Thursday, January 28, 2016

Coklatshit 5

Cerita sebelumnya Coklatshit 4

Di malam sabtu yang dingin, Coklat berteman sepi. Dia lagi duduk-duduk aja di depan rumahnya sambil berharap ada cewek cantik yang lewat, tapi itu hanyalah sebuah harapan palsu, engga ada satu pun cewek cantik yang lewat depan rumah Coklat, kasihan.
Dalam kesendiriannnya itu Coklat membayangkan sosok Bu Riny yang dirasa tepat untuk mengisi kekosongan hatinya. Kasihan ya Bu Riny disuruh mengisi kekosongan hatinya Coklat.
Waktu semakin malam, Coklat bergegas pindah dari teras rumah menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamarnya, terbesit sebuah ide untuk menuliskan selembar puisi untuk Bu Riny. Puisi itu mengungkapkan betapa kagumnya Coklat kepada Bu Riny sejak pandangan pertama, kira-kira dia bisa engga ya buat puisinya?
“Bisalah!” tegas Coklat.
***


Kini di hari sabtu pagi Coklat dan Ival sudah sampai di kelasnya. Mereka sudah duduk rapih di bangku dengan wajah yang berlekuk oleh senyuman. Di jam pertama, mereka berdua kembali bertemu dengan Bu Riny. Bel tanda masuk telah berbunyi, dan Bu Riny masuk ke kelas ini. Kali ini tampak sekali wajah murung dari Bu Riny, di tangannya terdapat goresan luka akibat dia terjatuh dari sepeda motor yang dikendarainya. Terus mobilnya kemana? Mobilnya lagi diservis di bengkel. Dia masuk ke kelas dan kemudian duduk di bangku depan. Melihat ada luka di tangan Bu Riny, Ival bergegas bertanya pada Bu Riny.
“Ibu kenapa kok tangannya pada luka begitu?” tanya Ival sok perhatian.
“Iya nih Val, tadi pagi pas berangkat ke sekolah, ibu jemping bawa motor.”
“Wah ibu ternyata kuat ya bisa bawa motor.” celetuk Coklat.
“Haduh, maksud ibu motornya dikendarai nak.”
“Cepat bawa ke klinik itu motornya, biar dikasih obat!” teriak Ival.
“Hadooohhhh kamu ini Val, ibu yang sakit, ibu yang lecet, ibu yang seharusnya diobati.”
Bu Sabar bu ya, Bu Riny harus kuat dengan mereka tapi terserah Bu Riny aja dah mau dibunuh juga engga apa-apa, orang ngeselin kaya mereka berdua mah.
“Oalah, kebalik toh bu.” ucap Ival serasa tak berdosa.
“Tapi kan kasian motornya juga bu, apalagi kalo motornya masih kredit. Rasanya itu ngenes, belum lunas belum apa eh udah lecet duluan.” kata Coklat.
“Iya juga sih tapi lebih penting orangnya lah diobatin, emang kalo kamu terbalik, merasa gimana?” tanya Bu Riny.
“Kalo terbalik, kaki jadi di atas kepala jadi di bawah, masa gitu aja engga tau bu?” celetuk Coklat.
“Haduh.”

Wajah ceria urung disematkan Bu Riny, tampaknya luka yang dia derita membuatnya tidak bisa mengajar hari ini. Untung tak bisa ditolak rugi harus pergi itulah kata yang tepat untuk Bu Riny, disaat bersamaan ada dua orang laki-laki paruh baya memasuki kelas ini. satu lelaki berpenampilan rapih dengan menggunakan jas dan berkumis, satu lagi agak berwajah tua tapi tidak berkumis dan memakai sebuah peci. Dua laki-laki berjalan di depan kelas mendekati Bu Riny.
“Hey, anda siapa berani-beraninya deketin Bu Riny! Sini kalo berani!” ucap tegas Coklat sambil berdiri menunjukkan jarinya ke arah dua lelaki itu.
Lelaki yang berkumis itu lalu memandangi Coklat dengan tatapan serius.
“Coklat, kamu engga usah marah, ini kan pak kepala sekolah.” ucap Bu Riny.
“Hah? Maaf pak… maaf pak, saya engga tau.” ucap Coklat dengan menundukkan badannya.

