini suara ketukan pintu terdengar sampai di telinganya.
“Iya, siapa itu?” Ken menyahut.
Tok… tok… tok… tanpa membalas suara Ken, pintu itu kembali terketuk.
“Siapa lagi malem-malem gini ngetuk pintu?‼!” Ken berdiri hendak membukakan pintu.
Merasa terganggu, Ken lalu berjalan ke depan membukakan pintunya. Matanya melihat seseorang yang tak dia kenal memakai topeng dengan sebuah linggis di tangannya.
“Lo siapa?!” tanya Ken.


Nyambung…

Wednesday, February 24, 2016

Solusi Agar Pulsa Laku

Teman kampus saya, Fahmi, baru aja keluar dari pabriknya. Katanya dia udah bosen jadi karyawan pabrik terus, pengennya jadi manager di pabrik itu, mustahil. Dia pernah curhat sama saya, awalnya dia bingung mau ngapain. Mau ngajar mtk di bimbel, dianya belum berani, apalagi buat ngajar mtk di sekolah. Sebagai teman yang baik saya pun lalu memberi solusi, namun sebelumnya saya meminta dibelikan rokok sama kopi dulu, biar enak loh ngobrol-ngobrolnya di warung pak de. Waktu itu kebetulan ada mata kuliah masalah nilai awal syarat dan syarat batas, dan saya memutuskan untuk ngopi aja daripada otak saya korslet ngikutin mata kuliah yang bikin otak korslet. Bukan apa-apa, pernah sih kejadian ngikutin mata kuliah itu, dan pas pulang ke rumah, otak minta disservice. Saya pun pergi ke tukang service otak, tapi kata tukang servicenya, harus beli otak yang baru. Ya sudah saya beli yang second aja, karena murah daripada yang ori.
Kembali kepermasalahan Fahmi yang bingung mau ngapain setelah keluar dari pabrik. Ketika dia sudah keluar, saya menyarankan agar dia tidak keluar. Tapi saran saya ditelan mentah-mentah sama dia.
“Gimana kalo lo engga usah keluar Mi?”
“Bego! Gue kan udah keluaaaaar!” Fahmi teriak, seakan marah-marah sama saya. dan pas si Fahmi teriak, gedung kampus runtuh. Besoknya kita libur kuliah, selamanya.
“Gimana nih Nik? Gue udah punya bini lagi.”
“Mending bininya buat gue aja Mi.”
Abis itu si Fahmi ngebunuh saya, untungnya Goku dan kawan-kawan bisa menghidupkan saya kembali dengan 7 bola naga.
Saya tak langsung memberi solusi, soanya saya masih mencari solusi yang tepat buat dia. Tadinya sih pengen ngajak buat di bimbel, ya setidaknya dibagian costumer service yang ngurusin masalah pembayaran. Tapi seingat saya, saya udah keluar dari bimbel tempat saya mengajar, makanya engga jadi kasih solusi kayak gitu. Setelah dipikir-pikir, 2 batang rokok dan segelas kopi sudah habis. Saya puas. Saya tak menduga, akhirnya dia bisa mencari solusi sendiri.
“Oh iya, gimana kalo gue jualan pulsa aja ya?”
“Wah ide bagus tuh, gue boleh ngutang kan?”
“Engga.”

Dua minggu kemudian, dia kembali bercerita tentang usaha jualan pulsanya kepada saya. Bertempat yang sama di depan warung pak de sambil ngopi-ngopi, muka dia terlihat kusut. Saya pun bertanya kepada dia, kenapa mukanya kusut.
“Lo kenapa Mi?”
“Gue udah jualan pulsa selama seminggu, tapi pulsa gue engga laku-laku Nik. Gue bingung mau ngempanin bini gue sama apa?”
“Kasih nasi sama lauk paku Mi.”
“Lo kira apaan bini gue dikasih paku?”
“Pauk Mi bukan paku.”
“Ada saran engga supaya pulsa gue laku?”
Saya tak langsung memberi jawaban kepada teman saya itu, saya mikir dulu. Entah kenapa saya berpikir, kalo orang itu suka yang murah-murah, contohnya aja pas ibu-ibu belanja di pasar tradisional, pasti ada aja kegiatan tawar-menawar. Disitulah saya punya solusi buat si Fahmi.
“Gue ada saran nih.”
“Gimana?”
“Coba dah lo jual pulsa yang 5ribu dengan harga 3ribu, 10ribu dengan harga 5 ribu, yang 50ribu lo jual 10ribu, dan pulsa 100ribu lo jual 20ribu. Gue yakin pulsa lo bakalan laku.”
“Wah iya ya, engga kepikiran loh sama gue.”
sumber : blue.wordpress.comogbisnisg