Coklat kemudian duduk kembali. Kemudian pak kepala sekolah memberikan pengumuman kepada siswa yang ada di dalam kelas. Entah apa itu pengumumannya, yang jelas Coklat dan Ival tidak bisa menerima kenyataan yang pahit baginya.
“Maaf anak-anak semua. Hari ini Bu Riny tidak bisa melanjutkan untuk mengajarkan kalian, karena beliau harus diobati, bapak harap kalian mengerti, mengerti semua?”
“Tidaaak!” serentak siswa menjawab.
“Kenapa?”
“Karena hanya Bu Riny yang bisa mengerti perasaan kami pak, apalagi dikala susah dan sedih... uh... uh... Dia itu selalu menyemangati kami, memelihara kami dengan cinta dan kasih sayangnya.” kata Coklat.
Mendengar kata-kata dari Coklat Bu Riny pun terbang melayang, perasaannya berbunga-bunga seperti bunga Sakura yang sedang bersemi.
“Aduh!” ucap Bu Riny yang barusan terbang terus kepentok atap kelas.
“Kenapa bu?” tanya kepala sekolah.
“Ini lho, kata penulisnya saya disuruh terbang pak, eh kepentok atap.”
Waduh, kok penulis malah disalahin. Bu Riny-Bu Riny anda itu terlalu polos, maksudnya melayang itu perasaannya gembira, huuuuh sorakiiin.

Bu Riny pun meninggalkan kelas ini bersama kepala sekolah dan meninggalkan guru pengganti untuk siswa kelas ini. Terlihat wajah-wajah mereka bersedih melihat Bu Riny tak mengajar. Wajah mereka ada yang memble, ada yang berubah juga jadi jelek dan ada juga yang memainkan benda kental naik turun naik turun di lubang hidung.
“Bu Riny jangan tinggalin aku…” ujar Coklat.
Bu Riny tak menoleh ke arah Coklat, Coklat pun bersedih.
“Sabar ya sob.” ujar Ival sambil mengelus-elus pundak Coklat.
“Val, rasanya gue ingin bunuh diri aja deh kalo engga di ajarin Bu Riny.”           
“Ya udah sana lo bunuh diri.”
“Engga jadi deh, gue pikir lo bakal ngelarang gue.”
Sang guru pengganti pun bersiap mengajari siswa kelas ini. Beliau duduk di atas bangku, kali ini engga salah sebutkan? Sebelum memulai pelajaran matematika yang akan guru itu berikan, beliau mengabsensi para siswanya terlebih dahulu.
“Bagi nama yang bapak sebut, diharapkan bersuara ya menjawab.” ujar sang guru lelaki itu.
“Iyaaa paaak!” serentak siswa menjawab.
“Coklat!” lantang suara pak guru.
“Hadiiir!” lantang pula Coklat menjawab.
“Yang namanya Coklat tolong jawab hadir.” ucap pak guru.
“Iya paaak, saya yang namanya Coklaaat!” teriak Coklat.
Meskipun Coklat sudah berteriak pak guru itu tetap santai menjawabnya seperti ini.
“Sepertinya yang namanya Coklat tidak masuk hari ini, ada yang tau dia kemana?” ucap pak guru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Busyet dah, saya pak yang namanya Coklaaat!” teriak Coklat kembali.

Si Coklat rupanya sudah merasa kesal ucapannya diabaikan oleh pak guru. Karena merasa kesal Coklat pun berdiri dan berjalan mendatangi pak guru yang sedang duduk di depan.
“Pak saya yang namanya Coklat!”
“Kamu siapa?” tanya pak guru.
“Saya Coklat pak!”
“Iya tenang, nanti kamu bakal diabsen juga kok, sabar ya.” senyum pak guru.
“Saya yang namanya Coklat pak, yang tadi bapak absen!” Coklat mulai ingin menangis.
“Iya bapak tau, nanti juga kamu bakal diabsensi sama bapak, silahkan duduk kembali.”
“Et dah si bapak, tadi nama saya udah dipanggil sama bapak, saya Coklaaaaaat‼!” Coklat pun berteriak.
Sabar ya Coklat sama guru seperti itu. Melihat Coklat yang memerah di depan pak guru, Ival sebagai temannya pun turut maju menenangkan Coklat.
“Kamu siapa?” tanya pak guru.
“Saya temennya Coklat pak.” jawab Ival.
“Silahkan ya tapi jangan lama-lama ke wcnya.” ujar pak guru.
“Hah? Siapa yang mau ke toilet pak?” Ival melongo.
“Tuhkan Val, ini guru ngeselin banget!” Coklat merintih kesal.
“Kamu juga mau ke wc? Engga bisa, satu-satu kalo mau ke wc, jangan bersamaan nanti dikira main anggar.” ucap pak guru.

Melihat Ival dan Coklat yang sudah mulai kesal sama pak guru yang satu ini, ada seorang perempuan teman satu kelas mereka yang bernama Sweety. Perempuan yang anggun dan manis ini berjalan mendekati pak guru, suara halusnya terdengar sampai ke telinga pak guru.
“Pak guruuu…” alunan nada manja perempuan itu menyebut pak guru.
“Iya kenapa?” jawab pak guru.
“Ini pak, dia ini yang namanya Coklat.” ujar perempuan itu tersenyum sambil nunjuk Coklat.
“Oh ini toh si Coklat, ngomong dong dari tadi.” ucap santai pak guru.
“Dari tadi pak udah ngomong, bapaknya aja yang engga denger.” ucap Coklat sambil manyun.
Ternyata pak guru yang satu ini baru ngeh ketika ada seorang siswa cantik yang menghampirinya, dasar!
“Kalo yang ini?” pak guru nunjuk Ival.
“Saya Ival pak.”
“Iya, iya kamu siapa namanya? Jawab.”
“Ival paaak!” teriak Ival.
“Aduh, kamu ini nak. Bapak kan menanyakan nama kamu, kenapa kamu jawab alamat? Aneh kamu ya.”
“Bapak yang aneeeh!”
Sekarang giliran Ival yang urat suaranya hampir putus karena ucapannya engga di dengar sama pak guru yang satu ini, sabar ya Val. Melihat itu, Sweety langsung berbicara lagi kepada pak guru.
“Pak guruuu, nama dia Ival.” ucap perempuan itu sambil tersenyum.
“Oh Ival, ngomong dong Val, jangan diam saja.” tandas pak guru.
“Dari tadi saya udah ngomong pak, bapaknya aja yang engga denger.”
“Kalo kamu sendiri siapa namanya?” tanya pak guru pada siswa perempuan itu.
“Nama saya Sweety pak.”
“Oh pantes, manis kayak orangnya. Ternyata namanya Sweety toh.”
Wajah kesal terlihat dari Ival dan Coklat, gimana engga kesel kalau sama perempuan cantik aja pak guru langsung nyambung.
oh Sweety


Pak guru pun mulai mengabsensi kembali satu persatu siswa dalam kelas ini. Karena semua sudah pada tau kalau guru mereka itu agak, agak ya gitu deh maka Sweety yang menjawab absensi mereka yang dipanggil namanya.
“Tiar.”
“Itu dia pak orangnya.” jawab Sweety sambil menunjukkan jarinya ke Tiar.
Berkali-kali Sweety menjawab seperti itu.
“Bagus.”
“Itu dia pak.”
Sampai-sampai dia jadi bosan.
“Jarwo.”
“Itu dia.” ujar Sweety sambil menadangkan kepalanya di atas telapak tangan.
Sampai-sampai juga muka Sweety berubah jadi Raisa.
“Sueb.”
“Itu.” ucap Sweety sambil nunjuk orang yang disebut.