Seminggu kemudian, saya bertemu lagi dengan Fahmi ditempat biasa. Biasalah kuliah cuma ngopi-ngopi doang. Saya melihat raut wajah Fahmi berseri-seri. Dalam hati saya, pasti pulsa dia laku terjual. Dia duduk di samping saya sambil merangkul tangannya ke pundak saya.
“Gimana Mi, laku kan pulsa lo?”
“Wah iya Nik, dalam sehari aja pulsa gue abis terjual. Makasih banget lo solusinya.” Fahmi nyengir,
“Mana nih traktirnya, kan gue udah kasih solusi ke lo.”
“Tadinya sih, gue pengen traktir lo. Sayang, konter gue bangkrut gara-gara engga balik modal.”
“Kok bisa?” tanya saya polos.
“Ini gara-gara lo! Jual pulsa kemurahan!”
“Lah kan gue cuma ngasih solusi supaya pulsa lo laku, bukan kasih solusi buat nyari untung Mi.”
“Oh iya ya Nik, aduh begonya gue ngikutin solusi lo.”
“Tabah Mi tabah, hidup itu kadang di bawah kadang juga di atas, tapi bawah atas sama-sama enak kok Mi.”
Jelas di sini saya tak bersalah, karena saya memberi solusi agar pulsanya laku bukan solusi mencari agar menjadi untung. Betul tidak????
Setelah konter si Fahmi ini bangkrut, dia memutuskan untuk berdagang sayuran di pasar sama ayahnya.


Thursday, February 18, 2016

Lapar

Lapar 

Saat perutku berbunyi kroncongan
Kadang juga pop, rock, dangdut, metal, koplo dan berbagai aliran music lainnya
Yang penting bukan aliran sesat
Saat ragaku mulai lemah
Lesu, linglui, langlai
Kuingin bangkit dari dari kehampaan perut ini
Kungin bangkit dari rasa lapar ini

Aku lapar
Aku ingin makan
Makan-makanan yang enak dan juga halal
Aku lapar
Perutku tak mampu menahannya
Rasanya sakit
Kayak gejala maag-maag gitu
Aku lapar
Berharap setelah makan
Perutku pun kenyang

Nasi goreng, mie ayam, soto babat, soto ayam, bubur ayam, ayam goreng, daging rendang, ketoprak, gado-gado, somay, batagor, sate, ayam bakar, gule kambing, jangan kambing diguling-gulingin
Aku rindu kalian
Tak dapatkah kalian mengerti perasaanku ini
Aku lapar
Aku sadar,
Seharusnya yang kulakukan adalah makan
Bukan bikin bait-bait tak jelas seperti ini
Maaf aku
Aku hanya ingin mencurahkan perasaanku kepada kalian
Sekali lagi maafkan aku
Aku tak bermaksud menyakiti hati siapapun
Aku hanya lapar
Dan ingin makan
Supaya kenyang

Puisi di atas itu merupakan ungkapan bagaimana seseorang ketika merasa lapar, lalu apa sih yang harus dilakukan ketika lapar? Ini menjadi pertanyaan serius.
Ok lapar itu terdiri dari lima huruf, yaitu L-A-P-A dan R
Jika kita telaah lagi dalam urutan setiap huruf-huruf yang membentuk kata lapar, maka kita dapatkan L merupakan huruf ke 12 dalam urutan abjad, A urutan 1, P urutan 16, A urutan 1, dan R urutan 18. Jika kita jumlahkan 12 + 1 + 16 + 1 + 18 maka hasilnya adalah 48. Nah angka 48 ini jika dibagi 4 maka hasilnya 12, terus adakah hubungannya dengan pertanyaan apa yang harus dilakukan ketika lapar? Jawabannya tidak ada. Kita jangan menyerah sodara-sodara. Kata lapar itu terdiri dari 5 huruf, ok dari lima huruf tersebut misalnya kita ambil huruf A, maka peluang terambilnya huruf A adalah  . Ada apa dengan bilangan pecahan dua perlima? Ya tepat sekali, dalam bilangan pecahan tersebut ada angka 2 dan 5. Jika kita satukan maka menjadi 25, yoo kita goyang 25, eh udah lewat ya.
Dari hasil perhitungan di atas tak ada satupun yang merupakan jawaban dari pertanyaan hal apa yang harus dilakukan ketika lapar.