Seusai mengabsensi siswa kelas ini, pak guru pun bersiap memulai pelajaran. Pak guru mengambil sebuah buku pegangan dalam tasnya. Sebelum pak guru menyampaikan materi, dia sejenak bertanya kepada siswa dalam kelas ini tentang materi kemarin yang dipelajari.
“Hari ini bapak akan jelaskan trik perpangkatan bersatuan lima, ini khusus untuk bilangan bersatuan lima. Misalkan berapa hasil 65 pangkat dua, pasti hasilnya 4225. Bagaimana caranya? Caranya adalah angka yang ada di depan 5 itu dikalikan angka sesudahnya, angka di depan 5 itu adalah 6, sesudah angka 6 itu adalah angka 7 maka kalikan saja 6 dengan 7 dan hasilnya 42. Selanjutnya angka satuan 5 ini dipangkatkan maka menjadi jendral, eh bukan, angka 5 ini dikuadratkan maka hasilnya 25. Jadi tinggal tauh saja angka 42 dilanjutkan dengan angka 25 maka hasilnya 4225. Mengerti semua?”
“Engga pak.”
“Bagus, bapak tes ya. Berapa hasil 35 pangkat 2?”
“1225 paaaak!”
“Salah, yang benar itu 1225. Ok berapa hasil dari 995 pangkat 2?”
“Engga tau paaaak!”
“Iya benar jawabannya, 990025.”
“Haaaah!”
Gubrak! Entahlah itu suara apa, yang jelas seluruh siswa pada jatuh dari tempat duduknya. Dikarenakan para siswa tidak kuat menghadapi guru mereka yang seperti ini, ada yang nangis-nangis, ada yang menjerit, ada yang muntah juga, bahkan ada yang melambaikan tangan ke kamera, haduh acara apa ini.
“Emaaaa tolongin Coklat nih, gurunya engga enak banget huhuh.”
Dengan keadaan seperti itu maka dengan segala hormat ceritanya dipercepat, pelajaran pun disudahi dan mereka pun istirahat.


Sunday, January 24, 2016

Tahun Baruan Di Bulan

Selamat tahun baru 2015, maaf jika saya terlambat satu tahun untuk mengucapkannya sob.
Di pergantian tahun baru sob biasanya orang-orang itu nonton konser, nonton ledakan kembang api atau nonton konser yang diledakin kembang api. Beda sama saya sob, di malam pergantian tahun itu saya bingung, bingung mau kemana. Teman-teman saya pada pergi sama gandengannya macam kereta gandeng, truk gandeng buat nikmatin acara malam tahun baru. Sebenarnya sih ada niatan buat ngajak pacar nonton kembang api, kembang api yang seribuan. Namun setelah saya terka-terka saya rupanya tidak punya pacar sob, herankan cowok setampan saya masih single. Tidak punya pacar bukan merupakan beban buat saya sob, tapi merupakan beban banget. Lagipula sob, pacaran itu diharamkan sob, tidak ada dalil yang mengatakan seorang boleh pacaran sob, gimana ya kalo seorang pacaran? biasanya yang pacaran itu dua orang sob bukan seorang.
Balik lagi keacara malam tahun baru. Tepatnya pada tanggal kamis hari 31 desember 2015 itu saya memutuskan untuk pergi ke bulan sob, kalo pergi ke puncak, pantai, villa, mall itu udah biasa. Udah biasa bagi orang lain sob bukan saya. Awalnya saya bingung mau naik apa ke bulan. Akhirnya saya pikir-pikir, saya memutuskan untuk terbang langsung ke bulan. Perlu anda ketahui sob, saya pernah jadi muridnya superman. Saya diajarin gimana caranya terbang, alhasil lima tahun berguru sama superman, saya tetep engga bisa terbang sob.
Karena jarak yang cukup jauh dari bumi ke bulan, saya membutuhkan waktu satu detik untuk sampai ke sana, alhasil saya pun sampai tidak dengan slamet.
Di bulan itu sob, tanahnya berwarna kuning kekeju-kejuan. Penduduknya juga ramah-ramah sob, dan bangunan di permukaan bulan tidak kalah megah dengan bangunan-bangunan di bumi sob. Selain itu dibandingkan manusia bumi, makhluk di bulan itu tinggi-tinggi sob. Saya saja yang tingginya 166 cm hanya beda 1 cm lebih rendah dari makhluk bulan, lebih tinggi kan.
Penasarankan sama makhluk bulan itu seperti apa? Bener penasaran nih? ok dah kalo penasaran, maaf saya tidak bisa memberikan pict makhluk bulan itu seperti apa, karena mereka itu tidak ingin difoto sob, ya sudahlah daripada saya ribut sama makhluk bulan dan itu juga demi keselamatan penduduk bumi, maka saya mengalah.
Jika penduduk di bumi itu sudah ramai untuk menyambut tahun baru, ada hal berbeda yang saya rasakan ketika di bulan. Suasana menjelang tahun baru di sana sob, sepi. Saya pun bertanya kepada makhluk di bulan, takutnya yah malam pergantian tahun baru di bulan itu sudah lewat.
Saya                            : $#@^%* *&^^$##&* (**^^$*(( ^^$&()^^#% ?
Makhluk Bulan         : *()(&&%^* (*(*^&( (&*^$*&((^^&) *^&*%*#(&)&%^$^ ^*&^%(^(^’
Saya                            :_)()(*_*_^& *(&(*&%#$ (*)(*&)^&*&) $##%*& *(&(*&
Makhluk Bulan         : )_U(&*(&&*(^5 $#%*
Saya                            : Ok
Mungkin sobat semua ngerti ucapan saya di atas, tepat sekali. Kata makhluk bulannya, malam pergantian tahun barunya sudah lewat setahun yang lalu sob. Saya pun dirundung kesedihan mendalam, menyiksa batin, melukai hati, menyesakkan jiwa jika kedatangan saya pada waktu itu terbilang percuma sob. Saya memutuskan untuk kembali ke bumi. Saya bersiap terbang…
Gruduk doar bletak toeng toeng nyiiiiit kedebug!
Sebelum saya memutuskan terbang sob, saya melihat ke belakang saya jika gedung-gedung di permukaan bulan ini sudah hancur terbakar sob, selain itu sob para penduduk bulan pun lari berhamburan menyelamatkan diri. Saya menoleh ke belakang sob, saya terkejut sob ketika melihat sosok Freiza terbang mendekati saya sob. Bagi yang suka nonton dragon ball pasti tau dia siapa.

Saya takut sob, entahlah saat itu tak ada kata-kata lagi yang terucap dari mulut saya ini sob. Lalu Freiza bertanya kepada saya sob.
Freiza                         : Aku adalah Freiza, penguasa alam semesta ini. kau makhluk bumi, sedang apa kau di bulan?
Saya                            : Liburan, Za
Tak disangka sob, dia mencoba mengeluarkan laser dari telapak tangannya. Lasernya itu pun ditujukan kearah saya sob. Badan saya bergemetar sob, saya pasrah dan mungkin itu adalah akhir dari hidup saya sob. Dalam kondisi yang sudah tidak karuan, tiba-tiba terucap dua kata dari mulut saya sob.
Saya                            : Freiza! Hancurlah!
Dooooar! Sebelum Freiza ini menembakkan lasernya ke saya sob, dia sudah hancur lebur duluan. Dia tewas gara-gara dua kata yang saya ucapkan barusan sob. Saya lega waktu itu, dan tidak menyangka juga jikalau saya bisa mengalahkan Freiza dalam sekejap saja. Luar biasa sekali. Selepas dari itu saya pun langsung terbang kembali ke bumi sob, saya tidak ingin makhluk bulan tau kalau saya ini yang sudah membunuh Freiza.