Coba lihat kalimat berikut.
Ibu Budi pergi ke pasar, Budi sedang lapar
Dalam kalimat tersebut menyatakan bahwa Ibu Budi lagi ke pasar, sedang apakah Ibu Budi ketika di pasar? Entahlah itu hanya Ibu Budi dan Tuhanlah yang tau, bisa saja kan Ibu Budi belanja atau berdagang di pasar. Sekarang kita lihat Budinya, dalam kalimat tersebut menyatakan bahwa Budi sedang lapar. Kemudian Budi melakukan apa ketika sedang lapar? Sayangnya kita tidak tau lanjutan kalimat tersebut sob, jadinya kita tidak menemukan lagi jawaban dari pertanyaaan apa yang harus dilakukan ketika lapar. Kita jangan menyerah sob, masih ada cara lain untuk mengungkapkan ini.
Ada pepatah mengatakan hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai, dan lapar pangkal? Sayangnya dalam pepatah tersebut tidak ada lanjutakn lapar pangkal apa, seharusnya dilanjutkan saja agar kita tau kalau lapar itu harus apa.
Jika saya bertanya, siapa manusia yang pertama kali lapar? pasti jawabannya adalah nenek moyang kita Nabi Adam, karena beliau merupakan manusia pertama yang turun ke muka bumi. Sayangnya ketika beliau masih hidup itu saya belum ada di dunia ini sob, jadi saya tidak bisa menanyakan hal apa yang harus kita lakukan saat lapar. Maaf sekali.
Kita kembali lagi ke puisi yang tertera di atas. Dalam puisi yang berjudul lapar itu terdapat kalimat “Aku hanya lapar. Dan ingin makan”
Apa artinya ini? ya tentu saja inilah jawaban dari pertanyaan kita sebelumnya. Apa yang harus dilakukan ketika kita lapar? Yap betul sekali jawabannya adalah makan. Horeeeeeee, akhirnya kita menemukan jawabannya saudara-saudara. Jadi kalo kita lapar itu maka yang harus kita lakukan adalah makan, fuih, akhirnya selesai juga masalah ini.


Friday, February 12, 2016

Angin Lalu

yang belum baca cerita sebelumnya nih dia Dia Memeluknya Penuh Cinta



Setahun berlalu…
Siang ini, teriakan-teriakan riuh para penonton bersorak di festival musik seusai melihat pertunjukan band kenamaan dari sebuah kampus kenamaan di Tangerang yang membawakan lagu American Idiotnya Greenday dan The Beginning milik One Ok Rock. Padahal ketika membawakan lagu tersebut vokalisnya bingung, dia engga tau liriknya. Ternyata setelah diselidiki, teriakan-teriakan riuh penontonnya seperti ini.
“Turun! Turun! Turun!”

Vision, band yang sedang naik daun di kampus tersebut digawangi oleh Jo vokalis, Rey gitaris satu, Ken gitaris dua, Sam bassis dan Eda drummer. Saat mereka turun dari panggung suara histeris itu masih terdengar hebat dikerumunan para penonton. Gapai-gapaian tangan terlihat saat Jo berjalan beriringan dengan yang lain di belakangnya kala keluar dari panggung.
“Jooo… Jooo… Jooo…” suara teriakan histeris para fans wanita yang mengagumi Jo di pinggir jalan yang terbatasi oleh pagar.
“Joooooo… Joooo… bisa nyanyi kagak looo!”

Dari tempat lain, seseorang bernama Didi menanti kedatangan mereka seusai tampil tadi. Sejenak Didi sebagai asisten band mereka menanyakan kapan album perdana mereka diluncurkan. Dia berjalan mendekati Jo.
“Jo, jadi kapan lo keluarin album perdana?” tanya Didi yang berjalan di samping Jo.
“Tenang aja Di, gue hanya butuh tiga lagu lagi baru ngerampungin projek kita.” Jo menengok ke arah Didi.
“Ya Di, tenang aja, Jo itu punya karismatik di mata fansnya.” Rey membela Jo, dia berucap dari belakang keduanya.
“Oh tadi suara penonton yang nyuruh turun itu gara-gara karismatiknya si Jo.” pungkas Didi dengan sedikit kekesalannya.
“Betul Di.” jawab Rey.
“Lo liat tuh Ariel Noah  apa karismatik dia ilang pas keluar dari penjara? Engga kan?” Jo berbalik bertanya pada Didi saat menengoknya pula.
“Dia kan udah punya nama, lagipula karya-karyanya udah diakui, sementara lo?” pungkas Didi
“Jauh Di, jangan disamain.”
“Udah gue kira Jo. Jangan lama-lama Jo, sekarang engga ada tawaran dari label yang masuk ke hape gue buat minta kalian jadi rising starnya dan gue bosen kalo kalo harus nunda-nunda mulu.” ucap Didi sambil mengeluarkan hapenya.
Mereka terus berbicara sambil berjalan kearah mobil yang sedang menunggu kedatangan mereka. Sebuah mobil yang selalu mengantarkan aksi dari panggung mereka.
“Lo masih kaku aja, kita ini masih muda masih panjang, so jangan takut kehilangan tawaran, padahal engga ada tawaran juga.” Jo sambil membuka pintu mobil yang terparkir.
“Jo tapi kesempatan itu engga akan datang dua kali.” ucap Didi yang melihat Jo hendak masuk ke dalam mobilnya.
“Tenang aja, dalam hidup gue kesempatan datang berkali-kali, lo engga usah takut.” Jo menepuk dada Didi kemudian memasuki mobil tersebut.
“Jo…” Didi masih berdiri.
“Di, percaya sama kita-kita, Vision ini akan kehilangan pamor.” Jo lalu memasuki mobil dari pintu belakang.
“Ya udah, terserah lo…” Didi kemudian masuki mobil bagian depan.