Tuesday, January 19, 2016

Dia Memeluknya Penuh Cinta

Di kediamannya, dalam sebuah kamar ada rindu saat lelaki berusia duapuluh tahun melihat sebuah bingkai foto. Foto yang melukiskan kebahagiaan dia bersama ayah, ibu dan adik perempuannya itu. Rindu yang memanggil kenangan sekian lama tak bersua dengan adiknya tercinta, sementara ayah dan ibunya sudah lama tiada. Suara hatinya terpanggil untuk bertemu dengan adiknya kembali, setelah sekian lama berbalut dengan kuliah dan berbagai jenis kesibukan lainnya.
“Udah dua tahun gua engga ketemu sama lo sejak lo lulus SMA dulu, abang kangen sama lo, abang pingin kita bisa kumpul lagi setelah nyokap sama bokap udah engga ada. Sekarang pastinya lo udah gede, ya sih memang kita masih saling komunikasi lewat hape, tapi itu engga bisa ngobatin perasaan rindu abang sama lo.” ucap pria itu sambil menatap foto yang dipegangnya.
Tau kenapa ayah dan ibunya telah tiada? Karena saya tidak menemukan peran untuk ayah dan ibunya, sok jadilah seperti itu ceritanya. Saya sebenarnya sih sudah melakukan casting beberapa kali, tapi tidak ada yang cocok. Saya inginnya ayahnya itu berjenis kelamin perempuan, dan ibunya berjenis kelamin laki-laki, namun sayangnya tak ada yang mau, ya sudahlah.

Usai melihat bingkai foto yang membawa sebuah kenangan tentang masalalu, dia berdiri melihat suasana sunyi dari balik jendela kamarnya. Suasana yang sunyi semakin dalam baginya untuk bertemu dengan sang adik, lalu dia mengambil sebuah telepon genggam dari saku celananya. Dia menghubungi adiknya itu lewat sebuah telepon genggam.
“De…” ucapnya.
“Iya bang, ada apa?” jawab sang adik.
“Malam ini lo ada di rumah, gua pengen main ke sana.”
“Ada bang, abang kangen ya? Hehe.”
“Iya… gua kangen pingin ketemu sama lo. Abang pengen pacaran sama lo.”
“Kampret bang! Gue ini ade lo!”
“Sial! Kenapa yang bikin cerita engga jadiin lo pacar gue malah ade gua?! Padahalkan lo cantik banget.”
“Makasih bang. Ya udah bang kalo abang mau maen ke sini, maen aja, malam ini ade ada kok.”
“Jangan kemana-mana lo pas gua ke sana, entar ngilang lagi pas gua ke sana.”
“Iya bang engga, kapan lagi sih abang main ke sini, lagian kan udah lama juga kita engga ketemu, um… tapi abang bawa martabak ya hehehe.”
“Hehehe iya, tenang aja bahkan gerobak-gerobaknya kalo lo pingin gua bawain.”
“Bawa gerobaknya doang, martabaknya mah engga.”
“Ya udah, sampai ketemu nanti ya.”
“Iya bang.”

Dia sudahi perbincangan lewat hapenya. Perasaan rindu kepada adiknya tercinta yang membuat dia semangat untuk menjalani semua yang kini dia hadapi. Dia lalu merapihkan diri bersiap ke tempat adiknya itu.

Di dalam sebuah mobil ini, pikirannya terus tertuju pada sang adik satu-satunya itu. Melewati suasana malam yang masih banyak orang-orang berlalu lalang. Di sebuah taman jajan, dia berhenti untuk membeli martabak kesukaan adiknya. Dia turun dari mobil yang dikendarainya menuju penjual martabak di pinggir jalan.
“Mas, martabak telur spesial satu ya.” pesannya.
Sambil menunggu martabak yang dia pesan, dia duduk-duduk di sebuah bangku yang telah disediakan sambil memainkan hapenya. Dia mengirim sebuah pesan untuk yang di sana.
“De, kalo gua dah sampe jangan lupa sediain makanan yang banyak buat gua.”
Dia mengirim sebuah pesan pada adiknya itu. Semenit berlalu, dua menit berlalu dan tiga menit berlalu tak ada balasan pesan dari adiknya itu.
“Yah engga ada pulsa dia.” ujarnya.
Tak menunggu waktu lama, martabak yang dipesannya pun sudah matang.
“Ini dek.”
“Berapa mas?”
“Dua puluh ribu.”
“Yah mahal amat, satu juta dah.”
“Ok.”
“Ini, makasih ya.” seseorang itu membayar martabaknya.
“Sama-sama.”