Merekapun memasuki mobil yang sudah terparkir dan bersiap-siap ke kampus kembali. Disatu sisi, Kai dan teman satu bandnya, Edo. Kai merasa iri melihat mantan personilnya sukses di dunia musikalitas kampus. Di dekat pagar besi, Kai membuang putung rokok yang tadinya menyala sambil menatap tajam seorang Jo.
“Liat aja nanti Jo, siapa yang bakal ancur. Gue apa lo? Kayaknya gue dah.” ucap kesal pria berusia 21 tahun itu seusai melihat Jo dan kawan-kawannya tampil sukses di sini.
Wajah kesal Kai melihat tawa-tawa yang diraih Jo dan anak satu bandnya, membuat dia teringat akan tiga bulan lalu, kala Jo masih ada satu band dengannya.

flashback
Di studio musik kampus mereka. Satu tahun yang lalu, saat tabuhan gitar yang dimainkan oleh Kai dan Edo, gesekan bas yang dimainkan oleh Eza dan petikan drum slow yang dimainkan oleh Edro membuat Jo merasa kesal karena aliran musiknya tak sejalan dengan kemauan dia.
“Lagu apaan nih?!” teriak Jo dengan iringan mik di depannya.
“Lagu kita Jo.” jawab Kai yang sedang memegang gitarnya.
“Pantes amburadul, lo mainin gitar ditabuhi, mainin bass digesek, eh mainin drum malah dipetik!” Jo sambil menghampiri Kai.
Jo, tapi ini kan lagu yang diterima di pasaran.” ungkap Kai.
“Gue engga suka!” pungkas Jo.
“Jo! Lo engga tau selera musik di pasaran!” tegas Edo menghampiri mereka lalu membela Kai.
“Jo, lo engga tau musik!” Kai.
“Terserah lo, gue keluar dari Violet mulai saat ini, karena kita engga sepaham, sorry ya semua.”
Dan Jo pun keluar dari studio musik ini, meninggalkan teman-temannya yang masih berniat memainkan sebuah lagu.
“Jo!” Kai berteriak.
“Udah Kai biarin aja, kita lihat aja nanti siapa yang lebih berkualitas dia atau kita?” ucap Edo menenangkan perasaan Kai.
***

Masih menatap dengan rasa dendam, Kai mengeluarkan pisau dari balik jaket hitamnya yang tersembunyi di dalam. Melihat apa yang dikeluarkan oleh Kai, Edo yang berdiri di sampingnya pun menenangkan apa yang ingin dilakukan oleh Kai.
“Kai tenang, ini bukan saatnya, gua minta masukin lagi, banyak orang yang ngeliat.” Edo.
“Engga Do, kalo engga sekarang, kapan kita ngabisin dia?”
“Masih banyak waktu Kai, kita harus sabar kalo pingin bunuh dia, kita harus pake otak.”
“Do tapi...”
“Gue ngerti, tapi kita butuh waktu yang tepat. Sekarang kita ke kampus.” 
“Tapi dia itu apel gue satu-satunya dan gue pengen banget nih ngupas apelnya.”
“Tetep tahan Kai rasa laper lo, gue juga merasakan hal yang sama dengan lo, gue ngerti kok.”
Kai merendam amarahnya di depan Edo, berpikir ini belumlah waktunya. Dan mereka berdua menyusul Jo dan teman-temannya ke kampus.