Selepas menerima martabak, dia kembali masuk ke dalam mobilnya. Melanjutkan perjalanan ke rumah sang adik tercintanya itu. Tiga puluh menit dalam perjalan, akhirnya dia sampai di kediaman adiknya itu. Usai turun dari mobilnya yang dia parkir di depan rumah yang berwarna hijau. Dia pun mengetuk pintu rumah ini. Tok… tok… tok… sesekali mengetuk pintu tak ada jawaban yang terdengar dari orang dalam.
“Kok belum dibuka ya pintunya?”
Rasa penasaran membuatnya kembali mengetuk pintu rumah ini. Tok… tok… tok… namun hal sama kembali terulang. Tak ada jawaban yang di dapat oleh lelaki itu. Sekali lagi dia mencoba mengetuk pintu.
“Ayo dong de buka pintunya, ah lo ngayab lagi nih.” pintanya dalam hati.
Berulang kali dia mengetuk pintu namun tak ada sepatah katapun yang terlontar dari adik perempuannya itu. Lalu dia mengambil hapenya yang tersimpan di dalam saku, menghubunginya lewat sentuhan layar tipis itu.
“Angkat dong de.” harapnya.
Tuuut… tuuut… tuuut, berkali-kali dia mencoba untuk mengubunginya kembali tapi tetap sama, tak ada jawaban dari adiknya itu.
“Apa mungkin dia pergi?” katanya dalam hati.
“Masa pergi engga ngomong-ngomong dulu sama gua?” lanjutnya.
Akhirnya setelah lama menunggu keluarlah seseorang dari rumah itu. Tokoh utama yang belum disebutkan namanya ini terkejut melihat orang lain dengan memakai celana di badan, dan baju di kaki.
“Siapa lo?!”
“Pemilik rumah ini.”
“Ini kan rumahnya Sinta!”
“Rumahnya Sinta yang disebelah mas.”
“Oh maaf.”

Pria itu pun lalu meninggalkan rumah itu dengan perasaan gedek, gedek aja gitu kok bisa salah rumah. Dia kini sudah berdiri di depan rumah adiknya. Tepat di depan pintu rumah sang adik, dia pun mengetuk. Beberapa kali mengetuk pintu, tak ada jawaban dari sang adik, hingga akhirnya, tak sengaja tangannya memegang gagang pintu, lalu terbuka perlahan-lahan tanpa dia sadari.
“Lha pintunya engga kekunci?”
Melihat pintu rumah yang tak terkunci, dia pun lalu masuk ke dalam. Dia terus memanggil nama adiknya itu.
“Sinta… Sinta…” panggilnya.
Lagi-lagi tak ada jawaban yang dia dapatkan. Dia mencari ke sana-kemari, menjelajah setiap ruangan yang ada, mulai dari dapur, kamar mandi, ruang keluarga, sampai gudang namun tak sekalipun dia temukan adiknya itu. Langkahnya terhenti, ketika dia melihat pintu kamar yang melongo begitu saja.
“Kamarnya kebuka sendirian?”
Melihat kamarnya yang terbuka sendiri, dia pun masuk ke dalam kamar adiknya itu. Terlihat barang-barang milik adiknya itu berantakan semua.
“Tumben berantakan?”
Ketika dia menoleh ke samping kirinya. Bungkusan martabak yang dia pegang tiba-tiba terlepas jatuh dari tangannya. Matanya melotot memandangi apa yang dia lihat di depannya.
“Sinta?” ucapnya dingin.
“Sinta…!” lalu dia berteriak.
Dia berteriak melihat adiknya yang sudah tergelantung oleh tambang di dalam kamarnya. Penuh darah di setiap bagian tubuh adiknya itu, terpasang wajah adiknya pilu, menatap dingin, pucat pasi.
“Buruan bang turunin gue, gue udah engga kuat lagi nih diiket.”
“Lah lo kan ceritanya mati neng, masa bisa ngomong.”
“Oh maaf bang.”
 Diceritakan memang Sinta ini tewas. Tanpa pikir panjang dia langsung melepas tali yang mengingat kepala adiknya itu. Penuh airmata mengalir saat dia memeluk adiknya tercinta.
“Sinta… kenapa bisa begini? Uh… uh… uh… padahal hari ini gua ingin membagi cerita bahagia sama lo, namun yang terjadi… Siapa yang udah melakukan ini semuaaa!”
Entah siapa yang tega membunuh Sinta? entah pula dia dibunuh atau bunuh diri gara-gara kakaknya suka sama dia?
Sang kakak pun memeluk adiknya penuh cinta bersimpuh airmata…
“Udah apah meluknya, set dah lo bisa aje cari kesempatannya.”
“Biar dramatis.”