Bertempat di kantin kampus, Jo dan teman-teman satu bandnya sudah sampai di kampus mereka. Lelah cukup terasa saat tadi tampil di atas panggung, kini mereka ingin habiskan waktu untuk beristirahat sejenak. Sam, Rey dan Ken duduk di tempat yang sama. Eda duduk berdampingan dengan Ratna, kekasihnya. Begitupula Jo yang duduk saling berhadapan dengan Bunga, seseorang yang disayanginya. Sementara Didi tak ada di kantin ini.
“Gimana tadi manggungnya?” tanya Bunga yang duduk di depan Jo.
“Ancur kaya biasa.” Jo jawab dengan santai.
“Baguslah, kapan launching?” Bunga bertanya lagi sambil menikmati jus jeruk di atas mejanya.
Jo hanya tersenyum saat ditanyakan kapan meluncurkan album perdana band yang dia motorinya itu. Lalu Jo menjawab.
“Waktu yang sudah menentukan itu semua, tak lama lagi, kamu tenang aja. Aku udah siapin semua kok buat ngelamar kamu.” senyum Jo.
“Jo, aku ini nanya kapan launching album bukan kapan ngelamar aku.”
“Why? Engga salah kan, hidup ini engga usah dibuat rumit, enjoy aja. Lagipula rezeki itu engga kemana.”
“Au ah bolot! Emang engga kemana, but salah jugakan kalau menyia-nyiakan yang ada.”
“Bunga…” Jo memegang tangan bunga dengan kedua tangannya.
“Merayu lagi?” Bunga dengan menahan senyumnya.
Engga, aku butuh doa dan dukungan kamu, semoga band aku cepat launching album perdana, kenapa? Karena kamu adalah inspirasi aku saat membuatkan lagu.” tersenyum Jo.
“Itu yang aku omongin dari tadi Jo.” senyum Bunga.
“Ya udah yuk, hari ini aku engga ada kelas, kita jalan.” sambil menatap Bunga.
“Yuk, sama aku juga.”

Dari bangku lain, seseorang menatap tajam Jo yang sedang duduk bersama Bunga. Berpeluh amarah yang tergambar saat tangannya mengepal kencang rasa ingin tuntaskan dendam yang ada.
“Jo, cepat atau lambat band lo akan sukses, sama seperti yang pernah lo lakuin ke gue, tunggu tanggal mainnya Jo. Soalnya gue udah lama engga main bareng sama lo, Jo.”
Di ruang perpus kampus, Didi terpisah dari personil lainnya, dia masih dipusingkan jadwal bandnya itu. Dia menuliskan rincian-rincian dari setiap konser dan acara-acara yang akan dijalani Vision.
“Wah, mereka besok ada acara temu sama label terus lagi ada manggung di kutub utara sama selatan, apa Jo udah siap ya?” tanya Didi sendiri.
Sambil memegangi kepalanya, dia menghubungi Jo lewat hape. Berharap kali ini Jo mau bertemu dengan label yang akan menaungi band mereka.
“Jo…” Didi menghubunginya.
“Ada apa sih Di?”
“Besok kita ketemu label, gue harap lo jangan terima lagi.”
“Iya-iya, lo atur aja deh.”
“Jo! Selama gue yang ngatur rencana ini, apa pernah lo…!” Didi dengan kesalnya.
“Iya! Besok gue bisa, tenang aja!” Jo berbalik menabur amarahnya pada Didi.

Jo kemudian mematikan hapenya itu begitu saja, lalu membuangnya. Jo memang begitu, sekali pakai hape buat telepon langsung dibuang hapenya terus beli yang baru. Merasa seperti kacung, Didi memukul tangannya ke meja yang menjadi tempatnya menulis. Plak! Terdengar itu semua oleh orang-orang di perpus. Semua mata tertuju pada Didi.
“Lo kapan sih Jo bisa hargai kerja keras gue! Percuma kalo rencana yang gue buat cuma jadi angin lalu buat lo!” Didi sambil menggerutu.

Didi lalu keluar dari perpus dengan perasaan kecewanya, dia beranjak dari perpus ke kantin. Saat berjalan menuju kantin, tak sengaja dari kejauhan dia melihat Jo dan Bunga sedang senyum-senyum berdua, berjalan mesra sambil berpegangan tangan.
“Sementara lo sama ceweklo seneng-seneng, gue? Gue jomblo Jooooo.” Didi dalam hati.
Sampai di kantin, Didi bertemu dengan anggota band lainnya, dia langsung saja terus terang. Begitu dia duduk di bangku kantin, sambutan hangat dia terima tak seperti sang vokalis itu.
“Malam ini kita kumpul, besok ada acara penting yang harus kalian hadiri.” Didi pada yang lain.
“Ok.” ucap serentak yang lain.