Thursday, January 14, 2016

Zhie dan Kawan-Kawan



Zhie dan Om Jin
Jin       : kuberi kau kasih satu permintaan
Zhie    : ya udah aku cuma minta permintaanku dijadiin seribu permintaan, boleh?
Jin       : a… a… anu.. ya udah deh boleh (kampret! Nyesel gue kasih permintaan ke lo)
*
*
Putus
Zhie                : yank
Ceweknya      : apa?
Zhie                : pala lu pe yank
Ceweknya      : kita putus!
Zhie                : oh no
*
*
*
Tebak Lagu
Suatu hari dimedsos, Zhie menulis status via fb
Zhie               : tebak-tebakan kalo yang jawab bener berarti pemenangnya coba tebak ini lagu apa “na na na na naaaa na naaaaaa”
Danker           : Lagu Nikita Willy.....Lebih dari Indah…
Zhie               : Salah
Danker           : Horeee
Zhie               : Anda gugur
Danker           : Tidaaaak!
Ikdar              : Lagu nanananana
Zhie                : Salah
Nyamuk         : Itu bukan lagu
Zhie                : Salah
Beti                 : Laguku
Zhie                : Salah
Satria              : Ah serah lo deh
Zhie                : Salah
Ririn               : Salah semua, mendadak bisa darah tinggi nih
Zhie                : Salah
Coklat             : Ikutan dong kakah
Zhie                : Boleh, ya apa jawabannya?
Coklat             : Bener
Zhie                : Selamat anda pemenangnya horeee
Ririn               : What!? Dih lagu apaan yang judulnya bener?
Zhie                : Kalo yang jawab bener berarti pemenangnya ß Liat nih hahaha
Ririn               : Kupreeeet!
*
*
*
Gara-Gara Batu
Suatu pagi zhie sedang berjalan sendiri menuju sekolahnya, namun ketika sampai di tengah jalan dia kesandung batu dan terjatuh
zhie                 : aduwh!
Danker           : napa zhie? (dari jauh)
Solekin           : lu kenapa vroh? (dari jauh juga)
Zhie    : ini gw kesandung batu
merasa engga senang dengan perlakuan batu itu, zhie lalu menginjak-injak batu tersebut
zhie                 : rasain lo!
Danker           : gue bantuin zhie! (danker berlari buat bantu zhie nginjek batu)
Solekin           : iya, gw ikut bantu (solekin sama)
tukang bakso : gw ikut!
tukang somay: mana batunya! gw injek mpe kerempeng dy
tukang ojek   : sini gw juga ikut (turun dari motor)
tukang bubur : gw juga ikut dong
Ronaldo         : Estou bem vinda (dia langsung terbang dari spanyol menuju indonesia cuma buat bantuin zhie)
Messi              : Estoy llegando a lo largo de (sama kayak ronaldo)
Rooney          : I am coming along (rooney rela terbang dari inggris ke indonesia cuma mau nolongin zhie)
Valentine Rossi: Vengo lungo (rossi langsung terbang dari Indianapolis seusai balap motogp ke indonesia cuma buat nolongin zhie)
bagh bugh bagh bugh, mereka beramai~ramai menginjak batu yang membuat zhie jatuh. batupun hancur, zhie pun senang

zhie                 : rasakan itu batu hahahaha!